
"Berapa harga diri kamu?" Semua orang langsung menoleh ke belakang dan melihat Arsen yang berjalan dengan wibawanya sambil menatap tajam Genita. Genita yang melihat Arsen seketika nyalinya langsung menciut. Tanpa sadar dia melepaskan tangannya dari rambut Shila. Dani langsung menghampiri Shila dan membawanya menjauh dari Genita. "Saya tanya sama kamu, berapa harga diri kamu yang tinggi itu?" Genita langsung melirik Gabriel dan Shila secara bergantian. Mereka berdua tersenyum puas. "Aku......"
"Aaaaaaaaaaaaaaa" Arsen baru saja akan mengangkat tangannya untuk Genita tapi Genita sudah berteriak lebih dulu. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Hal itu tentu saja menjadi bahan tertawaan semua orang yang menonton. Genita membuka matanya dan melihat semua orang yang menertawakannya. "Kenapa? Kamu takut saya melakukan kekerasan fisik sama kamu?" Arsen berjalan lebih dekat lagi pada Genita hingga Genita tak bisa berkutik. "Saya sudah lama tidur jadi jika kamu mau hidupmu tetap aman jangan bangunkan macan yang sedang tertidur atau kamu akan dimangsa olehnya." bisik Arsen di samping telinga Genita. "Aku tidak salah" Genita tidak ingin terlihat lemah, dia mengangkat kepalanya kemudian menatap wajah Arsen dengan berani. "Aku tidak salah dengan apa yang kulakukan dengan Arini? Semua perkataanku juga tidak salah. Memang benar kan dia selama ini menggoda om hingga om tergoda dan melakukan hubungan terlarang bersamanya. Dan hasil hubungan kalian adalah janin yang saat ini dikandung Arini"
Gabriel hanya bersedekap dada sambil menonton pertunjukkan seru itu, sedangkan Shila dia masih tetap di pelukan Dani. Dani tidak ingin Shila lepas kontrol lagi dan melakukan perkelahian bersama Genita. "Kalau seandainya Arini memang seperti itu lalu apa bedanya dengan kamu? Kamu melempar tubuh kamu pada setiap pria tua demi mendapatkan kepuasan. Bahkan kamu juga pernah menawarkan diri untuk menjadi pemeran utama dalam Film XXXX yang bertemakan dewasa itu. Ternyata selera kamu seburuk itu ya. Kamu lebih memilih pria yang lanjut usia dibandingkan yang lajang" Seketika semua orang saling berbisik bisik sambil melihat ke arah Genita. Genita melihat tatapan semua orang ke arahnya, matanya mulai berair. Dia tidak tahu dari mana Arsen tahu semuanya apalagi selama ini dia menyimpannya rapat rapat.
"Aku gak nyangka banget Genita seperti itu"
"Wajar sih sifatnya aja udah kaya l***e"
"Mau menjatuhkan orang tapi malah sendirinya yang jatuh, ck kasian"
Gabriel juga berjalan mendekat ke arah Arsen dan Genita. "Ingat ya Lampir gue juga gak akan tinggal diam kalau lo sampai melakukan kesalahan itu lagi. Apalagi sekarang aib lo sudah terbuka. Ternyata selama ini lo ngelempar tubuh lo sana sini untuk mencari kepuasan." Shila mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Dani dengan lembut. "Biarkan aku mengatakan sesuatu sama dia kak" Dani melepaskan pelukannya. "Jangan memulai lagi Shila" Shila mengangguk lalu dia juga pergi ke samping Gabriel dan menatap Genita dengan tatapan meremehkan. "Gimana rasanya aib lo terbongkar? Senang enggak? Oh iya tadi juga udah gue rekam loh. Jadi kalau lo macam macam lagi gue bakal ngirim rekaman itu pada kedua orang tua lo"
Arsen tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Shila dan Gabriel. Dia bersyukur Arini memiliki sahabat seperti mereka. "Dan hari ini juga saya minta kamu minta maaf pada Shila karena telah menjambak rambutnya" Genita melirik Shila sesaat dan pandangan keduanya bertemu. "Cepat minta maaf" Genita mengulurkan tangannya dengan ogah ogahan. "Gue minta maaf sama lo dan juga gue mohon tolong jangan kirim rekaman itu. Bokap nyokap gue bisa marah dan mengusir gue dari rumah kalau sampe mereka tahu apa yang gue lakukan selama ini" Shila terlihat sedang berpikir sebentar lalu menjawab. "Asal lo gak bertingkah aja, rekaman lo aman di tangan gue."
"Dani saya tunggu kamu di mobilmu" ucap Arsen sebelum pergi. Dani mengangguk lalu dia menghampiri tunangannya. "Jangan diulangi lagi" ucap Dani sambil merapikan rambut Shila yang masih berantakan karena jambakan tadi. "Engga akan, Om Arsen sudah menjinakkan buaya betina nya jadi sekarang aku hanya perlu mengendalikannya"
"Ya sudah aku balik ke kantor lagi, kamu jaga diri baik baik" Shila mengangguk lalu Dani mencium keningnya kemudian pergi. "Enak banget ya siang siang dicium calon suami" sindir Gabriel yang membuat Shila tertawa. "Apa sih? Ya udah yok kita ke kantin kampus aja. Perut gue laper"
"Hmm" jawab Gabriel.