
"Cut, Ganti posisi" Arini mengalungkan tangannya di leher Langit sambil menatap matanya, sedangkan langit ia memposisikan tangannya di pinggang Arini. Langit menempelkan keningnya dengan kening Arini hingga hidung mereka bersentuhan. Sang fotografer yang melihat chemistry mereka cukup terkesan, karena mereka bisa membawakan gaya apa saja. Dalam satu menit saja dia sudah mendapat banyak foto yang bagus.
Setelah selesai mengambil foto, Arini melepaskan tangannya kemudian menunggu perintah selanjutnya. Langit berbisik di samping telinga Arini. "Gue salut sama lo, seperti udah biasa gaya ginian" Arini hanya membalas dengan senyuman tipisnya.
Seorang wanita bertubuh tinggi menghampiri Arini. "Ikut saya lagi ya? Kamu harus berganti kostum sekali lagi" Arini mengangguk lalu ia melambaikan tangan pada Langit. Langit juga mengganti Jas nya dengan apa yang diberikan oleh Asistennya. Hal itu agar sesuai dengan gaun yang Arini pakai untuk kali ini.
Beberapa menit kemudian Arini kembali lagi dengan penampilan yang berbeda. Rambutnya sudah tidak digerai lagi melainkan disanggul hingga leher mulusnya terlihat oleh langit. Dan jangan lupakan Gaun nya yang malah menunjukkan belahan dada Arini. "Kamu seksi" ucap Langit pada Arini. "Tentu, kamu juga kok"
Sang fotogtafer yang ternyata adalah Nino, menghampiri mereka. "Untuk gaya pertama Langit memeluk Arini dari belakang kemudian Arini menoleh dan menatap mata Langit. Pokoknya kalian harus bergaya sensual agar seduai dengan pakaian yang dipakai Arini"
"Baiklah, ayo kita mulai lagi" Jantung Arini terasa mau meledak saat Langit memeluknya dari belakang, tangan besarnya memeluk pinggang Arini. Tidak ingin lebih lama lagi, Arini menoleh ke belakang dan tatapan matanya bertemu dengan mata Langit. Mereka berdua saling menatap satu sama lain. Ckrek, Ckreek, Ckreekk
"Langit, dekatkan wajah kamu pada Arini. Buatlah seolah olah kamu sedang menciumnya" langit mengangguk, ia mendekatkan wajahnya pada Arini. "Jantung gue kenapa makin jedag jedug sih, tahu aja nih jantung kalau aku lagi sama cogan," batin Arini. Nino mengamatinya dari jauh, seperti ada yang kurang pas dengan gaya mereka. Nino berjalan menghampiri mereka dan membalikkan Arini hingga berhadapan langsung dengan Langit. "Lebih gampang gini, selanjutnya kamu tahu kan apa yang akan kamu lakukan?"
"Hmm" jawab Langit. Nino menjauh kemudian mengambil kameranya lagi. Bersiap untuk memotret Langit dan Arini. Langit mengangkat dagu Arini kemudian ia mendekatkan wajahnya. Demi apapun wajah mereka benar benar dekat, jika sedikit saja Arini bergerak mungkin bibir mereka akan saling bersentuhan.
Arsen sudah tiba di lantai 5, ia mencari tempat yang dimaksud oleh Via tadi. Cukup mudah buatnya untuk mencarinya. Karena di depan sana terlihat keramaian dan banyak orang yang keluar masuk ke dalam ruangan itu. Arsen yakin Arini ada di dalam sana. Tanpa aba aba Arsen menerobos semua orang dan masuk ke dalam ruangan itu dengan paksa. Tidak ada yang berani melarangnya? Karena mereka semua tahu siapa Arsen. Mereka tidak ingin berurusan dengan Arsen kalau mereka ingin aman.
Mata Arsen semakin menggelap melihat langit yang hampir mencium Arini. Arsen berjalan ke arah mereka dengan tangannya yang mengepal kuat. Arsen langsung meghantamkan kepalan tangannya pada wajah Langit, hingga pria itu jatuh ke lantai. Arini syok. "Bajingan kau..kau pikir siapa hah? Berani beraninya kamu mau mencium putri saya" BUGH, BUGH, BUGH, BUGH semua orang yang ada disana berusaha memisahkan Arsen, terlebih Jacky. Dia tidak rela putranya disakiti oleh Arsen.
"Anda benar benar kejam, putra saya tidak akan mencium putri anda, apa anda tidak lihat? Mereka berdua sedang pemotretan. Dan anda memukul putra saya hingga menyebabkan wajahnya hancur seperti ini' ucap Jacky dengan berani. Ayah mana yang rela anaknya disakiti oleh orang lain.
"Saya tidak peduli, urus anak anda itu. Jangan sampai saya melihatnya lagi' Arsen beralih menatap Arini, wajahnya sudah tidak bisa diekspresikan lagi melihat gaun Arini. Arsen langsung menggendong Arini seperti membawa karung beras.
