Hot Daddy

Hot Daddy
Pikiran Max



Arsen menyuapi Arini makan dengan bubur yang baru dibelikannya. Dia sudah mendapat kata maaf dari Arini meskipun pada awalnya Arini lebih banyak diam saja. "Mau lagi? " Tanya Arsen ketika bubur yang ada di mangkoknya sudah habis. Arini menggelengkan kepalanya lalu Arsen mengambilkan air putih untuk Arini dan memberikannya untuk diminum. Setelah semuanya selesai Arsen membantu Arini untuk berbaring lagi. "Sekarang kamu istirahat ya biar aku yang jaga disini" Arini terus melihat ke arah Arsen, tangannya terangkat dan menyentuh rambut rambut halus yang tumbuh di sekitar pipi dan dagu Arsen. "Kenapa gak dicukur Mas?" Tanya Arini.


"Hanya ingin saja" Jawab Arsen. Arini mengangguk lalu dia bersiap untuk tidur. Tubuhnya masih lemas sekali sehingga Arini tidak banyak berbicara. Dia berbicara hanya seperlunya saja. Arsen yang takut Arini kedinginan langsung mengambilkan selimut untuknya dan menyelimuti Arini. Mencium kening Arini dengan sepenuh hati. "Selamat beristirahat sayang" Ucapnya. Arini mulai terlelap sedangkan Arsen dia terus menjaga Arini sampai Arini benar benar tidur nyenyak. Arsen tidak peduli jika punggungnya sangat pegal akibat duduk di kursi terlalu lama. Yang penting saat ini Arini tidur dengan nyaman. Tiba tiba pintu ruangan Arini dibuka dari luar, Arsen menoleh sebentar dan melihat Max yang masuk membawakannya kopi. "Minumlah, aku tahu kamu tidak akan tidur malam ini"


Arsen mengambil kopi dari tangan Max kemudian dia pindah ke sofa yang ada di dalam ruangan Arini. "Kamu sendiri kenapa belum tidur? Memangnya Via, sudah tidur? " Max mengambil tempat di samping Arsen. "Kalau via belum tidur aku tidak mungkin kesini. Aku hanya ingin memastikan saja kalau kamu masih menjaga Arini dan tidak meninggalkannya Lagi" Ucap Max dengan penuh penekanan. "Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, aku bukan orang lain. Jika aku salah ya wajar karena aku masih manusia. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa melihat aku yang sempurna. Karena aku tidak memiliki kesempurnaan" Perkataan Arsen berhasil membuat Max terdiam. Max merasa bersalah karena dia terus memojokkan Arsen. "Pernah menyakiti bukan berarti dia akan menyakiti terus, akan ada waktunya untuk orang itu berhenti. Sama seperti aku yang pernah membuat Arini kesakitan tapi bukan berarti aku harus mengulanginya lagi kan. Kamu boleh menasehatiku, boleh menegurku tapi kamu jangan menuntut kesempurnaan dari aku.


"Aku hanya ingin Arini baik baik saja. Tidak ada maksud untuk membuatmu merasa begitu. Kamu tahu kan dari dulu aku, sangat menyayangi Arini. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkan Arini dilukai orang lain apalagi kamu" Arsen mengangguk kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau pergi sebentar, tolong jaga Arini dulu."


"Mau kemana? " Tanya Max. "Mau merokok sebentar" Setelah itu Arsen pergi meninggalkan Max sendirian di dalam sana. Max tidak bisa berbuat apa apa, sepertinya dia sudah ikut campur terlalu banyak di hubungan mereka. Max berpikir tentang sesuatu tapi sepertinya itu bukan pemikiran yang bagus. Max mengacak acak rambutnya, sendiri kemudian melihat ke arah Arini yang tertidur nyenyak.


.


.


Keesokan harinya, hari ini Arini diperbolehkan pulang oleh Dokter karena keadaannya sudah membaik. Semua anggota keluarga sangat senang mendengarnya. Apalagi Shila dan Gabriel mereka juga ikut senang. Mereka menginap di rumah sakit semalaman hanya untuk menjaga Arini meskipun tidak di dalam ruangan. "Ada yang sakit gak? Lo mau, apa biar gue sama Gabriel yang nyiapin?" Ucap Shila dengan bertubi tubi. Hari ini giliran mereka, berdua yang masuk ke dalam. Arini tersenyum melihat perhatian dari kedua sahabatnya. "Sebenarnya gue gak ingin apa apa sih, cuma karena lo udah nawarin kan kasian. Gue pengen nasi goreng dicampur telur terus ditambah mie habis itu minumnya es jeruk aja"


"Enggak usah, tadi gue udah sarapan sama Mas Max."


"Yaudah kalau gitu gue sama Shila pulang dulu ya. Nanti kita kembali lagi kok" Arini berusaha untuk bangun sehingga Via membantunya. "Makasih ya buat kalian berdua, maaf kalau gue cuma bisa ngerepotin kalian doang." Ucp Arini sambil melihat ke arah mereka. "Ngomong apa sih lo, lo gak pernah ngerepotin kok. Lagian kalau pun lo emang ngerepotin kita malah seneng direpotin sama lo. Iya kan Gab? "


"Bener Rin, udah lah gak usah ngomong kek gitu. Kita kan sahabat jadi wajar aja kalo kita senang direpotin lo" Sambung Gabriel. "Ya intinya makasih aja buat kalian"


"Iya iya yaudah kita pulang dulu, sampai nanti ya"


"Iya hati hati di jalan" Ucap Arini.


Gabriel hanya mengangkat jempolnya dan segera pulang bersama Shila.