
Arini dan Bi Mina turun dari mobil, mereka pergi ke minimarket untuk berbelanja bahan makanan. Sebenarnya Arini tadinya ingin menyetir mobil sendiri tapi Bi Mina juga melarangnya. Lagi pula resikonya sangat besar alhasil mereka menggunakan Supir dadakan. Dengan balutan celana kebesaran dan Baju lengan panjang, Arini dan Bi mina berjalan masuk ke dalamnya. Hari ini dia akan bersenang senang bersama bayinya. "Bi, lebih baik bibi pergi ke tempat sayuran yang disana, biar aku yang memilih daging disini" ucap Arini kepada Bi Mina. "Tapi Non, bibi teh gak mau ninggalin non sendirian. Nanti kalau Non tiba tiba hilang gimana?" Bi Mina selalu khawatir dengan kondisi majikannya itu, apalagi saat ini Arini sedang hamil. Dia tidak ingin Arsen menyalahkannya jika benar benar terjadi sesuatu pada Arini.
"Gak apa apa Bi, lagian aku cuma mau milih daging kok. Nanti misalnya kalau aku udah selesai aku langsung nyusul bibi deh." Bi Mina ingin menggelengkan kepalanya tapi melihat majikannya yang keras kepala akhirnya dia mengangguk juga. Arini tersenyum senang lalu dia memberikan troli belanjaan kepada Bi Mina. "Kalau begitu bibi kesana dulu ya Non, ingat habis itu Non langsung nyusul Bibi" Arini langsung mengiyakan karena terlalu senang. Sebentar lagi dia akan menikmati kebebasannya untuk berbelanja apapun yang dia inginkan. Setelah bi Mina pergi, Arini segera memilih daging yang paling empuk. "Mbak, daging yang ini berapa?" tanya Arini pada wanita yang berdiri tepat di samping dagingnya itu.
"Itu daging sapi yang paling bagus mbak, ukurannya pun lebih jumbo dari yang lain. Jadi harganya tidak murah. Hanya dua juta saja" jawab wanita itu tersenyum ramah. Arini mengangguk lalu dia memeriksa kembali dagingnya dan ternyata memang benar, kualitas daging itu sangat baik. "Saya ambil daging yang ini mbak, satu. Terus dipotong secara kecil kecil ya" wanita yang tadi langsung menjawab kemudian mengambil daging daging itu untuk dipotongnya. "Tunggu sebentar ya mbak, saya potong potong dulu dagingnya. Mbak silahkan duduk dulu" dengan hati hati Arini menarik kursi yang berada di sana dan duduk di atasnya.
Matanya melirik kesana kemari seperti anak kecil yang belum menemukan ibunya. Arini menunggu dagingnya dengan sabar. selang beberapa menit kemudian. Daging yang dia pesan sudah tiba, sang petugas wanita tadi juga kembali dengan membawa satu kantong plastik besar yang isinya adalah daging semua. "Ini mbak dagingnya" "terima kasih" Arini segera memberikan uang cash senilai dua juta dan diterima oleh wanita itu dengan baik.
Setelah itu dia mencari keberadaan Bi Mina di tengah tengah ramainya minimarket itu. Bi mina bilang dia akan membeli sayurab kemudian menunggunya. Lantas di mana dia sekarang?
Saat Arini mencari cari Bi Mina tiba tiba bahunya ditepuk oleh seseorang. Arini langsung menolehkan kepalanya dan langsung menyengir ketika melihat siapa orang yang baru saja menepuk bahunya tadi. "Ada apa mas? Kok Mas bisa bisa tiba ada disini" tanya Arini dengan heran. Arsen hanya menggelengkan kepalanya kemudian merebut kantong plastik yang berisi daging itu dari tangan arini "Sudah tahu kamu lagi hamil, tidak boleh mengangkat yang berat berat dan sekarang kamu malah mengangkatnya" Arini tersenyum kecil supaya Arsen tidak ngomel ngomel disini, dia malu.
"Mas, ngomelnya lanjut nanti ya. Sekarang kita cari Bi Mina dulu. Dari tadi aku nyari dia tapi gak ketemu ketemu" ucap Arini. "Loh memangnya kamu bawa Bi Mina juga, terus sekarang dia ada di mana?" Heran Arsen. "Ya aku juga gak tahu mas tadi aku cuma nyuruh Bi mina buat mencari sayuran segar di tempat itu tapi sekarang Bi Minanya nggak ada" Arini menggigit bibirnya sendiri menahan air mata yang akan turun. Arsen langsung menerbitkan senyum kecilnya di belakang. "Ya sudah lebih baik kita pulang sekarang, lebih baik kamu istirahat di rumah. Soal Bi Mina biar aku yang mencarinya. Anak buahku juga akan ikut mencarinya. Kamu akan diantar pulang oleh Doni dulu yah, maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang. Aku harus mencari Bi Mina terlebih dahulu"
"Ini gara gara aku mas, coba aja tadi aku tetap bersama Bi Mina. Pasti bibi gak bakal hilang seperti ini." Arsen mencium kening Arini seraya tersenyum kecil dalam hatinya. "Enggak sayang, ini bukan salah kamu kok. Sekarang kamu pulang dulu ya. Biar Doni yang mengantarmu." Arsen langsung memanggil Doni yang berdiri dari kejauhan. Dengan cepat Doni langsung bergegas menghampiri Arsen. "Iya pak?"
"Tolong antarkan istri saya pulang ke rumah dengan selamat, saya mau dia pulang dalam keadaan utuh seperti ini. Jangan sampai dia lecet sedikit pun. Kamu mengerti bukan?"
"Iya pak saya mengerti" jawab Doni.
"Bagus, sekarang juga kamu antarkan dia"
Arsen tersenyum pada Arini lalu menyuruhnya untuk mengikuti Doni, sebenarnya dia yang ingin mengantarnya pulang tapi berhubung Arsen sudah mempunyai rencana dia lebih memilih untuk menitipkan Arini pada Doni terlebih dahulu.