Hot Daddy

Hot Daddy
Ajal kematian



Arini turun dari mobil tanpa menunggu Arsen, ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada Max. Max mungkin akan terkejut dan tidak menyangka setelah mendengar semua ini. Arsen berdecak melihat pinggul Arini yang mengundang matanya untuk melihatnya. Arini tidak tahu saja kalau Arsen juga laki laki normal Dia bisa saja tergoda.


Setelah mengambil kunci mobilnya, Arsen masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika melihat Arini yang bergelayut manja di lengan Max, sedangkan Max sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya di laptop. Bukan hanya itu, Paha Mulus Arini juga terpampang lebar di hadapannya. "Arini, cepat ganti pakaianmu. Habis itu mandi dan turun ke meja makan. Kita makan malam bersama"


"Bentar lagi Dad, Arini tuh capek tahu. Habis pemotretan malah langsung ditarik Daddy." Setelah menyelesaikan semuanya, Max malah menarik Arini ke dalam pelukannya. "Kamu habis pemotretan sama Langit?" tanya Max. Arini mengangguk, ia tidak heran dari mana Max tahu. Max pasti selalu mengirimkan mata mata untuknya. "Aku senang banget uncle, nih coba uncle liat. Pose Arini sudah bagus belum?"


Max melihat foto yang ditunjukkan Arini. Mata Max membulat. Arini benar benar sudah gila, bagaimana bisa dia duduk di pangkuan Langit dan saling berhadapan. Apalagi Wajah langit melihat ke bawah yang artinya dia melihat gundukan kenyal itu. "Astaga Arini, apa yang kamu lakukan sih?"


Arsen yang dari tadi dikacangi langsung mengambil ponsel Arini dan melihat isinya. Arini tersenyum dalam hatinya, menunggu Bom yang akan meledak sewaktu waktu. Arsen melihat ke arah Arini dengan tatapan lembut. "Fotonya bagus, tapi bisa ikut Daddy sebentar. Daddy ingin memberikan kamu sesuatu"


"Enggak, Arini tahu Daddy pasti akan marah marah. Kalau mau marah marah mending disini saja mumpung ada Uncle Max yang menjadi pelindung Arini" Max terkekeh gemas, keponakannya semakin berani. Tidak sia sia dia mengajarkan Arini banyak hal.  "Sudah, ikuti  mau Daddy mu, dia tidak akan berbuat jahat pada putrinya sendiri kan' ucap Max dengan menekankan kata Putri di bawahnya.


Arsen langsung menarik tangan Arini, Arini berusaha mengimbangi langkah Arsen. Arsen membawa Arini ke kamarnya sendiri dan mengunci pintunya. Arsen juga mematikan lampunya hingga suasananya sangat gelap. Ia melepas dasi yamg terasa mencekik di lehernya kemudian membuka kemeja hingga perut kotak kotaknya menonjol dengan jelas di hadapan Arini.


Arini benar benar tidak fokus, matanya terus tertuju pada roti sobek itu. "Kamu membiarkan laki laki lain melihat Dada mu?" ucapnya dengan nada dingin. Arini tersentak kemudian ia menatap wajah Arsen. "Tidak ada salahnya kan Dad? Langit cuma ngeliat doang kok. Daddy juga sama kan? Suka lihat lihat dada Tante linda"


Arsen menarik pinggang Arini hingga tubuh mereka berdempetan. "Jangan memutar balikkan pembicaraan. Kalau kamu membiarkan Langit melihat dadamu. Sekarang giliran Daddy yang akan melihatnya" Arini langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya. Ia mulai gelisah saat Arsen menyeringai padanya. Arsen meremas boko** Arini dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih memeluk pinggang Arini.


"Daddy gak bisa lakuin itu sama Arini, Daddy adalah ayah buat Arini. Daddy juga pernah bilang begitu kan. Sekarang lepasin Arini, Arini tidak nyaman dengan posisi ini" Masa bodoh dengan apa yang dikatakan Arini, Arsen melepas sanggulan rambut Arini kemudian menyibaknya sedikit. Arsen menempelkan bibirnya di leher Arini. Ia menghirup Aromanya yang sangat memabukkan. "Daddy tidak peduli, kamu adalah milik Daddy." Arsen mengecup dan menggigit leher Arini.


