Hot Daddy

Hot Daddy
Siapa?



Setelah memberi tahu rencananya Max kembali masuk ke dalam rumah kemudian mengumpulkan Arini dan Via di dalam satu kamar. Untuk saat ini keamanan mereka yang perlu diprioritaskan dibandingkan yang lainnya. 


"Kalian tetap disini dan jangan kemana mana, aku akan mengunci kalian dari luar. Semua kebutuhan si kembar juga sudah ada di dalam kamar ini" ucap Max pada kedua wanita yang disayanginya tersebut. "Memangnya ada apa sih Mas? Kenapa kita harus dikunci dari luar" tanya Via mewakili Arini. Arini melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Max. Sekarang Arini makin yakin kalau kepergian Arsen dan Gelagat Max ada hubungannya.  "Untuk saat ini aku belum bisa menjelaskannya" Max langsung keluar kemudian mengunci pintu kamar itu. Dia memasukkan kuncinya ke dalam saku celananya. Max mengunci mereka di kamar supaya mereka tidak melihat apa yang akan dilakukannya nanti. Max mengambil ponselnya kemudian dia menghubungi satu persatu pekerja di rumah Arsen. Seperti Security, tukang kebun, Bi Mina dan yang lainnya. "Sekarang juga kalian pergi ke taman belakang rumah dan bersembunyi lah. Dalam waktu sepuluh menit aku ingin rumah ini kosong."  Max mematikan telfonnya kemudian bergegas keluar untuk melancarkan rencananya. "Buka gerbangnya"perintah Max pada salah satu pengawal Arsen. "Baik tuan"


Setelah mereka membuka gerbangnya seperti rencana Max mereka yang tadinya memenuhi satu halaman rumah langsung mengosongkan tempat. Mereka membiarkan kedua orang itu masuk akan tetapi masih dalam pengawasan Max. "Siapa yang membuka gerbangnya?" tanya Tom pada Jerry temen sekomplotannya. "Mungkin ini gerbang otomatis. Kelihatannya rumahnya sepi sekali jadi buat apa kita menyamar seperti ini. Buang saja benda benda sampah ini" ucap Jerry sambil membuang benda benda aksesoris wanitanya ke tanah. Tom juga melakukan hal yang sama. "Kita harus bisa membawa anak anak bodoh itu untuk tuan. Kalau tidak kepala kita yang akan jadi korban" ucap Tom pada Jerry. Jerry hanya mengangguk menyetujui. Mereka berdua melangkah secara perlahan dan memastikan kalau rumah itu benar benar kosong dan tidak ada pengawasan sedikit pun. "Aman bro" ucap Jerry pada Tom. Tom dan Jerry berhasil masuk ke halaman rumah Arsen. Mereka masih tetap waspada. Karena sedari tadi mereka terus menoleh kesana kemari. "Rumah seluas ini dimana pintu masuknya?" ucap Tom sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jerry langsung memukul kepala Tom dengan tangannya. "Penjahat apa kamu sampai pintu masuk rumah saja tidak tahu. Lihat lah disana" ucap Jerry sambil menunjuk ke arah pintu yang paling besar di antara yang lainnya.


"Itu pintu?" tanya Tom lagi. "Bukan, itu jalan masuk ke hutan" jawab Jerry dengan jengkel. Tom hanya terkekeh lalu kemudian berubah menjadi serius kembali. "Tunggu apa lagi Ayo kita masuk" ajak Tom pada Jerry yang dijawab dengan anggukan.


.


.


"Mereka anak buahmu?" tanya Arsen sambil menunjukkan ponselnya pada Mario. Mario membuka mulutnya dengan lebar ketika melihat kedua anak buahnya sudah dalam keadaan sekarat. Mulut mereka sudah berlumuran darah. Arsen tersenyum smirk lalu maju beberapa langkah


Tanpa aba aba lagi Arsen menjatuhkan ponselnya begitu saja kemudian dia mencekik kedua orang itu secara bersamaan dengan tangannya. Cinta berusaha menggigit tangan Arsen tapi sayangnya Arsen lebih menekan tangannya pada lehernya sehingga Cinta tidak bisa melakukan apa apa. Arsen menendang Mario hingga terjerembab di tanah kemudian dengan tanpa perasaan dia menginjak perut Mario dengan kakinya. Arsen tidak peduli lagi tentang siapa mereka. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bahwa dia harus membunuh mereka. Sedangkan pada Cinta, Arsen hanya menoleh padanya sebentar. "Ibu seperti kamu ini memang pantas dibunuh, kamu sudah membuang Arini dan menyiksanya selama sepuluh tahun." Cinta memegang lehernya dengan tangannya dan berusaha untuk bernicara. "D...dia...me..mang..pant..as.. Mendapatkan perlakuan seperti itu" Arsen langsung menampar mulut Cinta dengan kuat hingga berhasil mengeluarkan darah. "Bersiaplah kamu untuk meninggalkan dunia ini"


Mario yang masih dibawah Arsen terus terbatuk batuk karena perutya yang diinjak. Dia berusaha melepaskan diri. Tanpa sadar matanya mengarah ke samping kanan. Dimana disitu ada batu besar. Mario mengulurkan tangannya pada pada batu itu tanpa sepengetahuan Arsen. Cinta melihat itu dia berusaha mengalihkan perhatian Arsen dengan terus berbicara. Ketika Mario sudah mendapatkan batu itu kemudian dalam hitungan ketiga.


"AAARRRGGGHHHHHHHHHHHHHHH"