
Setelah membawa Arsen ke dalam kamarnya, Max langsung menelfon Dokter untuk mengobati luka di kepala Arsen. Max tahu Arsen sangat keras kepala dan tidak akan mungkin mau dibawa ke rumah sakit. Maka dari itu jalan satu satunya adalah dengan membawa Dokternya kemari. Arini terus menggenggam jari Arsen sambil mengusap darah di kepala Arsen dengan tangannya. "Siapa yang melakukan ini pada Daddy?" lirihnya.
Via mengusap bahu Arini dengan lembut, ia juga merasakan kekhawatiran Arini pada Arsen. Tapi jangan berpikir negatife dulu, Via sudah tidak menyukai Arsen lagi sekarang dia lagi belajar mencintai Max yang juga tulus mencintainya. "Lo tenang aja, Gue yakin Om Arsen gak apa apa." ucap Via berusaha menghibur Arini. Arini mengangguk dengan lirih, matanya tak bisa lepas dari wajah Arsen.
Beberapa lama kemudian Max datang dengan seorang Dokter Wanita di sampingnya. "Tolong obati Dia Dok, sepertinya kepalanya bocor dan tolong lakukan pemeriksaan yang lain" ucap Max pada Dokter wanita yang bernama lengkap Angelle Zefiona. Angel terus menatap wajah Arsen, ia merasa tidak asing dengan wajah itu. Seperti pernah melihatnya tapi entah dimana. "Baiklah, saya akan mengobatinya. Lebih baik kalian tunggu di luar saja biar saya bisa fokus mengobatinya" ucap Dokter Angel sambil tersenyum manis.
Arini merasa berat hati untuk meninggalkan Arsen bersama dokter itu. Entah kenapa feelingnya mengatakan akan ada sesuatu antara Arsen dengan dokter Angel. Apalagi tadi Arini sempat melihat Angel yang terus menatap Arsen. "Tidak, Biarkan saya disini. Jika dokter tidak bisa mengobatinya kalau ada saya, silahkan pulang, saya bisa cari dokter yang lain" ucapnya dengan nada ketus.
"ARINI" Bentak Max, kata kata Arini sudah sangat keterlaluan menurutnya. Padahal niat Angel baik, yaitu agar fokus mengobati Arsen. Tapi sepertinya Arini salah mengartikannya. "Kenapa uncle? Arini hanya menjaga apa yang harusnya menjadi milik Arini? Arini tidak ingin kehilangan Daddy. Sudah cukup Arini kehilangan Bunda." Via langsung melingkarkan tangannya di lengan Max. "Sabar Mas"
Angel yang merasa dipojokkan hanya bisa tersenyum canggung. "Baiklah tidak apa apa, kalian tetap disini saja. Saya akan mengobatinya sekarang" ucapnya. Arini sedikit menyingkir dan membiarkan Angel mengobati Arsen. Angel langsung membuka tas nya dan mengambil beberapa kapas basah untuk membersihkan darah tersebut. Angel melakukannya secara telaten, tanpa sadar dia tersenyum ketika sedang mengobati wajah Arsen.
Sekarang Via paham kenapa Arini dengan tegas menolak Angel, Via melihat senyuman Angel. Via merasa curiga dengan Dokter itu. "Kenapa senyum senyum? profesional dong Dok. Jangan senyumin calon suami dari sahabat saya" Sarkas Via yang langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya. Angel menoleh pada Via dan menatap wajahnya. "Maaf, sepertinya anda salah paham dengan saya"
"Salah paham? Banyak tuh pelakor di luar sana yang berawal dari salah paham." Arini terkikik geli dalam hatinya, ia tidak perlu lagi mengatakan sesuatu, Via sudah mewakili semuanya. "Maafkan kekasih saya Dok, silahkan lanjut mengobati Arsen. Max menarik tangan Via dan membawanya keluar. Dan sekarang di dalam kamar hanya ada Arsen, Angel dan Arini. Angel lanjut mengobati Arsen sampai selesai.
"Kenapa semakin aku melihatnya, aku merasa tidak asing dengan wajah ini. Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku dulu?" batin Angel. Batinnya terus berkecamuk memikirkan tentang hal itu. "Bukannya sudah selesai Dok? Kenapa masih terus menatap wajah Daddy saya?" tanya Arini pada Angel. Demi apapun juga ia sangat kesal karena Angel yang terus mengambil kesempatan untuk menatap wajah Arsen.
Max menenangkan Via yang sedari tadi misah misuh gak jelas karena dibawa keluar oleh Max. Padahal Niat Max baik, hanya ingin menghilangkan tanduk yang sudah keluar dari kepala Via saja. Max tahu kekasihnya ini sangat barbar jika menyangkut sahabatnya, apalagi tentang Arini, keponakan tercintanya. "Dokter itu tugasnya ngobatin pasien bukan genit sama pasien" gerutu Via yang masih belum puas juga mendumel.
"Udah sayang ngomelnya, lagian Dokter Angel profesional kok tadi. Dia menyuruh kita keluar agar bisa fokus mengobati Arsen" ucap Max dengan sabarnya. Via menatap tajam Max, kalau tadi hanya tanduknya saja yang keluar sekarang dari telinganya juga mengeluarkan asap. "Oh jadi kamu belain dia Mas? Mas tidak tahu saja kalau tadi aku lihatnya....." Angel tiba tiba lewat di hadapan kereka sambil tersenyum manis. "Tugas saya sudah selesai, saya sudah mengobati semua lukanya dan sebentar lagi dia akan sadar"
"Terima kasih Dok, untuk biayanya saya akan segera mentransfernya" Angel mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu" Max pergi mengantar Angel ke depan, tidak tahu saja bahwa kekasihnya menatapnya dengan sinis. Ah sudah lah daripada memikirkan Max lebih baik sekarang Via menghampiri Arini. Via mencari Arini di seluruh ruangan sehingga ia menemukan Arini tengah memetik beberapa bunga mawar di taman belakangnya. Via menepuk bahunya membuat Arini terkejut dan langsung menoleh padanya. "Astaga, ngagetin aja sih lo. Ada apa Vi?"
"Jangan lupakan Misi kita"
"Misi? Misi apa emang?"
"Misi nyatuin Bi Mina sama Pak Tejo"
Arini tertawa geli. "Sip lah, kalau daddy sudah sembuh kita langsung jalanain aja rencananya"