Arini mendorong tubuh Arsen dengan sekuat tenaga hingga terlepas dari tubuhnya. "Daddy egois, Daddy masih memiliki hubungan dengan Tante Linda dan sekarang Daddy juga mau memiliki Arini. Arini nggak mau , cari saja wanita lain yang mau diduakan oleh Daddy, jangan Arini." Arini berbalik dan memutar kunci pintunya hingga terbuka.


Arsen menarik tangan Arini hingga wajah Arini membentur dadanya yang keras. "Daddy minta maaf, Daddy sama Linda tidak punya hubungan khusus. Kita berdua hanya pura pura dekat"


Arini menahan senyumnya, walaupun ia sudah tahu hal itu tapi Arini menunggu kejujuran dari Arsen langsung. Dan Arini tidak ingin terlihat gampangan di depan Arsen. Arini berjalan mundur menjauh dari Arsen. "Arini ngantuk, mau istirahat. Good night Daddy" Arini meninggalkan Arsen sendirian di kamarnya.


Arsen bersedekap dada, melihat Arini yang sudah menjauh dari kamarnya. "Jangan salahkan Daddy untuk semua ini, kamu sendiri yang memancing Daddy untuk menyukaimu."


.


.


"Biarkan, lagi pula ada yang ingin aku katakan padanya." Arsen membuka pintu ruangannya dan mendapati seorang pria yang tengah merokok di dalam ruangannya. Charles mematikan puntung rokoknya saat Arsen sudah datang. "Hai Dude, gimana kabarmu?"


Arsen duduk di sofa dan merentangkan tangan kanannya ke sandaran kursi. "Tidak usah basa basi, Mau apa kamu kesini? Aku tidak suka membuang buang waktu apalagi hanya untuk orang seperti kamu" Charles terkekeh lalu menatap Arsen tajam. "Seperti biasa kamu memang tidak suka basa basi, well. Aku akan mengatakan tujuanku kesini"


"Kenapa kamu membakar semua hotelku? Aku tahu itu adalah ulahmu? Meskipun aku tidak punya bukti tapi orang yang hisa melakukan itu semua hanya kamu. So, kenapa kamu membakar hotel hotelku?" Arsen menggelengkan kepalanya, tangannya mengambil sebatang rokok dari milik Charles. Kemudian membakarnya dengan korek api. Arsen menyembat rokoknya di bibirnya hingga mengepul asap.


"Kenapa kamu seyakin itu kalau aku yang membakarnya? Kamu ingat prinsipku kan. Aku tidak akan mengganggu orang lain yang tidak mengusikku. Dan apa kamu pernah mengusikku? Jika tidak maka itu bukan aku. Aku hanya bermain dengan orang yang berani mengusikku."


Charles diam mematung, tubuhnya mulai gemetaran. Iya yakin yang melakukan itu semua adalah Arsen dan Arsen sudah mengetahui perbuatannya. "Jadi gimana Charles? Apa kamu masih ingin lagi? Jangan kamu pikir aku tidak tahu tentang rencana busukmu dengan pria tua bangka yang lemah itu"


Mendengar ayahnya disebut tua bangka, Charles tentu saja marah. Arsen menghina ayahnya sendiri di depannya. "Ini tidak ada urusannya dengan papa? Jadi jangan bawa bawa dia dalam masalah ini."


Arsen menbuang rokoknya begitu saja kemudian pergi mengambil sesuatu dan melemparnya ke hadapan Charles. "Penggelapan dana, berkas peralihan perusahaan, pencurian data perusahaan, dan terakhir berusaha melenyapkanku. Itu adalah semua kejahatan yang telah kau rencanakan bersama pria busuk itu. Dan gambar gambar itu adalah buktinya. Kamu mau mengelak apa lagi?"


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Arsen, aku...."


Crassss Sebuah pisau menancap di lengan Charles hingga darahnya merembes dari lengannya dan mengenai Jas nya. "Saat semua bukti sudah ku tunjukkan, kamu masih mau mengelak lagi? Aku tahu kamu akan datang kesini. Jadi, bersiaplah untuk menghadapi kematianmu. Dan untuk Si tua bangka, aku akan memberinya waktu untuk bernafas dulu karena Aku akan menyiksanya perlahan lahan.


Arsen berjalan mendekat pada Charles, Semakin dekat, dekat dan. "AAARRRRRGGGGGGHHHHHHHHHHHHH"


Arsen tersenyum puas sambil membersihkan darah dari tangannya. Cukup lama ia memancing Charles dan sekarang Charles sudah datang dengan sendirinya. "Selamat jalan, semoga neraka menjadi tempatmu'