
" Ohayōgozaimasu" (Selamat pagi tuan) Sapa Hiro dengan bahasa jepangnya yang fasih. Hiro adalah pria berkelahiran jepang, dia sudah menjadi supir garda selama lima tahun. Dan ini adalah pertama kalinya ia menjemput anak tertua majikannya. " Ohayōgozaimasu" Jawab Arsen sambil mengangguk. Sedangkan dengan Max Hiro hanya tersenyum karena dia sudah mengenal Max. Setelah itu Hiro dengan sigap membukakan pintu mobil untuk mereka dan membiarkan Arsen, Arini dan Max masuk ke dalam.
Setelah memastikan mereka masuk ke dalam, baru lah Hiro masuk ke dalam mobilnya dan mulai membawa mereka ke Istana kediaman Garda dan Mila. " Dorekurai soko ni tsukimasu ka?" (berapa lama kita akan sampai disana?" tanya Arini. Arini memang bisa berbahasa jepang karena dulu di saat Sma sekolahnya mempunyai mapel bahasa jepang dan Arini mengerti sedikit lebih banyak tentang jepang
.
Hiro yang sedang menyetir langsung menoleh pada Arini sebentar. " Yaku 3-jikan de josei" (Sekitar tiga jam lagi nona) jawab Hiro.
"Masih lama, lebih baik kamu tidur dulu" timpal Max kemudian. Dia baru saja mengabarkan Via jika dirinya sudah tiba di jepang. Yah, Max menepati janji pada Via agar selalu mengabarinya. "Enggak ah, Arini udah puas tidurnya." Arini melirik Arsen yang terus bermain ponsel sedari tadi. Entah apa yang menarik dari ponsel itu, tapi sepertinya Arsen dalam mode tidak bisa di ganggu. "Cepat selidiki dia, terutama Wira." tulis Arsen pada kolom pesan yang menghubungkannya dengan seseorang kepercayaannya.
"Ada apa Dad?" tanya Arini. Arsen sedikit terkejut dengan cepat ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam sakunya. "Tidak apa apa sayang, hanya ada sedikit masalah dari kantor" jawab Arsen dengan segala kebohongannya. Arini lebih memilih percaya saja, karena Arsen memang sempat tidak datang ke kantor beberapa hari mungkin itu yang membuatnya menjadi masalah sekarang.
"Lets kill this love Ra po po po po" tiba tiba suara alunan lagu kpop Black pink mengagetkan mereka semua. Terutama Arini. "Itu suara hp Daddy?" tanya Arini.
Arsen menggelengkan kepalanya dengan tegas, lagi pula harusnya Arini tidak bertanya kepadanya disaat ponselnya sendiri sudah dimatikan. Di kursi depan, Max segera membungkam ponselnya dengan bantal yang ada di dalam mobil itu. Lalu berpura seolah oleh tidak terjadi apa apa. Demi apapun ia benar benar malu sekarang, saat nada dering ponselnya dirubah menjadi nada dering lagu kpop. Ini sangat bukan Max sekali, dan kalian tahu lah siapa pelakunya. Tentu saja kekasih dari Max sendiri.
"Jangan jangan Uncle ya yang pakek nada dering black pink?" Arini tertawa sambil menunjuk Max. Max terlihat kesal sambil bersungut sungut "Apa sih orang itu bukan ponsel Uncle, ini tuh ponselnya Pak Hiro aja yang bunyi tadi. Iya kan pak?" ucap Max dengan nada kesal dan dengan bodohnya Hiro mengangguk saja meskipun tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Max tadi. Karena Max menggunakan bahasa indonesia. Meski begitu Arini tetap saja tidak percaya karena jika ponsel Hiro yang berbunyi dia pasti langsung mengangkatnya. "Ngeles aja" jawab Arini kemudian.
.
.
Seorang wanita berpakaian Glamor duduk di Sofa dengan ditemani oleh suaminya. Wanita itu adalah Mila yang selama ini selalu dipuja puja oleh warga jepang karena standar kecantikannya yang masih terlihat sempurna di usianya yang sudah menginjak 58 tahun. Mila adalah modelnya orang jepang. Mereka menganggap Mila adalah panutan mereka hanya dari standar kecantikannya. Mila memperhatikan Garda yang sedang membaca berkas berkas perusahaan. "Lagi ngapain?" tanya Mila sambil meletakkan sebuah kopi di depan Garda.
Garda mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali membaca berkas berkas itu. "Kamu tidak lihat saya sedang membaca?" Sarkas Garda. Mila mendengus kesal lalu ia mengambil majalah Fashion yang berada di sampingnya dan mengabaikan suaminya. Garda terus membaca berkas itu sambil lalu meminum kopinya. Dia mengernyitkan dahinya ketika merasa ada sesuatu yang aneh. Kopinnya terasa pahit di lidahnya. "Kok pahit? Kamu lupa memberi gula ya?"
"Kopi itu akan terasa manis bila bersama dengan orang yang manis, salahkan saja lidahmu yang pahit." jawab Mila.
"Ayo turun" ucap Arsen pada Arini. Arini mengangguk lalu ketiganya turun dari mobil. Hiro juga membantu mereka menurunkan barang barangnya ke bawah. "Arsen, Arini" Mila langsung memeluk keduanya dengan serempak. Arsen dan Arini saling menatap satu sama lain ketika tubuh mereka direngkuh oleh Mila. "Akhirjya kalian bisa datang juga ke jepang, Mama pikir kamu tidak akan datang Arsen" ucap Mila sambil menatap Arsen. "Arsen datang Ma" jawab Arsen.
Setelah Mila, Garda datang menyusul untuk menyambut mereka juga. Dia tertawa lalu merentangkan kedua tangannya. "Opaaaaa" Arini langsung melepaskan diri dari pelukan Mila dan memeluk Garda dengan erat. Rasanya sudah lama sejali ia tidak memeluk tubuh opanya itu. "Opa apa kabar?" tanya Arini di sela sela pelukannya. Garda mengangguk. "Seperti yang kamu lihat, opa sehat. Kamu sendiri gimana? Kuliah kamu lancar kah?"
"Lancar banget pah kuliahnya, sampe nilai kuliahnya aja kayak jalan tol" sambung Max yang sedari tadi hanya diam. Arini mendelik pada Max, membuat Max semakin terkekeh. Lalu Garda melepaskan pelukannya dan beralih pada Arsen. Kini Arsen sudah lebih tinggi darinya, tidak ada lagi Arsen kecil yang selalu ia abaikan dulu. Sekarang di hadapannya adalah Arsen, sosok putra terhebat bagi ayah yang buruk sepertinya. "Apa kabar Son?" Sapa Garda sengan canggung.
"Baik"
"Gimana perusahaan kamu disana?"
"Bagus"
"Apa ada masalah?"
"Tidak"
Setelah itu Arsen dan Garda saling melempar senyum satu sama lain dan mereka berpelukan. "Akhirnya kamu bisa suksea juga son."
"Iyalah, Seorang Arsen harus bisa sukses melebihi dar iayahnya" Bangga Arsen pada dirinya sendiri.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam saja" ucap Mila pada akhirnya. Mereka semua mengangguk setuju lalu masuk ke dlam rumah.