
Arsen dan Arini saling berpandangan satu sama lain kemudian Arini melihat ke arah Shila lagi. "Kamu yakin?" tanya Arini memastikan. Dia antara terharu atau speechles melihat bagaimana seorang sahabatnya yang berniat untuk membuat panti asuhan. Shila ingin merawat anak anak yang terlantar di jalanan dan tidak punya orang tua. "Sebenarnya dana nya sih masih kurang? Tapi gue sama kak Dani juga berusaha untuk mencari dana tambahan. Kita juga berusaha meminta sumbangan dari publik siapa tahu mereka juga ingin menyumbangkan sesuatu" ucap Shila. Dani tersenyum pada Shila, dalam hal ini dia mendukung Shila seratus persen. Bahkan Dani juga ikut menyumbang walaupun jumlahnya tidak seberapa. "Berapa kurangnya?" tanya Arsen. "Hanya lima puluh juta saja om, karena hasil dari aku sama kak Dani juga sudah dapet lima puluh juta. Dan kami hanya butuh seratus juta untuk membangun panti asuhannya" Arsen mengangguk kemudian meletakkan bayi nya dan pergi sebentar. "Gue juga bakal ngedukung niat baik lo ini, lo benar benar orang baik Shil"
Tak lama kemudian Arsen kembali lagi dengan membawa sebuah tas berwarna hitam. Arini yang melihat itu merasa kebingungan karena Arsen keluar dengan membawa tas . "Ini" Arsen memberikannya pada Shila dan Dani. Kemudian dia membuka tas nya yang isinya adalah uang. "Ini adalah seratus juta, aku ingin menyumbangkan uang ini untuk panti asuhan kalian. Dan satu lagi sisanya buat kalian melengkapi fasilitasnya. Pastikan nanti kalau panti asuhannya sudah jadi, anak anak mendapatkan fasilitas yang memuaskan. Jika kalian butuh sesuatu datanglah lagi padaku. Aku akan membantu kalian selama itu untuk hal kebaikan" Arsen menyerahkan tas itu dengan baik. "Ambillah" lanjut Arsen lagi. Dani mengambil uang itu bersama dengan Shila. "Terima kasih om mungkin dengan sumbangan om ini kita berdua bisa membangun panti asuhan yang benar benar terbaik"
Arini benar benar bangga dengan suaminya. Dia berani mengeluarkan uang yang banyak untuk menyumbangkannya pada Shila yang berencana untuk membangun panti asuhan. "Tapi Shil ada satu hal lagi yang belum gue tahu. Kalau misal nanti panti asuhan jadi siapa yang akan mengurus anak anak? Sedangkan lo saja masih kuliah." Arini melihat Shila dengan pandangan yang serius. "Tenang aja, lo gak usah khawatirkan masalah itu. Gue udah ngatur semuanya kok. Dan juga gue bakal selalu nyempatin diri ke panti. Lo sama Om Arsen juga boleh datang kapan saja." Arini mengangguk mengerti kemudian Dani angkat bicara setelah Arini. "Saya mewakili Shila ingin berterima kasih pada bapak karena telah menyumbangkan uang sebesar seratus juta untuk pembangunan panti asuhan kami."
"Tidak masalah Dan" Arini dan Shila saling melempar senyum kemudian mereka melanjutkan obrolan lagi.
Sedangkan Via dan Max, Mereka baru saja keluar dari ruangan Dokter kandungan. Via baru selesai di check up dan sekarang dia sedang menginginkan sesuatu. Via melihat Max dengan tatapan jahilnya. "Kenapa?" tanya Max ketika melihat Via yang terus melihatnya sambil tersenyum. "Aku ingin dipeluk Dokter ganteng tadi, boleh?" tanya Via sambil mendongakkan kepalanya dan melihat wakah Max dengan kedua bola matanya. Max melotokan matanya pada Via. "Mau ngapain? Kamu kan sudah punya aku kenapa tidak minta peluk aku saja. Kenapa harus dokter jelek itu" jawab Max dengan sebal. Yah Dokter yang kandungan yang memeriksa adalah seorang pria muda yang menurut Max wajahnya masih di bawahnya. "Aduh Mas aku kan maunya peluk Dokter itu, ini si Bulbul loh yang mau peluk bukan aku"
Max mengangkat sebelah alisnya dengan tidak mengerti. "Tadi Dokter? Sekarang Bulbul siapa lagi" Via memutar bola matanya dengan malas kemudian dia mengambil tangan Max dan menaruhnya di perutnya. "Nih nama bayi kita kalau lagi di perut aku namanya bulbul. Paham gak? Dan sekarang bulbul yang ada di dalam perutku ini ingin memeluk Dokter. Jadi boleh ya Mas?" Max hanya menggelengkan kepalanya namun keika Dokter itu keluar dari ruangan Via menggigit bibirnya entah kenapa dia melihat Dokter itu dengan pandangan yang menggemaskan. "Mas mas boleh yaaa aku mau peluk dokter itu"
"Kejam amat sih Mas, Kak Arsen aja rela melakukan apa aja untuk Arini pas lagi hamil" ucap Via sambil cemberut. "Arsen tuh kadar kebucinannya seratus persen berbeda denganku. Aku sesuai realita aja. Mana ada suami yang rela istrinya memeluk laki laki lain apalagi di hadapannya"
"Tapi kan Mas"
"Gak ada tapi tapian sayang" ucap Max dengan tegas dan penuh penekanan. Menyadari nada suara Max yang berubah Via langsung diam seketika dan tidak berbicara apapun lagi