Hot Daddy

Hot Daddy
Family time



Sudah dua hari sejak Arini pulang dari rumah sakit, sekarang Arini mulai aktif mengurus bayi kembarnya. Dia memandikan, menyusui, atau bahkan menggantikan kainnya. Arsen juga sudah mulai belajar dengan Arini, dia takut ketika Arini sakit nanti tidak ada yang bisa merawat anak anaknya. "Jadi kainnya itu harus diginikan Mas yang penting jangan sampai terikat biar mereka tidak tercekik. Gampang kok caranya. Mas paham kan?" tanya Arini sambil menoleh pada Arsen. "Itu hanya masalah kecil, kalau tahu itu gampang kemarin kemarin aku yang menggantikan kainnya" Arini mencibir perkataan Arsen karena apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan kenyataan. "Sekarang Aiden sudah ganteng, gendong sama Daddy dulu ya. Mommy mau mengurus adik adik kamu dulu" Arini mencium pipi Aiden dengan gemas kemudian memberikannya pada Arsen. "Nih Mas, gendongnya hati hati." Arsen menerima Aiden dengan tangannya. Kemudian dia mengamati wajah Aiden yang damai dan tenang. Dia seperti tidak terganggu dengan apapun. "Kamu boleh mirip Daddy tapi jangan sampai kamu seperti Daddy, okay. Tapi Daddy janji kalau kamu sudah besar Daddy akan mengajarimu sesuatu untuk melindungi keluarga kita terutama Mommy dan adik adikmu" Aiden hanya mengedipkan mata sambil menggeliatkan tubuhnya yang terbungkus kain bedong. "Anak pintar" ucap Arsen lagi.


"Arini, Rei sudah kamu gantikan kain bedong?" itu adalah suara Mila. Mila dan Garda masih menginap di rumah Arsen dan Arini. Mereka ingin menghabiskan waktunya bersama dengan cucu cucu mereka sebelum kembali ke jepang. Mereka berniat untuk kembali ke jepang dalam waktu seminggu lagi. Garda tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih lama. "Sudah Ma, Rei juga sudah menyusu. Hanya Alea saja yang belum" ucap Arini sambil terus membedong putrinya dengan hati hati. Mila mengangguk lalu kemudian mengambil Rei dari box bayi. "Mama bawa keluar sebentar gpp kan? Sama papa juga. Tapi sepertinya Max dan Via mau ikut. Kamu mau ikut juga?" Arini mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah ibu mertuanya. "Enggak Ma, Arini mau jaga Aiden sama Alea aja di rumah" jawab Arini dengan halus.


Mila mengangguk sambil tersenyum. "Ya sudah kalau begitu Mama bawa Rei dulu. Jangan lupa bilangin sama Arsen" ucap Mila lagi. Arini menjawab dengan anggukan kemudian membiarkan Mila pergi dari kamarnya. "Putri Mommy hari ini jangan rewel ya, kan semalam udah rewel masa sekarang harus rewel lagi." Semalam Alea benar benar rewel sehingga membuat Arsen dan Arini tidak bisa tidur. Arini memberinya asi tapi tetap saja Alea menangis. Apalagi suara tangisannya sangat keras  sehingga semua orang rumah keluar untuk menanyakan ada apa. Alea tersenyum ketika Arini membicarakan hal itu. "Alea senyum sama Mommy, Alea yang nakal nakal ini senyum sama mommy. Senang ya bisa bikin Mommy gak bisa tidur" Arini bercanda dengan Alea, putri bungsunya. Arini langsung mencium Alea lagi dengan gemas. "Emmm Mommy beneran gemes sama Alea, kita temui abang sama papa dulu yuk"


"Iya, ini berkas untuk kupelajari buat besok. Aku sengaja membawanya ke rumah agar bisa kupelajari sambil menjaga anak anak seperti ini" jawab Arsen. Jawaban Arsen membuat hati kecil Arini merasa bangga. Sesibuk apapun Arsen dia tidak akan melupakan keluarganya.


"Aku bekerja keras seperti ini bukan cuma untukku saja. Tapi untuk anak anak di masa depan. Terutama Aiden, karena kelak dia yang akan menggantikanku disaat aku sudah mulai menua. Aku tidak ingin anak anakku hidup susah, aku ingin mereka semua bisa hidup dengan layak seperti kita yang sekarang." Arini tersenyum kemudian dia melihat wajah polos Alea. "Sebagai orang tua kita pasti menginginkan yang terbaik untuk anak anak kita Mas" Arsen kemudian menoleh, dia mencium kening Arini lalu mencium wajah Alea dengan singkat. "Mama sama papa mana?" tanya Arsen kemudian. "Baru saja keluar, tadi Mama juga membawa Rei. Uncle Max sama Via juga ikutan" Arsen mengangguk.  Tiba tiba Arsen melihat mulut Aiden yang bergerak gerak seperti ketika dia menyusu. Arsen menoleh pada Arini dengan tanda tanya di kepalanya. Arini tertawa geli. "Kalau sudah begitu berarti Aiden mau minum Asi Mas. Yaudah kita tukeran dulu. Kamu gendong Alea aku mau menyusui Aiden"