
"Bagaimana kita bisa masuk kalau gerbangnya saja bisa setinggi ini apalagi ini besi dan bahkan kita saja tidak bisa melihat rumahnya" ucap seseorang pada orang yang berada di sebelahnya. Mereka berdua terlihat sedang berada di depan gerbang rumah Arsen. Mereka tidak sadar jika apa yang mereka lakukan tadi sudah terpantauĀ CCTV. Dan kebetulan pada saat itu Max sedang masuk ke dalam ruangan komputer. Dalam ruangan itu berisi rekaman layar CCTV. Max masuk tidak untuk mengecek rekaman tapi untuk mengambil suatu barang yang memang diletakkan disitu. Tapi tanpa sengaja mata Max mengarah pada salah satu rekaman. Max memicingkan matanya ketika melihat dua orang aneh itu. Mereka laki laki tapi berpakaian seperti seorang wanita. Dan Max yakin mereka juga bukan teman teman Via dan Arini. Dengan cepat Arsen langsung keluar dari ruangan itu. Kemudian dia pergi ke luar untuk memastikan sesuatu. Dia tidak boleh kecolongan. Max yakin orang itu adalah mata mata dari seseorang.
"Jangan kalian buka gerbang untuk siapapun tanpa seijin saya" ucap Max berteriak pada semua pria bertubuh kekar itu. Mereka juga tahu kalau Max adalah adiknya Arsen. Jadi sudah pasti mereka juga akan mematuhi perintahnya. Salah satu pria kepercayaan Arsen maju kemudian menunduk hormat pada Max. "Maaf tuan kalau boleh tahu sebenarnya ada apa? Saya juga ingin memastikan kalau rumah tuan Arsen dan keluarganya tetap aman." ucap pria itu dengan sopan. "Di luar sana ada dua orang aneh yang sedang menunggu di depan gerbang. Saya khawatir mereka adalah mata mata dari musuh Arsen. Kalian jangan sampai buka gerbang. Tapi kalian mungkin bisa melakukan ini" ucap Max sambil tersenyum penuh arti di belakangnya. Max memberikan mereka beberapa rencana yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Salah satu pria itu mengangguk dengan mantap
"Ide anda sangat bagus sekali, seandainya tuan Arsen ada disini sekarang. Tuan Arsen pasti bangga mempunyai adik yang cerdas seperti anda" ucap mereka. Max tersenyum sambil mengangguk. Arsen pernah mengajarkannya tentang suatu hal dari kecil dan sekarang dia ingin mencobanya tanpa sepengetahuan Arsen. "Baiklah cepat kalian lakukan dan ingat, kalian jangan sampai membuka pintu gerbang." pesan Max pada mereka. "Baik tuan" jawab mereka semua. Setelah itu Max kembali masuk ke dalam rumah. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Arini yang baru selesai membuang popok si kembar. "Kenapa gerbang terus ditutup?" tanya Arini dengan heran pada Max. Max menoleh ke belakang kemudian berbalik pada Arini lagi. "Ini semua atas perintah Arsen sebelum dia pergi. Dan mereka semua yang ada di luar itu juga anak buahnya. Kamu jangan khawatir. Mereka disini hanya untuk menjalankan tugas dari Arsen"
"Tugas?" tanya Arini pada Arsen. Max mengangguk. "Ya sudah aku ke kamar dulu. Kamu jangan lama lama kalau mau ninggalin si kembar di kamar" ucap Max lalu berlalu pergi dari hadapan Arini. Arini benar benar tidak mengerti dengan Arsen. Setelah dia pergi dengan seenaknya sekarang Arsen juga tidak memberi tahu nya tentang semua ini. Sebenarnya apa yang Arsen rencanakan sehingga tidak harus melibatkan dirinya?
.
.
Mario dan Cinta saling berpandangan satu sama lain. "Kenapa diam? Diam kalian tidak akan membuat kalian mendapatkan ini." Mario bersedekap dada sambil mengangkat wajahnya tinggi tinggi.
"Berikan itu pada kami atau anak anakmu yang akan menjadi taruhannya" ucap Cinta denfgn tegas pada Arsen. "Apa maksud kalian?" tanya Arsen dengan tak kalah tegasnya. Cinta tersenyum smirk sambil melihat ke arah suaminya. Senyuman itu membuat Arsen khawatir dengan keadaan di rumah. "Sia* dia semakin licik termyata" gumam Arsen.