
Untuk para pembacaku
Jangan heran ya jika cerita ini banyak menceritakan tentang Arsen yang menjadi Mafia
karena sedari awal Novel saya sudah bergenre Action dan Romantis
Jadi tidak akan selalu Romantis terus
karena bagi saya itu akan membosankan.
Jadi jika ada yang nanya?
"Kak, kok ceritanya malah gak jelas gini sih? kenapa larinya malah ke Mafia?'
"Kak ini hot Daddy atau Hot Mafia sih?
"Gak mau baca ah, udah gak seru lagi kalo kayak gini"
dan Masih banyak lagi. Jadi disini saya pertegas jika novel saya ini Bergenre Action dan Romantis. Saya tidak akan memberatkan salah satunya karena saya akan seimbang di setiap episodenya. Thank You
.
.
.
Langsung dibaca yuk
Max mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Arini kemudian mengelusnya dengan lembut. "Sebenarnya kalian ada masalah apa? Kenapa bisa ceroboh seperti ini." tanya Max tepat sasaran. Gabriel dan Via juga mengangguk lalu melihat ke arah Arini. "Arini juga gak tahu Uncle, karena sebelumnya Daddy baik baik saja sebelum dia..." Arini menggantungkan kalimatnya sebelum benar benar mengatakannya pada Max. "Sebelum apa?" tanya Max dengan penasaran.
"Sebelum Daddy bertemu dan melihat Dokter Angel" lanjut Arini. Jujur saja Arini menyadari perubahan Arsen ketika Arsen melihat Angel di pesta pernikahan itu. Dan sekarang Arini semakin tidak percaya jika mereka dulunya adalah sepasang sahabat. Jika mereka sepasang sahabat lalu kenapa Arsen terlihat sangat membenci Angel sedangkan Angel menatapnya dengan penuh kerinduan. "Dokter Angel?" heran Max. Arini mengangguk.
"Nah loh, ini gara gara kamu ya Mas. Coba aja waktu itu kamu tidak membawa Dokter Angel untuk Om Arsen, pasti mereka tidak akan bertemu. Sekarang semuanya semakin rumit kan. Apalagi sepertinya mereka terlibat dalam masa lalu. Kalau sampai Om Arsen masih menye menye sama si Angel angel itu, awas aja kamu. Tak kasih nih' ucap Via sambil menunjukkan kepalan tangannya di depan Wajah Max. Max hanya menggaruk kepanaya yang tidak gatal, lagi pula ia mana tahu kalau Angel punya hubungan masa lalu dengan Arsen. Karena dulu Arsen orangnya tertutup jadi Max tidak tahu banyak tentang kehidupan sekolahnya. Dan yang lebih penting lagi dulu Max dan Arsen berbeda sekolah.
"Apa sih Vi, lagian Om Max juga tidak tahu kali kalau mereka ada hubungan masa lalu. Gak usah ngadi ngadi deh" heran Gabriel pada Via. "Tahu tuh, masa pacar sendiri diancam kek gitu. Tidak berperikepacaran nih si Via" Via berdecak pelan mendengar keduanya lebih membela Max, pacarnya ketimbang dirinya. Max langsung menengahi pembicaraan mereka sebelum terjadi perdebatan lagi. "Apa yang dikatakan Shila dan Gabriel benar sayang. aku tidak tahu mengenai hal itu."
"Sudahlah, yang penting sekarang aku baik baik saja. Untuk masalah itu mungkin aku lebih baik menanyakan langsung pada Daddy" Arini sendiri tidak yakin jika Arsen akan menjawabnya dengan jujur tapi ia harus yakin. "Gue setuju, karena jawaban semuanya ada pada om Arsen" Sahut Gabriel. Max terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. Max melirik Arini yang diam diam juga menatapnya.
.
.
"Aarrgghhhhhhhhhhhhhhhhh" Suara lengkingan keras menggema di ruang bawah tanah, terlihat seorang pria yang sedang diikat dan dicambuk beberapa kali dengan besi yang baru dipanaskan dengan api. Orang itu seolah tidak bosan untuk mencambuk. Arsen melihat pemandangan tersebut dengan santai, ia menyesap rokoknya sehingga asapnya menyebar kemana mana. "Terus cambuk dia, saya beri kalian satu jam untuk terus mencambuknya secara bergantian" Mereka mengangguk dengan semangat, Vernon dan Willy mengambil giliran terakhir untuk itu. Karena mereka ingin merasakan sensasi yang lebih nikmat lagi.
Setelah satu jam sudah terlewati kini giliran Vernon dan Willy. Mereka mengambil alih besi panas itu dari teman temannya. Bukannya mencambuk tapi mereka malah menempelkannya di tubuh sang mata mata itu. "Aargghhhh panasssssss" Arsen menerbitkan senyum di bibirnya ketika mendengar suara rintihan orang tersebut. "Sangat merdu sekali" ucapnya. "Rasakan ini, inilah akibatnya jika kau berani mengkhianati tuan Aerio. Kamu rela menjadi mata mata untuk mereka hanya demi harta yang tak seberapa"
Orang yang disiksa oleh Vernon dan Willy itu sebenarnya seorang pria tua, bahkan umurnya jauh di atas umur Arsen. Jika Arsen masih berumur 35 tahun, maka sebaliknya orang itu telah berumur 55 tahun. Meskipun pria tua itu mengeluh kesakitan mereka tetap tidak menghentikan segala siksaannya. Sampai akhirnya orang itu tumbang dengan tubuh yang penuh darah dengan luka yang menganga lebar. Orang itu mengangkat kepalanya dan menatap Arsen. "Suatu saat kamu akan melihat orang yang kamu sayang akan diperlakukan seperti ini" ucapnya dengan susah payah
Arsen membuang puntung rokoknya dengan sembarangan. Kemudian ia berdiri dengan palu yang sejak tadi sudah berada di sampingnya. "Dari awal saya seharusnya tidak percaya sama pria tua seperti anda, tapi karena anda sudah tua jadi kami terpaksa mengambilmu sebagai bagian dari kami. Kami memberikan kamu harta, yang cukup untuk keluargamu makan sehari hari. Dan sekarang inikah balasan anda untuk Tuan Aerio?" pria itu cukup lama terdiam, perkataan mereka berhasil menohok di relung hatinya yang terdalam.
Arsen tiba tiba bertepuk tangan dengan keras kemudian menatap pria itu dengan tajam. "Baiklah, mari kita langsung saja. Malaikat maut tidak sabar akan membawanya ke nekaka. "minggir kalian semua!" ' teriak Arsen dengan lantang. Sontak semua anak buah nya langsung mundur beberapa langkah. Setelah memastikan semuanya mundur Arsen mulai mengayunkan palunya ke arah kepala Pria itu. Kepala yang tadinya utuh sekarang sudah hancur berserakan, bahkan otak otaknya juga ikut keluar dan berserakan. "Baru sekali pukul aja udah hancur, ck dasar lemah" ucap Arsen.