
Arsen benar benar tidak punya hati, disaat orang lain ingin berbakti kepada keluarganya Arsen malah sebaliknya, dia dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan Wira yang disiksa dengan caranya sendiri. Dia sudah berada disini dalam waktu dua jam, Arsen mengecek jam tangannya dan tiba tiba dia langsung teringat dengan Arini di rumah. Arsen merogoh saku jas nya dan mengambil ponselnya. Tapi kemudian Arsen menemukan banyak panggilan tak terjawab dari Max. Perasaan Arsen tidak nyaman, dia benar benar khawatir takut terjadi sesuatu dengan Arini. Felix yang berada di samping Arsen sadar kalau saat ini tuannya merasa gelisah. "Ada apa tuan?' tanya Felix.
Arsen tidak menjawab dia langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi ke luar. Arsen ingin cepat cepat pulang untuk memastikan keadaan Arini. Klik, Arsen masuk ke dalam mobilnya dan segera memakai sabuk pengaman tapi ternyata ban mpbil Arsen bocor, Arsen merasa geram kemudian meninju setir kemudinya dengan tangannya. "Sial, kenapa mobil harus bocor dalam keadaan seperti ini" gumam Arsen. Tak kehilangan akal akhirnya Arsen meminta dijemput oleh seseorang, dia tidak punya waktu lagi untuk mencari taksi karena Arsen tidak mau ribet.
Arsen menunggu seseorang datang sambil duduk di atas mobilnya, demi apapun juga Jika dia bisa terbang maka Arsen pasti akan terbang sekarang juga, tapi nyatanya dia tidak bisa melakukan apapun. Tinn Tinn Tinn, suara klakson mobil mengejutkan Arsen. Dia langsung mengangkat sebelah alisnya ketika melihat mobil asing yang tiba tiba mengklaksonnya tadi. Pintu jendela mobil itu terbuka dan nampak lah siapa orang yang berhasil mengganggu konsentrasinya tadi.
"Linda" Gumam Arsen.
Yah orang yang mengklakson tadi adalah Linda, Wanita yang dulunya sangat tergila gila dengan Arsen, bahkan sampai sekarang pun dia masih menyukai Arsen, hanya saja Linda yang sekarang sudah tidak segila dulu. Perlahan lahan Linda sudah bisa melupakan Arsen, rasa sukanya juga tidak begitu besar seperti dulu semasa ia bekerja bersama Arsen. Linda turun dari mobil kemudian berjalan menghampiri Arsen. "Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Linda dengan sedikit canggung.
Arsen tidak menjawab dia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak ingin Linda semakin menyukainya dan menjadi terobsesi lagi dengannya. "Tenang saja, aku sudah tidak menyukaimu lagi kok. Meskipun masih ada secuil rasa tapi itu bisa kuatasi" Linda melihat wajah Arsen dari samping, hanya pria itu yang berhasil menjadikan Linda seperti sekarang. Linda yang sekarang dengan Linda yang dulu sudah sangat berbeda. Sekarang Linda sudah tidak pernah lagj masuk ke dalam dunia malam, dia sudah menjadi wanita baik baik sejak ada seseorang yang dulunya pernah menyadarkannya.
"Aku pergi" Arsen beranjak berdiri karena tiba tiba orang suruhannya sudah datang menjemputnya. Tapi sebelum pergi Arsen sempat menoleh ke belakang dan menatap Linda. "Kamu lebih baik dari yang dulu" komentar Arsen dan masuk ke dalam mobilnya. Linda yang mendapat pujian seperti itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk, sekarang cintanya sudah berakhir disini mulai besok dan seterusnya Linda tidak yakin dia masih bisa bertahan di dunia ini. Linda menghapus air matanya lalu dia juga ikut pergi.
.
.
BRAAKKKKKKKKK Max dan James dikagetkan oleh sebuah dobrakan pintu, Max menggelengkan kepalanya, padahal pintunya saja tidak terkunci kenapa Arsen harus mendobrak pintu terlebih dahulu.
"Dimana Arini?" itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Arsen setelah tiba disana. Max hanya berdecih melihaf kedatangan Arsen. "Dia baru saja tertidur, tadi perutnya sempat kram dan dia menangis" jelas Max secara singkat pada Arsen. Seandainya Max berani dia pasti akan mengungkapkan semua nama binatang yang mirip dengan Arsen. "Ah iya Max kalau begitu aku permisi dulu, ini adalah resep obat yang harus ditebus di rumah sakit. Sampai jumpaا lagi" James melewati Arsen sambil melemparkan senyumannya, tentu saja Arsen tidak bereaksi. Dia diam seperti es patung yang membeku di daerah salju.
"Aku keluar sebentar" Max membuka gagang pintu dan keluar. Dia memberikan waktu untuk Arsen agar dapat menjaga istri kecilnya itu. Arsen melepas Jas nya dan hanya menyisakan kemejanya. Dia duduk di samping kasur arini sambil terus menatapi wajah damainya saat tidur. Arini tidur bergerak, tangan Arini tidak sengaja menyentuh celana Arsen yang tepat pada bagian pisangnya. Arsen membulatkan matanya ketika miliknya diremes remes oleh Arini dalam keadaan tertidur. "Aku benci Daddy, kalau sampe dia pulang aku akan membuatnya seperti ini"
"Huffftt ternyata dia mengingau" Arsen berusaha melepaskan tangan Arini dari miliknya tapi sayangnya Arini tidak mau melepasnya. Arsen menghela nafasnya lalu mengangguk daripada Arini hanya bisa memegangnya saja,.