
Shila menuntun Arini dengan perlahan lahan, dia menutup mata Arini dengan kain. Diam diam dia memberi kode pada seseorang. Shila melakukannya dengan sangat baik hingga Arini tidak bisa menyadari apapun. Dia hanya terus mengikuti Shila sambil dituntun olehnya. "Ar, Gue ke toilet bentar ya. Lo tunggu disini dan jangan kemana mana" ucap Shila. Arini hanya mengangguk saja meskipun dia sedikit ragu. Shila perlahan mundur ke belakang sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan jari jempolnya. Lima menit kemudian, Shila masih tidak kembali juga, Arini sangat gelisah. Dia akan membuka penutup matanya tapi seseorang mencegahnya. Dari parfumnya Arini bisa mengenali kalau itu adalah Shila. "Lama amat sih Shil, ngapain aja di toilet"
Tapi sayangnya orang yang disangka Shila oleh Arini tidak menjawab, dia malah membuka pintu mobil dan menyuruh Arini masuk dengan tangannya. Arini merasa sepertinya ada yang tidak beres, tapi dia tidak mau berpikiran aneh aneh dulu. Lagi pula dia sudah mengenal bau parfum itu dan itu adalah bau parfum milik Shila. Setelah duduk diam di dalam mobil, orang itu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Arini, dia melempar kunci mobilnya pada orang yang berada di depannya.
"Shil, ngomong dong. Gue kok ngerasa ini bukan lo ya" ucap Arini dengan nada curiga. "Ini beneran gue kok Rin, lo tenang aja kali." Dan benar, itu adalah suara Shila. Dia adalah orang yang dilempari kunci mobil oleh pria misterius tadi. Arini bernafas lega setelah mendengar itu, dia meraba raba di sekitarnya dan tangannya mendarat tepat di paha pria misterius tadi. "Shil kok paha lo jadi besar sih, ini pasti gara gara lo gak jadi diet kan" Shila sedikit panik, tapi pria itu berhasil mengatasinya. Dia mengganti posisi pahanya dengan lengannya. Alhasil yang Arini sentuh lagi adalah lengan bukan paha. "Eh kok kempes lagi" lanjut Arini.
Shila menggigit bibirnya berusaha untuk tidak tertawa, padahal di belakang pria misterius itu sudah menatapnya dengan sorot mata yang dingin. Dia mengangkat tangannya dan memberikan kode pada Shila agar menjalankan mobilnya. Shila yang mengerti pun langsung mengangguk dia mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sesuai dengan permintaan pria misterius itu. Arini menarik nafas yang dalam, dia membuka kaca jendela mobilnya dan menikmati angin yang segar. Tapi tiba tiba saja kaca jendela itu tertutup dengan sendirinya. Padahal itu adalah ulah pria misterius tadi.
"Shil, jendelanya jangan ditutup dong. Gue panas nih butuh angin" Arini mengipasi wajahnya dengan tangannya. Dia tidak berbohong jika mengatakan ini panas, karena Ac mobilnya juga tidak dihidupkan ditambah lagi semua jendela yang ditutup. "Ibu hamil gak boleh terkena angin Rin, nanti kalau perut lo kembung gimana? Atau nanti kalo kamu sakit gimana? Kan dedek bayi nya juga ikut sakit kan di dalam sana" Alibi Shila yang berhasil membuat Arini terdiam. "Tapi gue benar benar panas Shil, gerah banget"
Baru saja dia mengatakan hal itu, Arini sudah merasakan angin kembali menerpanya. Entah itu angin dari mana yang penting sekarang Arini sudah merasa sejuk. Pria itu mengipasinya dengan sangat baik, bahkan Arini saja tidak sadar jika ada orang lain yang duduk di sampingnya. Matanya juga dalam kondisi tertutup jadi dia tidak bisa melihat apapun lagi selain warna gelap. "Kita mau kemana sih Shil?" tanya Arini dengan bingung karena sedari tadi Shila juga tidak menjawab pertanyaannya. Dia hanya mengatakan akan membawanya ke suatu tempat. "Sebentar lagi lo pasti bakal tahu kok, cuma bukan sekarang aja."
.
.
.
Arsen tersenyum lega setelah pembicaraannya dengan Klien dari iggris berjalan dengan lancar. Mereka sepakat untuk bekerja sama dan siap untuk saling membantu. Kalau dulu Arsen sering menggunakan cara licik sekarang dia tidak lagi. Arsen memilih untuk menggunakan otaknya saja. Dia tidak akan berbuat curang lagi. Arsen mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang sambil tersenyum. Dia akan membagikan kebahagiaannya bersama dengan orang yang dia cintai.