Hot Daddy

Hot Daddy
S.2 Eps 30 Ketahuan



Aiden membawa Siska ke rooftoop lama yang sekarang sudah tidak ditempati. Bahkan Rooftoop itu sudah terkenal angker hingga tidak ada satu pun penghuni sekolah yang berani pergi kesana. Tapi tidak dengan Aiden, Aiden malah menjadikan Rooftoop itu sebagai tempat pribadinya. Siska merasa was was karena merasa ketakutan dengan tempat itu. Apalagi sekarang ia bersama Aiden, ketakutannya malah bertambah dua kali lipat. "Den, jangan kesini deh. Lo boleh bawa gue tapi jangan kesini gue takut" rengek Siska pada Aiden. Siska melihat lihat ke sekelilingnya yang sangat sunyi sekali ditambah lagi banyak debu dan sarang laba laba disitu hingga menambah kesan angker. Tapi Aiden tidak peduli dengan rengekan Siska. Aiden melepaskan tangannya dari lengan Siska kemudian dia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Siska. "Gue denger lo mau nampar Alea lagi?" Aiden langsung to the point saja karena dia memang tidak suka bertele tele.


"Itu fitnah,  gue udah berhenti gangguin Alea lagi. Lagian gak ada gunanya juga gue nampar dia. Buang buang waktu aja kan" ucap Siska berusaha mengelak. Aiden mengangguk kemudian dia mengeluarkan korek api dari saku celananya. Siska langsung mundur selangkah, dia tahu apa yang akan Aiden lakukan. "Lo suka ini kan?" Aiden menunjukkan korek api kesayangannya pada Siska. Dia tersenyum penuh arti ketika melihat wajah Siska yang tegang. Aiden yakin Siska tidak akan bisa melupakan kejadian itu. Dimana Aiden melukai Siska dengan korek api gara gara Siska membully Alea. "Lo sama gue gak perlu bohong karena apapun jawaban lo gak ada yang bisa gue percaya. Jadi sebagai konsekuensinya lo harus siap menerima hal ini"


"Aiden Stoppp, iya gue mengaku salah. Gue hampir menampar Alea tapi Rei menghalangiku jadi aku tidak sampai menamparnya"


Aiden semakin maju dan membuat Siska terus mundur ketakutan. Kemudian Aiden menyalakan korek apinya. Siska terus mundur dan mundur hingga dia sampai di perbatasan tembok. Siska sudah tidak bisa mundur lagi. "Ssssttt diem sayang, semakin kamu menjawab semakin lama rasa sakit yang akan kamu alami"


.


.


.


"Ini laporan keuangan bulan ini pak, semuanya sudah tercatat dengan jelas di berkas ini. Keuangan kita semakin meningkat dan juga proyek dengan Ken Alvaro berjalan dengan sangat lancar" ucap Rocky sambil menyerahkan sebuah berkas berwarna merah pada Arsen. Arsen mengangguk kemudian mengambil berkas itu dan memeriksanya sendiri. Seperti yang ia harapkan semuanya bagus dan tidak ada kekurangan sedikit pun. "Apa ada yang ingin kamu katakan lagi Rocky?" tanya Arsen sambil mengetukkan bolpoin pada mejanya. Rocky terlihat berpikir sebentar kemudian menjawab. "Tidak ada lagi pak, sepertinya hanya itu saja yang harus saya sampaikan"


"Bagaimana dengan sebuah ciuman di mobil?"


Rocky langsung tersentak ketika Arsen membicarakan hal itu. Dari mana Arsen bisa tahu mengenai ciuman di mobil itu. Dengan tenang Rocky menjawab. "Maaf pak, saya tidak mengerti dengan apa yang bapak maksud" ucap Rocky berpura pura tidak mengerti. Jantungnya berdetak dengan cepat. Rocky antara ketakutan dan tegang semuanya campur aduk menjadi satu. Arsen bisa saja terlihat tenang tapi bukan berarti tidak ada apa apa. Arsen langsung membuka laptopnya dan menunjukkan sebuah video pada Rocky. "Masih kurang jelas?" tanya Arsen sambil menatap tajam Rocky.


"Alea, Daddy pinjam tas mu sebentar"


"Buat apa Dad?"


"Mau ngecek nilaimu, sana kamu ambil bekalmu. Mommy sudah menyiapkan semuanya di dapur"


"Iya Dad"


Setelah Alea pergi ke dapur.


Setelah Alea pergi baru lah Arsen memasang kamera kecil yang mungkin tidak akan disadari oleh Alea maupun Rocky. Arsen ingin melihat apa yang dilakukan Rocky pada Alea.


(Flasback Off)


"Jadi apa yang mau kamu jelaskan sekarang?"