
"Jadi gimana, apa yang mau lo ceritain sama kita kita?" tanya Shila pada Arini sambil menyeruput jus jambunya dengan cepat. Mereka sudah berada di cafe selama satu jam tapi masih belum memulai pembicaraan karena Gabriel yang masih ingin menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Jangan salahkam Gabriel, salahkan saja Arini yang mentraktir mereka maka dari itu Gabriel memanfaatkannya dengan memesan makanan favoritnya yang banyak.
"Sebelum gue mulai cerita sama kalian gue mau menunjukin sesuatu dulu" ucap Arini sambil memandang wajah mereka satu persatu. "Apa?" tanya Gabriel penasaran. Arini langsung mengambil tas nya dan mengeluarkan dompet cokelat milik Angel yang ia temui kemarin. "Dompet ini adalah milik dokter yang kemarin menangani Daddy, tapi sepertinya gue kenal sama yang ada di foto ini. Tapi siapa ya? Itu foto lama sih makanya ingatakanku sedikit berantakan"
"Tunggu, menangani Om Arsen kata lo? Emang Om Arsen sakit apa?" heran Shila yang juga diangguki oleh Gabriel. Setahu mereka Arsen tidak pernah jatuh sakit kecuali demam biasa yang istirahat satu hari saja sudah sembuh. "Kecelakaan kecil" jawab Arini kemudian. "Lalu apa hubungannya dengan dompet itu?" lanjut Gabriel. Via menatap Arini dengan tatapan yang menyelidik, sepertinya ia ketinggalan berita dari Arini. "Kamu tahu kan Vi, kemarin Dokter Angel terus melihat wajah Daddy, udah gitu entah kenapa aku merasa Dokter angel seperti sedang mengingat sesuatu gitu ketika melihat Daddy"
"Gue setuju, dan buat lo berdua yang belum tahu Dokter Angel itu dokter yang genitin om Arsen kemarin. Kalau saja kemarin Mas Max tidak menahan gue pasti sudah gue kata katain tuh dokter." Shila dan Gabriel mengangguk mengerti. "Terus rencana lo selanjutnya apa? Lo gak mungkin mau ngambil tuh dompet kan Rin?" tanya Shila dengan wajah dungunya. Seketika Gabriel dan Via langsung menoyor kepala Shila. "Goblok jangan dipelihara"
"Arini sudah kaya? Ngapain dia harus ngambil dompet buluk kek gini" tambah Via. Via bisa membedakan mana dompet mahal dengan dompet murahan. Dan yang sedang Arini pegang itu adalah dompet Angel yang buluk. Dari awal Arini mengeluarkan dompet itu ia saja langsung tahu kalau dompet itu Kw yang banyak dijual di pasaran. "Enggak lah Shil, ngapain juga gue ngambil. Tapi mungkin gue ambil fotonya doang soalnya gue masih penasaran" ucap Arini.
Via merebut dompet itu dari tangan Arini kemudian ia melihat sendiri foto itu. Shila dan Gabriel langsung mendekat pada Via dan ikut mengintip fotonya. Mereka bertiga langsung mengernyitkan kening secara bersamaan. Lalu dengan kompak mereka menatap Arini dengan kesal. "Apa?" tanya Arini tidak mengerti. Karena tiba tiba saja teman temannya menatap dirinya dengan horor seolah mereka ingin memakannya hidup hidup.
"Lo beneran gak kenal sama pria yang ada di foto ini?" Shila seperti meragukan Arini, biasanya meskipun otak Arini sedikit bodoh tapi ia bagus dalam hal mengingat. Tapi entah kenapa kali ini ingatannya sangat buruk. "Aku memang seperti melihatnya tapi aku lupa siapa itu?" Arini benar benar tidak mengerti dengan mereka karena tiba tiba bersikap seperti itu. "Arini tersayang, coba lo ingat ingat lagi dimana kamu melihat sosok pria ini. Ayo hilangkan rasa pikunmu sejenak dan coba ingat dengan baik" ucap Via.
Arini mengambil foto itu dan melihatnya dari jarak dekat, wajah itu sangat familiar sekali. Shila, Via dan Gabriel menunggu Arini selama sepuluh menit dan membiarkan Arini untuk mengingatnya terlebih dulu. Arini tiba tiba menggebrak meja dengan kuat hingga berhasil membuat ketiganya terlonjak kaget. "Bikin kaget gue aja lo oon, udah tahu kan siapa itu?" tanya Shila sambil menatap Arini yang masih terus memandangi foto itu.
"Nah, itu dia yang harus lo cari tahu sekarang. Sebelum semuanya terlambat kamu harus bisa mencari tahu jawaban dari semua pertanyaan yang ingin kamu tanyakan sekarang" ucap Via.
Arini mengangguk ia bertekad untuk mencari tahu semuanya sendirian. Ia akan memulainya dengan Dokter Angel terlebih dahulu. "Lanjut yuk, habis ini kita shoping. Kebetulan sekarang lagi banyak diskon jadi lumayan lah harganya" ajak Shila pada ketiga temannya tersebut termasuk Arini. "Ya udah ayok, bentar gue bayarin makanan kalian dulu. Habis itu cabut" tanpa banyak bertanya lagi mereka segera menunggu di parkiran, sementara Arini membayar makanan mereka. Saat membayar makanan tiba tiba saja ada seseorang yang menyentuh bahunya, Arini langsung saja menoleh ke belakang dan melihat Rendi dan Langit yang sedang berduaan. "Hai Rin" sapa Langit.
Arini merasa heran karena melihat keduanya yang terlihat sangat akrab, memangnya sejak kapan mereka bisa seakrab ini. Karena setahunya dulu Rendi agak kurang menyukai Langit. "Langit, Rendi, Kalian ngapain disini?" tanya Arini sambil menatap wajah mereka secara bergantian. "Kita lagi ngobrol aja, kamu sendiri disini sama siapa? Sendirian?" Rendi menoleh kesana kemari tapi tidak menemukan siapapun yang bersama Arini. "Aku sama teman teman aku kok, cuma mereka lagi nunggu di luar"
"Lo minggu depan ada waktu gak Rin, Gue sama Rendi mau ngajak lo ke suatu tempat dan kita yakin lo pasti suka tempat itu" ucap Langit sambil tersenyum pada Arini. Arini tidak lantas mengiyakan, ia berpikir dulu sebelum menjawab pertanyaan itu. Menurutnya sedikit tidak masuk akal jika kedua pria itu mengajaknya ke suatu tempat secara bersamaan. Ini bahkan jarang terjadi atau tidak pernah sama sekali. "Sorry Lang, Ren minggu depan gue harus terbang ke jepang sama Daddy dan Uncle Max. Mau ketemu sama Oma dan Opa disana"
"Kalau besok gimana?" tanya Rendi lagi seakan tidak ingin menyerah.
"ARINI" Panggil seseorang.