Hot Daddy

Hot Daddy
Ketika Arsen mulai bertindak



Di kantor, Doni benar benar kehilangan fokusnya, dia berulang kali melakukan kesalahan. Padahal Arsen hanya memberinya  tugas yang sangat mudah. Yaitu merangkum materi berkas. Dani hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Doni yang berulang kali ditegur oleh Arsen. "Doni, saya tahu apa yang kamu pikirkan. Dan saya harap kamu bisa profesional. Singkirkan pikiran pribadimu itu dan fokuslah bekerja" Arsen terus memperhatikan tingkah anak buahnya itu. Dia meminta bantuan pada Doni karena Doni sangat cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan. Tapi untuk sekarang sepertinya dia memberikan tugas di waktu yang salah. "Pak, ini adalah berkas berkas kontrak bersama Mr mikey, semuanya sudah ditanda tangani dan hanya tinggal tanda tangan bapak saja yang belum" ucap Rocky sambil menyerahkan sebuah map berwarna merah pada Arsen.


Arsen segera mengambilnya kemudian memberinya tanda tangan dengan cepat. "Simpan di tempat biasanya dan jangan sampai hilang" ucap Arsen kemudian pada Rocky. Rocky mengangguk lalu dia mengambil kembali berkasnya. Setelah Rocky pergi Arsen kembali melihat kinerja kerja si kembar itu. Mereka sangat fokus dengan pekerjaannya. Tapi tiba tiba saja ponsel Dani berdering dengan nyaringnya. Dani mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Arsen. "Angkat saja barang kali itu penting" Dani mengangguk kemudian dia sedikit menjauh dan mengangkat panggilannya. "Halo" ucap Dani kemudian. "Maaf kak saya Baby temannya Shila, saya cuma mau bilang kalau Shila lagi berantem sama Kak Genita" Dani melirik Arsen sekilas lalu dengan tenang bertanya. "Apa permasalahannya?" tanya nya.


"Tadi Shila gak sengaja nyenggol Kak Genita tapi kak Genita nya malah mendorong Shila dan sekarang mereka sedang jambak jambakan di halaman kampus. Anak anak yang lain pada gak mau misahin. Jadi kalau bisa kakak segera kesini ya" Dani langsung mematikan telfonnya dan dia dengan cepat kembali ke tempatnya. "Ada apa Dan?" tanya Arsen. "Maaf pak saya boleh izin sebentar? Tunangan saya sedang bertengkar di kampusnya. Saya harus kesana untuk mengatasinya" Arsen mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Masalah apa?" tanya Arsen dengan penasaran. "Hanya ketidak sengajaan menyenggol pak tapi sepertinya Genita malah mendorong tunangan saya. Dan ditambah lagi Genita juga mengata ngatai istri bapak dan Istri pak Max" mendengar hal itu Arsen yang tadinya masih santai ekspresi wajahnya berubah ketika mendengar hal itu. "Dia mengatai ngatai Arini dan Via?" tanya Arsen dengan muka datarnya. Dani hanya mengangguk saja.


"Doni, saya harap kamu bisa menyeelsaikan ini secepat mungkin. Saya harus pergi dulu. Dan kamu Dani, ayo cepat kita pergi. Saya tidak akan membiarkan wanita itu menghina istri dan adik ipar saya." Dani masih diam di tempat tapi kemudian dia sadar kembali. "Emmm ba baik pak" Disaat Arsen dan Dani harus pergi, Doni malah mengerjakan tugas Arsen sendirian. Doni melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang, sebentar lagi jam makan siang. Dia harus menyelesaikannya dengan cepat. "Fokus Don, untuk saat ini kamu tidak perlu memikirkan hal itu" ucap Doni pada dirinya sendiri. Seberapa keras Doni mengabaikannya dia tetap saja kepikiran masalah itu. Hingga akhirnya Doni menutup matanya selama beberapa menit. Doni kembali membuka matanya dan melanjutkan pekerjaannya dengan baik.


"Udah gue bilang kalau gue gak sengaja lo paham bahasa manusia gak sih?" Shila terus menjambak rambut Genita dengan brutal. Tadi Gabriel juga sempat melerainya tapi malah dia yang kena. Alhasil sekarang Gabriel hanya menjadi penonton. Halaman kampus ramai dikelilingi oleh semua mahasiswa dan mahasiswi. Mereka menyaksikan adegan perkelahian tersebut. Bahkan ada juga yang merekamnya secara diam diam. "Gak peduli mau lo sengaja atau enggak yang penting lo udah nyenggol gue" Genita juga tidak mau kalah dengan Shila dia menarik rambut Shila dengan kuat. Keduanya tidak ada yang mau mengalah. "Dengar ya Shil, gue tahu lo punya dendam sama gue cuma karena sahabat bodoh lo itu yang tengah hamil gue kata katain. Tapi bukan berarti lo bisa seenaknya sama gue. Gue masih punya harga diri yang tentunya jauh lebih mahal daripada harga diri Arini yang murahan itu"


"Berapa harga diri kamu?" Semua orang langsung menoleh ke belakang dan melihat Arsen yang berjalan dengan wibawanya sambil menatap tajam Genita. Genita yang melihat Arsen seketika nyalinya langsung menciut. Tanpa sadar dia melepaskan tangannya dari rambut Shila. Dani langsung menghampiri Shila dan membawanya menjauh dari Genita. "Saya tanya sama kamu, berapa harga diri kamu yang tinggi itu?" Genita langsung melirik Gabriel dan Shila secara bergantian. Mereka berdua tersenyum puas. "Aku......"


"Aaaaaaaaaaaaaah"