"Daddy lepasin, Arini bisa jalan sendiri" ucap Arini. Arsen tidak mendengarkannya ia terus berjalan membawa Arini ke mobilnya. Gadis itu sudah membangunkan sisi lain dalam dirinya. Arsen membuka pintu mobilnya dengan kasar kemudian mendorong Arini masuk ke dalam. Arini meneguk ludahnya ketika melihat tatapan Arsen yang sangat tajam. Arsen juga masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Arini. Arsen mendekatkan wajahnya seperti yang Langit lakukan tadi. Ia mengurung Arini di kedua tangannya. "Posisi seperti ini kan yang kamu inginkan"
Arini menggigit bibirnya, suara Arsen benar benar seksi. Membuat bulu kuduknya merinding seketika. Meskipun Arsen bukan makhluk halus tapi dia bisa membuat orang orang di sekitarnya menegang termasuk Arini. Arsen mengangkat tangannya dan mengusap leher Arini dengan tangannya. kemudian mengusapnya dengan lembut sambil menatap wajah Arini. "Leher ini, tidak ada yang boleh melihatnya selain Daddy" tatapan Arsen turun pada kedua bongkahan daging kenyal milik Arini. "Apalagi yang ini, tidak ada yang boleh menyentuhnya selain Daddy."
"Ini tubuh Arini, bukan punya Daddy. Lagian Daddy masih punya tante Linda yang lebih bohay, bahenol dan seksi itu" Arini memalingkan wajahnya agar tidak melihat Arsen lagi. Tapi Arsen tidak membiarkannya, Arsen menahan wajah Arini hingga tatapan mereka bertemu lagi. "Yah kamu benar Linda memang lebih bohay dan seksi dari pada kamu"
Arini memegang sudut bibirnya yang bsru saja dicium oleh Arsen, dalam hatinya ia bersorak senang. Itu artinya rencana mereka berempat berhasil meskipum harus terjadi keributan sebentar. "ARSEEEEEEEEEEEEEEEN" Linda mengetuk pintu mobil Arsen, ia sudah kesal karena ditinggal di Mall sendirian, dan sekarang Arsen malah mau meninggalkannya lagi. "Arsen buka pintunya, aku mau pulang sama kamu"
Arini tersenyum mengejek. "Bukain Dad, masa calon istri mau ditinggal" Arsen menatap Arini dengan tajam kemudian membukakan pintu untuk Linda, si mesin rusak itu. "Ada apa?" tanyanya dengan datar. "Aku mau pulang lah, kan tadi aku kesini bareng kamu. Jadi pulangnya harus sama kamu" Arsen mengambil dompetnya dari saku celananya kemudian mengambil beberapa lembar uang ratusan Ribu. "Pulang sendiri, ini ongkos buat naik taksi"
Setelah mengatakan itu Arsen masuk ke dalam mobil kemudian meninggalkan Linda sendirian.
"Mampus, emang enak ditinggal" batin Arini. Oh astaga, Arini lupa. Urusannya dengan langit dan Jacky kan belum selesai. Arini harus menyelesaikan masalah yang dibuat Daddy nya itu. Tanpa sadar ia memanyunkan bibirnya sendiri.
Lagu Im fine mengalun dari ponselnya, Arini mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan dari Langit. Arini dan Langit memang saling bertukar nomor ponsel, sebelum Arsen datang dan menghancurkan semuanya. Arini melirik ke arah Arsen sebelum mengangkat telfonnya.
"Halo"
Arsen menolehkan kepalanya ketika tahu Arini sedang menerima telfon dari seseorang. "Iya gue gak apa apa kok, harusnya gue yang nanya sama lo. Lo jadi terluka gara gara Daddy gue" Arsen masih fokus menyetir tapi telinganya terus mendengarkan percakapan mereka. "Syukur deh kalau begitu, oh iya tentang foto foto kita sebelumnya. Papa bilang mau dijadikan sampul majalah. Gimana pendapat lo?"
Arini tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya meskipun tahu Langit tidak melihatnya. "Gue tidak masalah, lagian semua foto kita bagus bagus tadi. Oh iya nanti kirim semua foto yang sudah lo simpan tadi. Gue mau melihat juga"
"Oke, bentar lagi gue kirim. Gue mau pergi ke luar dulu. Mau ngurus sesuatu."
"Iya"
Arini menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sambil menempelkan ponselnya di dadanya. Menjadi model iklan dan dicium oleh Arsen memang rejeki nomplok bagi dia. Arini akan menceritakan semuanya pada ketiga sahabatnya. Mereka berperan penting dalam hal ini.
"Gak usah senyam senyum, kamu jelek kalau senyum buat orang lain"
Arini makin melebarkan senyumnya. Ia ingin segera tiba di rumah dan melompat ke atas kasur empuknya. "Terserah Arini dong, lagian senyum Arini itu manis. Rendi sama langit juga bilang begitu" Arsen mendengus, kenapa setiap kali Arini bersamanya selalu menyebut nama Rendi. Dan sekarang ditambah Langit. Arini juga sudah jarang bermanja manjaan dengannya. Biasanya Arini selalu menempel padanya ketika pulang dari kantor. Kalau sekarang, boro boro mau nempel. Habis makan malam Arini langsung pergi ke kamar dan mengunci diri. Kemudian tertawa tak jelas.
"Mulai sekarang aku harus menjaga Arini lebih ketat, dia begitu mudah dekat dengan laki laki. Posisiku bisa saja terancam dari hatinya. Ah kenapa sekarang aku juga tidak rela Arini melupakan cintanya padaku. Apa benar aku sudah mulai menyukainya?