
"Apa ini Ma?" Arini terus mengelilingi ruangan itu bersama dengan Mila. Dari tadi dia hanya sibuk bertanya tanya sedangkan Mila masih belum menjelaskannya. Arini masih bingung kenapa semua ruangan ini berisi seperti peralatan bayi yang lengkap atau bahkan selimut kecilnya. "Jadi, Mama sengaja membuat ruangan ini. Mama tidak ingin melupakan putra kecil Mama yang sekarang sudah beranjak menjadi dewasa. Dan yang bikin spesial lagi, semua barang barang disini adalah barang barang milik Arsen ketika kecil dulu. Mama masih menyimpan semua barang barang itu" ucap mila sambil menjelaskan hal tersebut.
"Jadi tujuan Mama menunjukkan ini apa?" tanya Arini berusaha untuk sopan agar tidak menyinggung perasaan mertuanya itu. "Kamu bisa mengambil salah satu barang disini untuk anak kamu nanti, disini adalah barang barang Arsen. Kamu bisa memilih, mana yang akan kamu bawa pulang ke indonesia nanti" Arini menganggguk lalu dia berjalan kembali dan melihat lihat lebih dalam tentang isi ruangan besar itu. Tiba tiba mata Arini tertarik pada sebuah kain yang berwarna biru cerah, sepertinya arini sangat menyukai hal itu. "Aku suka yang ini Ma, boleh aku ambil?"
Mila melirik pada barang yang dipegang Arini kemudian dia tersenyum dengan lebar. "Pilihan yang tepat, itu adalah kain keberuntungan sebab sedari Arsen kecil jika dia menangis dia selaku bisa diam hanya karena memakai Kain itu "Kamu gunakan itu dengan baik, meskipun ini barang lama tapiĀ masih baik baik saja" Memang benar yang dikatakan Mila, meskipun itu barang lama tetapi kondisinya masih bagus dan bisa dibilang seperti baru. "Ya sudah Ma, arini akan menyimpan yang satu ini" ucapnya lagi dengan Yakin. Kemudian Arini mengelus perutnya yang sudah menunjukkan sedikit perubahan.
Sedangkan di luar, Max, Gardan dan Arsen tidak berbicara sepatah kata pun. Rasanya sangat canggung bagi mereka untuk berbicara santai. Arsen mengambil sebatang rokoknya kemudian mulai merokok di hadapan Garda. "Rokok pa?" tanya Arsen pada Garda. Garda juga mengambil satu batang rokok kemudian membakarnya dengan korek api. "Kamu Max? Tidak mau merokok juga?' tanya Garda setelah menyesap satu rokok itu. Max hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak suka Rokok, rasanya pahit lebih baik aku suka Via" jawab Max.
"Kamu kalau sudah menyukai seseorang, segeralah bawa pada papa, jangan cuma bilang suka doang. Umur kamu juga sudah pantas untuk menikah Max. Kamu tidak cocok lagi disebut bujangan." Komentar Garda, Karena Max pernah tinggal bersamanya jadi Garda sudah megetahui semua sifat Max itu seperti apa. Max menaruh ponselnya kembali kemudian menghadap pada ayah dan kakaknya itu. "Masalahnya adalah, Dia masih belum siap untuk kunikahi sekarang. Seandainya dia siap pasti aku akan langsung melamarnya dan memintanya pada kedua orang tuanya"
"Itu adalah tugasmu Max, kamu harus bisa meluluhkan Via. Kamu itu laki, punya burung satu dan dua telur, Masa kalah sama wanita yang hanya punya satu lubang hitam" Arsen tersenyum meremehkan sambil memutar bola matanya ke arah lain, dia kembali menyesap batang rokoknya hingga tersisa setengah saja. "Ucapanmu terlalu ambigu kak, mentang mentang sudah menikah dan melakukan itu. Aku juga bisa melakukan itu jika aku mau"
Arini dan Mila kemudian datang dan menghampiri mereka. Arini langsung duduk di samping Arsen, dengan sigap Arsen langsung membantu Arini, dia tidak ingin Arini kenapa napa. Arsen selalu protektif terhadap Arini. "Pelan pelan duduknya, duduknya jangan seperti ini itu bisa membuatmu lelah, duduklah seperti ini" Arsen mencontohkan gerakannya pada Arini. "Mau duduk saja kok dibikin ribet sih" kesal Arini. Mila dan Garda hanya tersenyum kecil. "Biarkan saja istrimu, jangan membuat dia marah atau kamu yang akan sengsara nanti" peringat Garda.
"Maksudnya?' tanya Arsen.
"Seorang wanita akan mengalami yang namanya ngidam ketika dia hamil, kamu harus menghadapinya dengan sabar jangan pake emosi meskipun permintaannya aneh aneh. Karena dulu mamamu pun juga pernah mengidam sesuatu yang aneh sama papa" Nasehat Garda, Garda sambil melirik ke arah istrinya yang pura pura tidak tahu. Gila saja, bahkan dulu Garda harus sampai dikejar sapi demi bisa mendapatkan mangga milik tuan rumah terkaya yang disitu. Dan keadaan waktu itu tentu saja berbeda dengan saat ini. Garda dan Max hanya hidup sederhana.
"Tuh dengerin apa kata papa, kalau aku lagi ingin sesuatu dituruti bukan ngambek kayak semalam" ledek Arini sambil terkekeh geli. Arsen hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia seperti bingung harus bereaksi seperti apa.