Hot Daddy

Hot Daddy
Kehidupan yang baru



"Dok hari ini pasien di ruang melati kondisinya sudah mulai membaik, detak jantungnya juga sudah mulai normal kembali. Dan sekarang dia sudah dipindahkan ke ruang inap biasa" Orang yang diajak berbicara hanya mengangguk. "Bagus kalau begitu, saya akan memeriksanya kembali dalam satu jam ke depan" jawab Angel. Suster yang menemani Angel itu pun langsung mengiyakan dan segera berpamitan untuk keluar. Angel menghela nafasnya, ini sudah dua minggu semenjak ia terakhir kali bertemu Arsen. Angel berusaha untuk melupakan Arsen dengan membuang semua barang barang pemberiannya, bahkan dia juga membakar foto yang selama ini menjadi kenang kenangan antara dirinya dengan Arsen.


Tiba tiba pintu ruangannya diketuk dari luar, Angel mengangkat kepalanya dan menyuruh orang itu untuk masuk. "Masuk" jawabnya. Pintunya pun terbuka, seorang pemuda masuk ke dalam ruangannya sambil tersenyum. "Silahkan duduk" ucap Angel, matanya tidak sempat untuk menatap wajah orang itu karena sibuk menulis sesuatu di kertasnya. Saat dia sudah selesai dengan tulisannya barulah Angel mengangkat kepalanya dan menatap siapa yang baru saja datang. Matanya tiba tiba membulat saat mengetahui siapa orang itu. "Halo sayang" sapa pemuda itu sambil terkekeh.


"Kamu? Kamu ngapain kesini?" Angel sampai berdiri dari kursinya karena terkejut. Dia benar benar tidak menyangka kalau orang yang ada di hadapannya ini adalah brengsek yang pernah menjadi kekasihnya dulu ketika di Amerika. Pria itu adalah Toni, Bule sinting atau lebih tepatnya mantan terburuk Angel. "Aku sangat melindukanmu sayang" ucap Toni dengan bahasa cadelnya. Toni memang tidak bisa mengucapkan huruf R oleh sebab itu dia selalu saja menggunakan huruf L ketika berbicara kata yang terdapat huruf R nya.


Angel menggelengkan kepalanya, dalam hati ia merutuki Toni yang tiba tiba saja muncul seperti jailangkung. "Dari mana kamu tahu aku ada disini?" tanya Angel, ia sedikit menjauh dari Toni dan membuat jarak yang sangat jauh darinya.  Toni berdecak lalu berjalan mendekat ke arah Angel. "Kamu sudah mengenalku sayang, mestinya kamu tahu aku bisa tahu kamu disini dali mana" Angel terus mundur sampai tubuhnya terpentok oleh dinding di ruangannya. Toni tertawa ketika melihat Angel yang seperti ketakutan ketika melihatnya. Dia malah semakin senang.


"Tidak usah takut sayang, aku tidak akan belbuat macam macam kok. Aku hanya ingin belada di dekatmu" Angel terus menggelengkan kepalanya, dia tidak sudi berada di dekat orang itu. Saat tangan Toni akan menyentuhnya, Seseorang juga masuk ke dalam ruangannya. "Angel" panggilnya. Tangan Toni hanya berhenti di udara dan Angel langsung menoleh. "Dokter Fian" gumamnya. Langsung saja Angel langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh Fian. "Kenapa?" bisik Fian pada Angel. "Tolong lindungi aku dari orang itu"


"Dia siapa kamu?" tanya Fian lagi. "Mantan" jawab Angel dengan singkat. Sekarang Fian mengerti kenapa Angel bisa seperti itu. "Kamu siapa?" tanya Toni sambil memandang Fian dengan raut wajah yang tidak suka. Fian menoleh pada Angel sebentar lalu menatap Wajah Toni. "Saya adalah Fian, Calon suami dari Angel" jawab Fian dengan tegas. Angel bahkan sampai membuka mulutnya dengan lebar, tak menyangka saja jika Fian akan menolongnya dengan cara seperti itu. Toni tertawa dengan keras di hadapan Fian. Tentu saja itu membuat Fian semakin kebingungan.


"Jangan mengada ngada kamu, kalena sebelum aku datang kesini aku sudah mencali tahu semuanya tentang Angel. Dan Angel masih single. Aku yakin kamu hanya mengaku ngaku"


Fian langsung menarik tangan Angel dan membawanya pergi. Toni mengepalkan tangannya dengan keras, Dia menendang meja kerja Angel dengan kakinya.


.


"Arsen, apa sebaiknya kamu menikahi Arini terlebih dahulu sebelum pulang ke indonesia" itu adalah suara Garda yang baru saja muncul di hadapan Arsen. "Bukannya aku tidak mau menikahi Arini, tapi di situasi seperti ini aku rasa tidak cocok untuk mengadakan pernikahan. Nyawa Arini dalam bahaya, lengah sedikit saja aku bisa saja kehilangannya" jawab Arsen.


"Justru karena itu, dengan menjadikan Arini sebagai istrimu kamu jadi lebih mudah untuk melindunginya. Buang rasa egoismu terlebih dahulu Pikirkan Arini, dia sedang hamil dan ayah dari anaknya masih belum menikahinya. Saran papa kamu harus menikahinya terlebih dahulu. Papa bisa bantu untuk mengurus pernikahan kalian" Garda tidak hanya memikirkan Arsen, Dia juga memikirkan Arini. Bagaimana pun juga dia masih sayang sama Arini meskipun Arini bukan cucunya lagi dan berubah menjadi menantunya.


"Aku akan mempertimbangkannya"


"Semoga pilihan kamu menjadi yang terbaik" tambah Garda Lagi