
Angga melingkarkan tangannya di pinggang Gabriel, sedangkan Gabriel dia mengalungkan tangannya di leher Angga. Mereka bergerak mengikuti alunan musik. Pandangan Angga juga tidak pernah lepas dari Gabriel, dari jauh saja dia sudah mengakui kalau Gabriel itu cantik dan mempesona apalagi sekarang yang jaraknya hanya beberapa cm saja. "Ternyata kamu benar benar bisa dansa ya. Saya kira kamu bakal menginjak kaki saya" ucap Angga sambil tertawa. Gabriel hanya memonyongkan bibirnya kemudian menatap wajah Angga. "Saya tuh udah pernah dansa beberapa kali pak, yang pertama tuh sama Kak Doni dulu" Angga berhenti bergerak kemudian dia menatap Gabriel dengan penasaran. "Doni?" Gabriel baru sadar kalau dirinya baru saja menyebut nama Doni di hadapan Angga. "Ahh enggak pak bukan itu maksudnya aduh maaf saya menyebut nama orang lain saat bersama bapak" Gabriel menunduk merasa bersalah dengan Angga. Harusnya dia tidak membicarakan itu di depan Angga yang jelas jelas sangat menyukainya.
"Tidak apa apa, saya mengerti. Saya juga masih sadar dengan posisi saya yang masih baru dalam kehidupan kamu. Jika kamu memang menyukainya perjuangkanlah, saya akan mencoba mengikhlaskan kamu untuk dia" Angga tersenyum tipis sehingga membuat Gabriel semakin merasa bersalah. Kalau dilihat lihat Angga itu sebenarnya tulus dengannya tapi sayang Gabriel masih belum melihat ketulusannya. Yang dia lihat hanyalah Angga yang menyukainya. "Tapi saya nyaman sama bapak" ucap Gabriel dengan suara yang tidak terlalu keras. "Jangan mencoba membohongi perasaanmu sendiri, jujurlah meskipun kejujuran itu menyakitkan bagi saya" Angga melirik ke arah lain dan disitu dia melihat satu pria yang sedari tadi terus melihat ke arah mereka. Angga membalikkan tubuh Gabriel dan membuatnya melihat ke arah Doni. "Dia kan pria yang kamu sukai? Sekarang kamu dekati dia. Dan kalau kamu..."
Belum sempat Angga menyelesaikan perkataannya Angga dikejutkan oleh Gabriel yang memeluknya secara tiba tiba. Jantung Angga berdegup dengan kencang. Dipeluk oleh orang yang disukai membuat Angga gugup setengah mati. "Jangan membuat saya berharap lagi pak, saya benar benar ingin melupakan kak Doni. Saya tidak ingin bersama dia meskipun sudah jelas perasaan saya masih untuknya. Saya mohon sama bapak, tolong buat saya jatuh cinta sama bapak. Beri saya kesempatan untuk jatuh cinta pada bapak" Angga langsung membalas pelukan Gabriel dia mengelus rambut Gabriel sambil menghirup Aroma strawberry di rambutnya. "Tanpa kamu harus mengatakan itu saya juga pasti akan membuatmu jatuh cinta pada saya"
Doni mengepalkan tangannya dengan erat dari kejauhan. Sekarang jaraknya dengan Gabriel semakin jauh. Apalagi ditambah dengan kehadiran Angga di tengah tengah mereka. "Semoga kamu bahagia" Gumam Doni pelan.
.
.
Pagi pagi sekali Arini sudah dibuat sibuk oleh kedua bayinya. Aiden dan Alea sama sama mengeluarkan kotoran. Arini membuka popok mereka satu persatu kemudian memasukkannya ke dalam kantong plastik. Arini memang sengaja tidak membangunkan Arsen yang masih tidur karena semalam Arsen yang menjaga anak anaknya sendirian. Sekarang giliran dia lah yang menjaga si kembar. Arini mengurus mereka dengan telaten. Setelah menggantikan popok untuk Alea sekarang Arini berpindah pada Aiden. "Aiden ganti popok dulu ya biar wangi sama kayak Alea" Aiden tidak bereaksi apapun selain melihat ke arah Arini. "Pup saja kamu masih tidak bisa tersenyum ya" gumam Arini lagi. Max dan Via turun dari lantai atas, mereka langsung berjalan menghampiri Arini yang saat itu sedang memakaikan popok untuk Aiden. "Aiden pup?" tanya Max pada Arini. Arini mendongakkan kepalanya dan menatap Max sebentar. "Iya, lihatlah ekspresinya. Pup aja dia masih cool. Benar benar dingin banget"
Via tertawa lalu dia memperhatikan Rei yang masih tidur di tengah tengah kakak dan adiknya itu. "Gimana rasanya mengurus anak kembar?" tanyanya. Arini hanya tersenyum kemudian menjawab pertanyaan Via. "Sangat menyenangkan, memang awal awalnya sih masih terasa canggung tapi kalau udah terbiasa ya gini. Pasti asyik dengan sendirinya" Arini fokus pada Aiden sebentar.
"Iya udah sana , biar aku sama mas Max yang jagain mereka disini" Arini mengangguk lalu dia langsung pergi ke atas bersama Aiden. Arini berjalan menuju kamarnya dan setelah tiba disana dia membuka pintu kamarnya kemudian masuk bersama Aiden. "Kita bangunin Daddy dulu" ucap Arini pada Aiden. Arini duduk di kasur kemudian membangunkan Arsen dengan perlahan. "Mas, bangun udah jam tujuh. Katanya ada meeting di kantor jam 8" Arsen masih tidak bergeming sampai akhirnya Arini meletakkan Aiden di atas perut Arsen tapi Arini masih tetap menjaganya. Arsen yang merasakan ada sesuatu di atas perutnya langsung membuka matanya. Arini tersenyum. "Good morning Daddy"
Arsen langsung mengucek matanya kemudian mengambil Aiden dan menggendongnya. "Good morning" Arsen langsung mengecup bibir Arini kemudian mencium Aiden. "Pagi pagi sudah disambut wajah datar Aiden" ucap Arsen sehingga membuat Arini tertawa geli. "Ya sudah sekarang Mas mandi dulu. Aku juga mau mandiin anak anak"
"Mau aku bantu?"
"Tidak usah, Mas harus pergi ke kantor kan. Lagian disini juga ada Via nanti kalau butuh apa apa aku bisa minta tolong padanya" Arsen mengangguk kemudian dia turun dari kasur. Sekali lagi dia mengecup pipi Aiden. "Daddy mandi dulu"
"Iya Daddy" jawab Arini dengan menirukan suara anak kecil.