Hot Daddy

Hot Daddy
Arini Mual Mual



Arini terbangun dari tidurnya saat mencium Aroma yang sangat Lezat, dia langsung menyingkirkan selimutnya kemudian memakai alas kaki untuk turun dari kasur. Penampilan Arini yang masih baru bangun tidur sangat berantakan meskipun kecantikannya tidak dapat dikurangi. Arini baru saja akan membuka pintu kamarnya tapi setelah mendengar suara langkah kaki Arini langsung kembali dan berpura pura seolah dia masih belum sadarkan diri. Pintu pun terbuka dengan sendirinya, Arsen datang dengan membawa nampan yang berisi makanan Lezat. Hari ini Arsen sampai rela belajar memasak hanya untuk membuat istri kecilnya itu senang dan tidak marah lagi.


Arsen meletakkan nampan itu di atas nakas di samping kasur. Kemudian dia membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Arini yang masih tidur atau lebih tepat pura pura tidur. Arsen menguraikan rambut Arini ke belakang agar tidak menutupi wajahnya yang sedang tidur. "Sayang, bangun yuk. Ini sudah malam, sudah waktunya kamu untuk makan malam dan minum susu kehamilan" Arsen menggoyangkan tubuh Arini dengan lembut seolah olah Arini adalah Benda yang mudah pecah. Arini masih tetap tidak membuka matanya, dia ingin melihat usaha Arsen untuk membangunkannya.


"Arini, bangun. Ayo cepat buka matamu" tidak ada respon lagi, Malah Arini membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain. Arini terus menahan bibirnya agar tidak tersenyum, sungguh kelakuannya sangatlah konyol hari ini. Arsen menghela nafasnya dengan lelah, lalu dia menemukan sebuah ide cemerlang di otaknya. Arsen langsung membuka baju yang ia pakai hingga bertelanjang dada. Setelah itu Arsen menindih tubuh arini dengan tangannya yang dijadikan sebagai penopang. Arsen mengecup pipi, mata dan semua bagian wajah Arini yang juga termasuk bibir. Tidak ada satu pun bagian yang terlewatkan oleh ciuman bibir hangatnya itu. "Bangun atau Daddy akan melakukan yang lebih dari ini" bisik Arsen di telinga Arini.


Arsen tersenyum smirk, Dirinya tidak akan mudah tertipu. Sedari tadi dia tahu kalau Arini hanya pura pura tidur. Jangan berpikir jika Arsen mudah dibohongi karena Arsen tidak akan tertipu. Arsen adalah Arsen, Mafia tergila sekaligus pengusaha terlicik yang pernah ada di dunia. "Daddy hitung sampai tiga jika kamu masih tidak bangun, biarkan Junior Daddy yang akan membangunkanmu." Arini menggigit bibir bawahnya karena sepertinya Arsen tidak main main. "Satu....." Masih tetap memejamkan mata. "Dua......" Mata Arini mulai membuka sedikit. "Ti......" Arini langsung bangun dengan cepat dan membuka matanya dengan lebar. "Arini bangun Dad" ucap Arini dengan keras.


"Kamu tidak perlu berpura pura tidur seperti itu, Daddy tidak bisa dibohongi." Arsen mengambil semangkok bubur kacang hijau dan susu kehamilan itu. "Bubur kacang hijau?" Arsen mengangguk kemudian mengambil alih bubur itu dari tangan Arini. "Daddy tidak bisa memasak yang lain, hanya ini yang bisa. Dan soal susu kehamilan itu, kamu harus meminumnya sekarang juga." Arsen mengambil sesendok bubur itu kemudian menyuapkannya pada Arini. "Buka mulutmu" Dengan siap Arini langsung membuka mulutnya dengan lebar dan memakan bubur itu. Arini mengernyitkan keningnya ketika bubur itu masuk ke dalam mulutnya, wajah Arini seperti menahan sesuatu. "Kenapa?' tanya Arsen.


Arini menggelengkan kepalanya, tangannya akan menutup mulutnya tapi tiba tiba saja dia langsung memuntahkannya pada tubuh Arsen yang sedang bertelanjang Dada. Alhasil Arsen menjadi basah bubur kacang ijo karena Arini. Tubuhnya menjadi lengket sekali. "Maaf Dad, tadi gak sengaja" Sesal Arini dengan penuh penyesalan. Meskipun sedikit kesal tapi Arsen tidak ingin melampiaskan pada Arini, arsen berfikir hal itu terjadi karena anak yang ada di dalam kandungan Arini. "Untung Istri, kalau bukan sudah habis di tanganku" batin Arsen.


Arsen sudah pasrah, dia membiarkan tuhuhnya terkena muntahan Arini. "Masih mual lagi? Keluarin semuanya mumpung belum mandi" ucap Arsen. Arini hanya menggelengkan kepalanya kemudian membersihkan mulutnya dengan tisu. Arsen turun dari ranjang kemudian mengganti sprei kasur Arini dengan yang baru, dia juga membersihkan wajah Arini dengan air karena mulutnya yang belepotan. "Dad, sana ih mandi dulu. Udah bau nanti aku malah mual lagi" ucap Arini sambil menjepit hidungnya dengan kedua tangannya.


"Loh, ini kan ulah kamu Daddy menjadi kotor seperti ini?"


"Kok Aku, Tanyain sama dedek bayi nya lah kenapa dia bisa muntah sama kamu? Emangnya aku bisa?" Sinis Arini kemudian. Arsen memilih mengalah saja, lagi pula ia tidak suka berdebat dengan istrinya bisa bisa rumah tangga mereka hancur nanti. "Ya sudah aku mandi, kamu juga bersihkan diri kamu" Arsen turun dari ranjang dan mengambil handuk.


"Selamat" batin Arini sambil mengelus dada