
Arini berjalan ke taman belakang bersama dengan Arsen, pembicaraan mereka cukup Privat, Arini tidak ingin ada yang mendengarkan pembicaraannya, apalagi ini menyangkut tentang kehormatan Daddy nya. "Duduk Dad" titah Arini ketika mereka telah sampai di taman. Arsen mengangguk lalu mengambil tempat di sebelah Arini.
Tatapan Arini lurus ke depan, ia masih membayangkan bagaimana bisa Arsen melakukan hal sekeji itu. Tapi satu hal yang Arini tidak tahu, apa alasan Arsen melakukan itu. Dan sekarang Arini harus menanyakan semuanya pada Arsen.
Arini mengambil selembar foto yang sedari tadi ada dalam genggamannya, lalu menunjukkannya pada Arsen. "Ini apa Dad?" tanya nya dengan sedikit Dingin. Arsen menatap Arini dengan terkejut, bagaimana bisa foto yang ia ambil waktu itu ada pada Arini. Yah, Arsen memang sempat mengambil foto dirinya ketika melancarkan aksinya pada Charles. Niat hati ingin memajang foto itu di ruang gelapnya untuk dijadikan satu dengan para korban yang dibunuhnya.
"Dari mana kamu dapat foto itu?' tanya Arsen. Arsen meremas foto itu dengan kasar kemudian memasukkannya ke dalam sakunya. Arini menatap Arsen dengan wajah yang tidak dapat diartikan. "Arini gak sengaja mengambilnya waktu itu di samping meja kantor Daddy. Dan sekarang Arini mau tanya, apa benar Kalau Daddy yang membunuh Uncle Charles?"
Arsen tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya, lagi pula ia memiliki alasan sendiri untuk melakukan itu. "Yah, memang Daddy yang melakukannya. Tapi Daddy punya Alasan untuk itu" ucap Arsen sambil memandang wajah Arini yang sepertinya sangat kecewa sekali dengan jawabannya
" Arini awalnya tidak percaya kalau itu adalah Daddy tapi setelah melihat foto itu dengan baik barulah Arini sadar kalau disitu adalah Daddy. Tapi Alasan apa yang membenarkan Daddy untuk membunuh? Apalagi ini adalah...Oh my god...Ini Uncle Charles Dad, Sepupu Daddy sendiri" Arini mengeluarkan semua unek unek yang ingin disampaikannya pada Arsen.
Arsen menatap Arini dengan tajam yang dibalas dengan tatapan yang lebih tajam dari Arini. "Kamu mengatakan seperti itu karena kamu tidak tahu betapa busuknya uncle yang kamu bela sekarang itu" ucapnya dengan jelas. Bahkan mulutnya saja sudah tidak sudi untuk menyebut nama orang itu.
"Apa maksud Daddy? Apa yang Arini tidak ketahui tentang semua ini. Katakan semuanya Dad, sebelum Arini benar benar membenci Daddy" mendengar hal itu dari mulut Arini, Arsen langsung marah, rahangnya mulai mengeras. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir milik Arini, kemudian menciumnya dengan kasar. Bahkan Arsen tak segan segan untuk menggigit bibir itu.
Arini terus memberontak dalam ciuman Arsen, bahkan ia sampai meneteskan air matanya. Tangisan Arini tidak membuat Arsen luluh begitu saja, ia tetap ******* bibir mungil itu dengan kasar. Bibir itu perlu dihukum karema berani mengatakan untuk membenci Arsen.
Setelah lima menit kemudian, Arsen melepaskan ciumamnya. Arini langsung beringsut menjauh dari Arsen sambil memegang bibirnya yang telah bengkak. "Jangan membuat Daddy marah atau Daddy akan melakukan hal yang lebih dari ini" Arsen pergi setelah memgucapkan kata terakhirnya dan meninggalkan Arini sendirian.
.
.
"A..aaaahhh" Sial, Sepertinya kejantanannya mulai menegang hanya dengan menyebut nama Arini. Apalagi tadi Arsen mencium bibir Arini. Arsen memasukkan tangannya ke dalam Air dan mulai melakukan kegiatan solonya.
.
.
Arini masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Hari ini ia benar benar tidak punya semangat lagi. Bukan karena hubungannya dengan Arsen, melainkan karena pengakuan dari Arsen yang membuatnya sangat kecewa. Arini duduk di kasurnya dan mengambil foto sang Bunda yang tengah menyuapinya makan ketika kecil dulu.
"Bunda, Arini kangen sama Bunda. Arini pengen ketemu Bunda lagi. Daddy sudah berubah Bun, sekarang Daddy sudah tidak seperti dulu lagi. Daddy jahat Bunda, dia sudah membunuh Uncle Charles." Arini terus memandangi foto masa kecilnya tersebut. Teringat dulu ketika ia masih dimanja manja oleh Bunda dan Daddy nya. Pada saat itu ia masih sangat polos dan belum mengenal apa itu cinta. Kehidupan mereka dulu sangat bahagia, tidak ada perselisihan dan hanya ada senyuman yang terus menghiasi keluarga mereka.
.
Setelah berjalan jalan seharian dengan Via, Max mengantar Via pulang ke rumahnya. Padahal Jam masih menunjukkan pukul tujuh malam yang bisa dibilang masih belum terlalu malam untuk ukuran gadis seusia Via. "Sudah malam, kamu masuk sana. Jangan tidur kemalaman. Besok aku yang akan mengantar kamu kuliah" ucap Max sambil tersenyum.
Via mengangguk lalu melepaskan tautan tangan mereka. "Makasih ya Mas buat semuanya, dan soal yang tadi pagi aku juga makasih banget, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tadi Mas tidak menolong aku" ucap Via sambil menatap wajah Max yang lebih tinggi darinya.
"Tidak usah dipikirkan, lagi pula aku juga tidak rela kalau kamu sampai dilecehkan seperti itu" Max mengacak acak rambut Via dan merapikannya kembali. "Sekarang kamu masuk dan jangan lupa untuk membersihkan diri, aku pulang dulu"
"Iya Mas, hati hati di jalan."
Max masuk ke dalam mobil kemudian segera pergi dari rumah Via, setelah itu barulah Via masuk ke dalam rumahnya.