
Jam sebelas pagi, baru Arsen dan Arini beranjak dari kasur. Arsen kembali ke kamarnya sendiri sedangkan Arini langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Bagaimana tidak? Jika tubuhnya saja sudah penuh dengan hasil karya Arsen. Arini berdecak pelan melihat bagian dadanya yang sudah membengkak. "Dulu Bunda pasti sering digituin sama Daddy" Gumamnya.
Arsen pergi ke dapur dan mengambil segelas Air untuk diminumnya, namun tiba tiba ia dikagetkan dengan kehadiran Bi Mina yang terus tersenyum sepanjang memotong bawang di tangannya. "Masa iya rumah ini ada setannya?"
Arsen berjalan menghampiri Bi Mina dan menepuk bahunya dengan pelan. "Bi" panggilnya. Bi Mina yang mendengar suara Arsen langsung menoleh dan menghilangkan senyumnya. "Eh iya tuan, ada apa?"
"Bibi Sehat?" tanya Arsen. Arsen hanya ingin memastikan bahwa Bi Mina baik baik saja. Karena menurutnya aneh saja ketika tidak apa apa Bi Mina malah senyum senyun sendiri. Bi Mina langsung menjawab. "Saya teh sehat tuan. Kenapa tuan bertanya seperti itu?"
"Tadi saya lihat Bi Mina senyum senyum sendiri. Ada apa Bi? Ayo cerita sama saya" Bi Mina yang ketahuan senyum senyum sendiri langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kira tadi di dapur hanya sendirian. "Anu tuan, tadi saya gak sengaja ngelihat kucing kawin di depan rumah, terus saya jadi keingat almarhum suami saya dulu"
"Memang apa hubungannya Bi? Kucing kawin sama suami Bibi?" tanya Arsen. Bi Mina mencari jawaban yang masuk akal, dia tidak mungkin membeberkan rahasianya ketika melihat majikannya yang saling bercumbu di sebuah kamar. Karena pintunya yang sedikit tidak tertutup jadi Bi Mina melihatnya. Bi Mina masih ingat dengan jelas desahan desahan yang keluar dari mulut kedua majikannya itu.
Tersadar Arsen menunggu jawabannya Bi Mina menatap wajah Arsen. "Soalnya suami bibi dulu suka memelihara kucing, kadang suami saya juga membantu mengawini. Makanya Bibi teringat sama suami"
Arsen hanya membulatkan mulutnya, ia percaya dengan semua yang dikatakan Bi Mina. "Maafkan Bibi tuan, Bibi berbohong"
Arsen menuangkan Air dan meminumnya dengan sekali tegukan lalu menatap Bi Mina kembali. "Bi tolong siapin makanan ya, saya dan Arini belum sarapan tadi pagi"
"Baik tuan"
Setelah itu Arsen keluar dari dapur, Bi Mina bernafas lega lalu melanjutkan memotong bawangnya. "Aya aya wae si tuan, bilangnya teh gak suka non Arini eh tau nya malah di grepe grepe. Hihi" Bi Mina terkikik geli sendiri.
.
.
Via melamun di tengah tengah Pak Antoro menjelaskan materi, Shila dan Gabriel saling berpandangan satu sama lain. Mereka merasa ada yang aneh dengan Via, karena tak biasanya dia melamun dan terus diam seperti ini.
"Shil, Via kenapa ya? Apa dia lagi ada masalah?" Bisik Gabriel pada Shila. "Entah, kok gue ngerasa kalau Via lagi ada sesuatu yang dia pikirin." Gabriel mengangguk lalu ia merobek satu lembar kertas dan meremasnya menjadi bulatan bulatan kecil kemudian melemparnya ke arah Via yang sayangnya meleset dan mengenai wajah pak Antoro
Pak Antoro menghentikan penjelasannya lalu menatap kedua orang itu dengan tajam. "SHILA, VIA Jika kalian masih mau bermain main silahkan keluar dari kelas saya" Sontak Via langsung menoleh dan melirik kedua temannya yang sedang cengengesan itu.
Lalu pak Antoro kembali menjelaskan materi.
Setelah kelasnya pak Antoro sudah selesai, Shila dan Gabriel langsung menarik Via ke kantin di kampus mereka. Mereka berdua akan mengintrogasi Via. Kenapa hari ini Via tidak seperti biasanya?"
"Lo berdua apa apaan sih? Gue bisa jalan sendiri. Gak usah tarik tarik kayak anak kecil aja" sungut Via. Shila dan Gabriel tidak menghiraukannya, mereka masih tetap menyeret Via. Setelah tiba di kantin, Gabriel langsung mendudukkan Via di kursi. Kemudian ia memesan makanan seperti biasa yang mereka pesan.
"Sekarang lo cerita sama gue? Kenapa lo hari ini banyak melamun" ucap Shila. Via duduk dengan diapit oleh Gabriel dan Shila. "iya bahkan lo gak berbicara sepatah kata pun tadi" tambah Gabriel.
Via menghela nafasnya dengan pasrah, Jika ia tidak memberi tahu mereka, mereka pasti tidak akan Diam dengan cepat. Via menatap mereka satu persatu. "Sebenarnya bukan masalah sih, tapi beban fikiran" ucap Via pada akhirnya. Lalu Ia mulai menceritakan semuanya mengenai Max yang tiba mengatakan cinta padanya dan berakhir dengan memintanya menjadi kekasihnya.
Gabriel sampai membuka mulutnya mendengar hal itu, Pantas saja waktu itu Max sering mencuri curi pandang pada Via ternyata dia menyukai sahabatnya. "Terus lo jawab apa pas Om Max nembak lo?" tanya Shila yang juga disetujui Gabriel.
"Gue belum jawab lah, gue kan masih kaget sama penyataan cinta dia. Apalagi langsung nembak gitu. Meskipun umurnya sudah tidak pantas untuk mengajak pacaran lagi. Tapi gimana ya? Gue masih belum bisa ngelupain Om Arsen sih." ucap Via.
[Flasback]
Max dan Via sudah sampai di kampus, Via berterima kasih pada Max sebelum turun dari mobil namun kemudian Max membuka suara. "Via, sebelum kamu masuk kelas. Aku ingin mengatakan sesuatu lagi sama kamu." Max mengambil tangan Via dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. "Aku ingin kamu jadi kekasihku. Dan aku berharap kamu mau mencobanya bersamaku. Setidaknya aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan melupakan Arsen."
"Tapi Om...."
"Sssttt, jangan bicara apapun lagi. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menjawab dari apa yang aku katakan sekarang. Apa kamu mau menerimaku sebagai kekasihmu?" Nafas Via tercekat, mulutnya terasa dikunci. Dia masih belum punya jawaban dengan semua itu. Itu bukan perkara yang mudah baginya. Via harus memikirkan semuanya baik baik. "Maaf Om, Aku belum bisa menjawabnya sekarang"
Max mengangguk, ia memaklumi Via. "Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk menjawab semuanya"
[Flasback Off]
"Saran gue sih mending lo pikirin baik baik Vi, Om Max itu kelihatannya tulus banget sama lo. Jujur saja gue pribadi lebih suka lo milih Om Max daripada pak Arga" ucap Gabriel sambil menatap wajah Via. Shila mengangguk. "Gue juga satu pendapat dengan Via"
"Entahlah guys gue masih bingung dan belum siap dengan semua ini"