Hot Daddy

Hot Daddy
Duda lagi



Arsen, Arini, Doni dan Cafe sekarang mereka berempat berada di sebuah cafe. Sejak kejadian Arsen jatuh di taman itu Arsen menunjukkan wajah masamnya kepada Arini. Arini juga tidak merayunya dia hanya membiarkannya saja. "Jadi sejak kapan kalian punya hubungan?" tanya Arsen sambil memotong daging di piringnya dengan sendok dan garpu. Seketika Gabriel langsung tersedak setelah Arsen bertanya hal itu dan dengan sigap Doni langsung memberikan Air untuk Gabriel. "Pelan pelan makannya" ucap Doni. Gabriel mengangguk lalu meminum air yang diberikan Doni dengan cepat. "Sejak kapan kalian punya hubungan?" tanya Arsen lagi. Doni melirik ke arah Gabriel sebentar. "Sepertinya bapak salah paham karena saya dan Gabriel tidak memiliki hubungan apa apa, kami hanya sebatas teman biasa saja" raut wajah Gabriel langsung berbeda dan Arini menyadari hal itu.


"Beneran teman biasa kak?" tanya Arini. Doni menganggukkan kepalanya dengan ragu ragu. "Iya" jawabnya. Arini langsung berhenti makan kemudian dia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. "Syukur deh kalau gitu, kalau kakak memang teman BIASA dari Gabriel. Soalnya aku mau nyomblangin Gabriel ke teman kampus aku dulu. Dia juga sangat menyukai Gabriel" Gabriel mengisyaratkan Arini untuk berhenti. Arini hanya meletakkan ibu jarinya di bibirnya sambil menatap Via. "Atau kamu mau sama teman saya Gabriel? Tapi sayangnya dia duda. Umurnya masih muda 29 tahun dan pekerjaannya juga mapan" Arsen semakin memanas manasi Doni, dia juga ingin Doni sadar kalau cinta itu harus diperjuangkan bukan dipasrahkan.


"Ini kenapa pada nyomblangin aku semua sih" batin Gabriel. Tanpa sengaja Gabriel menoleh ke arah Doni dan tatapan mereka bertemu. Gabriel langsung memalingkan wajahnya dia tidak ingin Doni tahu kalau wajahnya sekarang sudah memerah karenanya. "Kalau boleh tau nama temannya Om siapa?" Doni langsung kaget dan melihat ke arah Gabriel dengan tatapan yang tidak percaya. Arini tertawa geli dalam hatinya, bisa bisanya sahabatnya meladeni ucapan suaminya. "Namanya Angga Alfareza, kalau kamu memilih dia dijamin tidak akan menyesal, selain pekerjaannya mapan dia juga punya wajah yang tampan tapi tidak lebih tampan dari saya" Arini hanya mendengus ketika mendengat akhir kalimat Arsen. Memangnya sejak kapan suaminya itu bisa narsis seperti itu.


"Sebentar lagi dia juga akan kesini, saya sengaja mengundangnya untuk mempertemukan kalian berdua"  Gabriel semakin penasaran dengan siapa yang Arsen maksud apalagi namanya juga sama dengan nama dosennya di kampus. "Kok mas gak bilang aku dulu?" protes Arini. "Apa untungnya mas bilang ke kamu?" Arini akan berbicara lagi tapi suara seseorang membuatnya terjeda. "Maaf aku terlambat" semuanya langsung menoleh pada orang itu. "PAK ANGGA?"  jangan tanya itu suara siapa karena sudah jelas sekali dia adalah Gabriel. Bahkan Doni pun juga terkejut kalau yang dimaksud Arsen adalah Angga dosen Gabriel di kampus.


"Loh Gabriel? Kamu kenapa ada disini?" Arsen menatap Angga dan Gabriel secara bergantian. "Kalian sudah saling kenal?" tanya nya. "Pak Angga ini dosen saya om" jawab Gabriel sambil meringis karena yang dicomblangkan dengan dirinya adalah dosennya sendiri. "Jadi dosen yang lo ceritain waktu itu pak Angga?" Gabriel langsung menutup mulut Arini agar tidak membocorkan informasi rahasianya. Gabriel memang pernah menceritakan tentang dosen barunya kepada Arini dan siapa sangka kalau dosen yang ia maksud itu adalah teman suaminya. Keadaan semakin canggung Angga dipersilahkan duduk oleh Arsen dan duduknya juga di samping Doni. Alhasil suasana semakin  hening. "Jadi kamu ngundang aku kesini untuk apa?" tanya Angga pada Arsen. Dalam hatinya Angga berterima kasih pada Arsen karena berkat dirinya dia bisa melihat Gabriel disini.


"Yah saya memang Duda dan saya juga berumur dua puluh sembilan. Gabriel, saya tahu kalau kamu berpikir umur saya dua puluh empat" Gabriel mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Angga. "Saya tidak pernah berpikir seperti itu pak" jawab Gabriel yang membuat Angga tersenyum manis. "Saya mendengarnya sendiri Gabriel, waktu itu kamu sedang bicara dengan Shila"


"Maaf pak sepertinya saya harus pulang duluan. Ibu saya membutuhkan saya di rumah" ucap Doni lalu segera beranjak pergi meninggallan Gabriel yang bertanya tanya. "Jangan sampai kamu menyesal Doni" gumam Arsen. Arini mendengarnya. "Jadi, gimana Gabriel. Apa kamu mau jika bersama Angga?"


Angga yang tidak mengerti hanya mengenyitkan keningnya. Gabriel masih belum menjawab dia perlu untuk mencerna semua kebetulan ini. Angga dosennya yang di kampus ternyata adalah teman dari suami sahabatnya. Dunia memang benar benar sempit sampai dia harus dipertemukan dengan Angga lagi disini.