Hot Daddy

Hot Daddy
Overthinking



"Kandungan ibu baik baik saja, semuanya sehat dan normal. Tapi sepertinya ibu harus lebih banyak istirahat karena kandungan ibu mau memasuki bulan ketiga. Jangan melakukan pekerjaan yang berat karena itu bisa membuat kandungan ibu bermasalah. Lebih baik ibu banyak istirahat di rumah dan makan makanan yang memang sangat dianjurkan untuk ibu hamil." ucap Dokter yang baru saja memeriksa kandungan Arini. beruntung Arsen langsung cocok dengan Dokter itu, karena sudah tiga kali mereka pindah rumah sakit hanya gara gara Arsen tidak mau Arini diperiksa oleh Dokter pria. Sifat posesifnya semakin menjadi bahkan semakin bertambah.


"Tapi Dok, ada yang ingin saya tanyakan mengenai kondisi ibu hamil" ucap Arsen dengan raut wajahnya yang terlihat sangat tenang. Arini mengangkat sebelah alisnya karena di rumah tadi mereka tidak menjanjikan apa apa lalu apa yang akan ditanyakan oleh Arsen sekarang. "Silahkan pak, saya dengan senang hati akan menjawabnya" dengan cepat Arsen menarik kursi di sebelah Arini lalu duduk. Kemudian dia menatap dokternya dan mulai berbicara. "Biasanya ibu hamil ngidamnya sampai bulan ke berapa? Jujur saja saya sudah mulai kewalahan dengan istri saya yang terus ngidam aneh aneh" ucap Arsen sambil menoleh pada Arini.


Dokternya hanya bisa tersenyum kemudian dia mulai memberi penjelasan. "Karena ibu Arini sudah mulai memasuki bulan ketiga seharusnya ngidamnya sudah bisa dikontrol pak, karena biasanya ngidamnya ibu hamil itu akan segera turun ketika memasuki bulan keempat atau ada yang juga yang malah berhenti di Bulan ketiga. Semua itu tergantung dari ibunya masing masing. Memang ibu hamil sering minta yang aneh aneh tapi menurut saya bapak harus menikmatinya. Karena hal ini lah yang ingin dinikmati oleh suami suami disana yang punya istri mandul. Sebagai suami bapak memang harus siaga dan tidak boleh membiarkan istri melakukan apapun sendiri. Maaf kalau saya terkesan menasehati tapi apa yang saya katakan itu semua benar adanya pak"


Arini melirik Arsen sambil tersenyum puas, lagian suaminya ada ada aja. Sudah tahu ibu hamil memang merepotkan malah bertanya seperti itu pada Dokter. Dan sekarang dia malah jadi malu sendiri kan. "Terima kasih Dok atas jawabannya, saya dan suami saya pamit pulang terlebih dahulu. Bulan depan saya harus datang lagi kan Dok?" tanya Arini dengan sopan. "Iya ibu, bulan keempat sangat dianjurkan untuk ibu memeriksakan kandungan kembali" Arini mengangguk dengan semangat lalu segera menarik Arsen keluar. "Apaan sih mas kok nanya nanya seperti itu, bikin malu aja deh. Nanti dikiranya kamu suami yang gak bertanggung jawab dan suka mengeluh" kesal Arini.


Arsen menghentikan langkahnya lalu membuat Arini diam di tempat. "Tidak ada salahnya bertanya kan? Dokternya aja tidak masalah. Lagian aku bertanya hal sewajarnya bukan yang aneh aneh. Aku bisa saja bertanya perihal hubungan badan ketika lagi hamil tapi aku takutnya kamu yang akan malu nanti" Goda Arsen dengan membiarkan bibirnya tersenyum smirk.  "Tau ah Mas, lebih baik kita pulang aja. Kaki aku mulai pegel nih kayaknya"


Arsen menundukkan kepalanya dan melihat kaki Arini yang memang sudah sedikit lecet. Dia hanya bisa menghela nafas dengan kesal. Kemudian Arsen berjongkok di hadapan Arini. "Mas, ngapain ih" ucap Arini.


"Buka sepatumu, sudah kubilang dari awal kalau kamu gak boleh pakai sepatu hak tinggi seperti ini masih saja ngeyel" Arini hanya diam saja ketika melihat Arsen yang sudah membuka sepatunya dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di samping mereka. "Kok dibuang sih Mas, itu kan sepatu kesayangan aku" Arini benar benar tidak terima dengan hal itu dia berjalan untuk mengambil sepatu itu lagi tapi dengan sigap Arsen langsung menggendongnya dengan gaya Brydal style. "Jangan harap kamu bisa mengambilnya"


"Massss ihhh dasar ngeselin, dasar kecoa corong"


Cupp


"Jangan ngomong kasar sayang" ucap Arsen setengah meledeknya. Arini benar benar kalah telak dan pada akhirnya dia hanya bisa pasrah.


"


.


.


Setelah tiba di dekat mereka Via langsung membalikkan tubuh perempuan itu. Dan seketika dia terkejut. "Loh Sunshine?"


"Mbak Via"


"Kok ini kamu?"


"Ini memang aku mbak, memangnya kenapa?"


"Ku kira Nichole sama selingkuhannya makanya aku nyamperin kesini"


Nichole hanya melihat Via sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Enggak mbak, hari ini aku potong rambut mungkin itu yang membuat mbak gak mengenali aku. Iya kan?" Via melihat Sunshine benar benar memotong rambut, berarti dia yang salah menduga. "Iya sih, kamu agak kelihatan berbeda"


"Makanya, jangan asal nyerocos dong sayang, lihat kan kenyataannya tidak seperti yang kamu lihat" Sindir Max dengan jelas. Via hanya mengangguk lalu kemudian dia bertanya pada Sunshine. "Kamu mau ikut aku gak? Di toko sana ada banyak diskon pakaian. Kalo kamu mau kita bisa jalan kesana sekarang"


"Beneran mbak?" tanya Sunshine dengan binar bahagia. "Iya beneran, udah ayo cepet ikut aku. Barang belanjaannya lebih baik titip sama pacar kamu itu" Sunshine menurut kemudian dia menititpkan barang belanjaannya pada Nichole dan meninggalkanya bersama Via. Kedua perempuan itu pasti akan sibuk dengan dunianya sendiri. "Mulai lagi kumatnya' gumam   Max.