
Tika langsung menemukan Alea di taman belakang. Dan seperti nya Alea tidak sendiri, dia bersama Rei sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Rei tertawa terbahak bahak. "Kakak Leaaaaaaaaa" Leon yang berada di gendongan Tika langsung berteriak ketika melihat Alea. Tangan nya langsung menjulur ke arah Alea.
Alea langsung menoleh dan matanya berbinar ketika melihat siapa yang datang. "Leon, akhirnya kamu datang juga. Kak Alea kangen tau" ucap Alea sambil menghampiri Tika dan mengambil alih Leon. Alea langsung menghujani Leon dengan ciuman yang membuat Leon tertawa geli. "Kakak Lea cantik" ucap Leon dengan wajahnya yang lucu.
"Bisa aja kamu Cil Cil" Sahut Rei dari belakang. Rei langsung memandang ke arah Tika. "loh Itik kapan dateng?" Tanya Rei pada Tika yang langsung mendengus tak suka.
"Namaku Tika kak bukan Itik, sembarangan aja tuh mulut"
Rei hanya menyengir dengan tampangnya yang tidak berdosa.
"Zain mana Tik? " Tanya Alea mengalihkan pembicaraan.
"Lagi di dalem sama kak Aiden"
"Kutub selatan dan Kutub utara disatukan, mereka lagi Cosplay jadi patung mungkin di dalam" Rei sendiri juga tau gimana iritnya Zain ketika berbicara. Rei sampai tidak betah jika ia bersama Zain. "Ya udah kita ke dalem aja yuk ngumpul sama semua orang" ajak Alea.
"Leon cium pipi kakak dulu" Alea menyodorkan pipi sebelah kanannya pada Leon. "Emmuachhh" Alea langsung menarik pipi Leon dengan gemas kemudian masuk ke dalam bersama Rei dan Tika.
Suasana di dalam rumah sudah mulai ramai sejak kedatangan Mario dan Cinta. Mereka baru saja Tiba di rumah Arsen setelah mendarat beberapa jam yang lalu. Sementara yang laki laki mengobrol, Arini dan yang lainnya pergi ke belakang untuk menyiapkan makanan. Mereka meninggalkan suami mereka masing masing.
"Arini, ini Biar mama aja yang masak. Mungkin dengan dibantu Bi Sumi. Kalian mengobrollah karena ini adalah acara anak muda" ucap Cinta sambil tersenyum.
"Enggak gitu juga Ma, Mama kan habis dari bandara pasti capek kalau harus masak juga"
"Iya tan, lebih baik tante aja yang istirahat. Via, Gabriel, Shila dan Arini Akan menyelesaikannya dengan baik" Sahut Vila.
"Udah gpp, Hari ini biar Tante aja yang masak. Kalian keluar gih" Cinta mendorong mereka perlahan agar keluar dari dapur. Dia hanya ingin Arini menikmati waktu bersama teman temannya nya. "Yah Tante mah ga asik padahal Shila Mau ikut gosongin makanan nya" ucap Shila yang dibalas toyoran oleh Gabriel.
"Muka lo aja sini yang gue gosongin Mau gak?"
"Miki li iji sini ying gii gisingin. mii gik? " Shila mencibir Gabriel dengan menirukan apa yang dikatakannya. Cinta hanya menggeleng sambil tersenyum pada mereka. "Udah udah Tante Mau masak dulu, kalian lanjutkan rencana kalian okay. Have fun sayang" ucap Cinta sambil memandang ke arah Arini.
"Iya ma makasih"
.
.
"Gimana perusahaan kalian?" tanya Arsen pada Max, Mario, Angga, dan Dani. Mereka semua sudah memiliki perusahaan masing masing jadi tidak heran jika Arsen menanyakan hal itu. Terlebih Angga, Meskipun sekarang Angga sudah menjadi direktur utama di perusahaan milik ayahnya yang sekarang menjadi milik nya, Angga juga tidak melepaskan pekerjaannya sebagai Dosen. Sama hal nya dengan Dani, Dani bisa memiliki perusahaan karena hasil kerja kerasnya selama ini.
"Sejauh ini lancar dan berjaya, Perusahaan Gue selalu dalam 10 besar dan itu masuk di nomor 3" ucap Max
"Perusahaan Papa sekarang naik jadi nomor 2"
Arsen mengangguk sedangkan Angga dan Dani dia sudah mengetahui jawabannya. "
Sementara itu Zain dan Aiden juga ikut bergabung bersama ayah mereka. Aiden menatap Zain dengan sengit begitu pun dengan Zain. Keduanya saling melemparkan tatapan tajam yang membuat para orang tua mereka heran. "Gue tahu gue tampan gak usah lo liatin mulu" Aiden menarik sudut bibirnya dengan sinis.
"Copot aja matanya biar ga sakit gitu aja ribet"
"Boleh, asal lo duluan"
Dani menarik telinga Zain dengan keras. "Yang sopan sama yang lebih tua, Papi ga pernah ngajarin kamu seperti itu"
Aiden menahan tawanya ketika melihat Zain yang dipegangi telinganya. Zain langsung menarik tangan Dani dengan kesal. "Owalah dia lebih tua, pantes"
"Pantes apaan? "
"Pantes mukanya mirip kakek kakek"
Arsen tertawa melihat perdebatan itu. Siapa yang menyangka jika Zain dan Aiden memiliki sifat yang hampir sama. "Anak lo calon jagoan tuh kek nya" ucap Angga pada Dani.
"Tapi Sifat nya kok jauh banget sama lo Dan jangan jangan lo bukan bapaknya" timpal Max.
"Sembarangan aja lo, tuh bocah emang hasil produksi gue. Ga tau kenapa Sifat nya gitu. Mungkin karena Shila pas Hamil suka marah marah " Elak Dani.
"Mau adu panco? Kita lihat siapa yang lebih kuat. Tapi kalau lo takut sih ga... "
Zain berdiri kemudian menarik tangan Aiden Dan membawanya ke meja. "Gak usah banyak bicara, cukup bukti kan.
" Menurut kalian siapa yang Akan menang? " tanya Mario pada mereka berempat.
"Aiden" itu jawaban Arsen.
"Tentu saja bocah gue, Zain"
"Gue dukung ponakan gue aja dah Aiden" timpal Max.
"Gue Zain" sahut Angga.
Mereka semua sangat antusias. Aiden memberi aba aba untuk memulainya. Zain mengangguk. Dan mereka pun memulai pertandingan yang sengit.
"Kalau gue menang, lo harus gendong gue seharian" ucap Aiden.
"Oke, tapi kalau gue yang menang lo, harus akui kalau gue lebih kuat dari pada lo di semua Sosmed lo"
"Oke"
"Satu, dua, tiga"
"KAKAK DEN DEN, LEON KANGEN"