
Hari sudah mulai petang Arsen baru selesai mengerjakan semua pekerjaan kantor. Hari ini harusnya dia lembur untuk menyelesaikan semuanya tapi karena Arsen tidak tega dengan Arini dan Si kembar makanya itu dia memaksakan diri untuk menyelesaikan semuanya. Bahu Arsen terasa sangat pegal karena Arini sudah bersandar padanya selama beberapa jam. Arsen menyimpan file nya kemudian menutup laptopnya. Kepalanya menoleh ke samping dan melihat Arini yang masih tertidur pulas. "Sayang, bangun" Arsen menepuk pipi Arini dengan lembut. Dia harus membangunkan Arini untuk menggendong si kembar ketika di dalam mobil nanti. Arini melenguh sebentar kemudian secara perlahan membuka matanya dengan pelan pelan. Arsen tersenyum kemudian mengecup kening Arini. "Sudah sore, ayo kita pulang. Pekerjaanku juga sudah selesai semua" Arini mengucek matanya sebentar dan berusaha mengumpulkan nyawanya. Demi apapun dia merasa sangat nyaman tidur di bahu sang suami.
"Si kembar masih tidur?" tanya Arini ketika kesadarannya sudah kembali. "Belum, mereka masih pada tidur semua. Ya sudah kamu cuci muka dulu sana. Gak usah pergi ke luar, masuk ruanganku aja di sana sudah ada toilet. Tadi aku lupa bilang sama kamu" Arini mengangguk saja kemudian dia pergi sebentar untuk cuci muka. Sementara Arsen dia membereskan meja kantornya kembali sambil memasukkan satu berkas ke dalam tas hitamnya. Setelah semuanya selesai baru lah Arsen mengambil kembali kereta dorong bayi untuk si kembar. Satu kereta dorong untuk Alea dan satunya lagi untuk Aiden dan Rei. Karena yang satunya bisa dipakai oleh dua bayi. Arsen memindahkan mereka dengan pelan agar mereka tetap tertidur pulas. Tapi sayangnya itu tidak berlaku bagi Alea. Alea malah membuka matanya bahkan ketika Arsen belum menyentuhnya. "Dasar anak nakal, kamu ternyata sudah bangun" ucap Arsen sambil menyentil hidung Alea dengan jarinya. Alea tertawa gemas membuat Arsen ikut tertawa juga.
Beberapa menit kemudian Arini sudah kembali dari kamar mandi. Arini kembali lagi pada ruangan utama Arsen. "Kamu bangunin Alea mas?" ucap Arini sambil melihat ke arah Arsen. Arsen langsung menoleh pada Arini. "Dia bangun sendiri sayang. Kamu udah selesai cuci muka?" tanya Arsen. "Iya sudah barusan. Sekarang ayo kita pulang" Arsen juga memindahkan Alea ke dalam Box bayi. Setelah itu mereka keluar dari kantor dan segera pulang ke rumah.
.
.
Arsen membuka pintu ruangannya itu dengan kunci rahasianya. "Ayo masuk" ucap Arsen. Max langsung mengikutinya dari luar. Di dalam ruangan Arsen sangat gelap sekali, tidak ada pencahayaan sedikit pun. Hanya ada dua lilin yang menyinari ruangan itu. Arsen duduk di tempatnya kemudian disusul oleh Max. "Kamu tahu kan kenapa aku membawamu kesini" ucap Arsen dengan wajah yang serius. Wajahnya kembali berubah menjadi wajah Aerio. Dia bukan Arsen lagi. "Iya aku tahu, dia sudah mau muncul kembali"
"Perketat penjagaan di rumah ini. Besok kamu jangan kemana mana dulu. Aku harus pergi ke suatu tempat. Kamu jaga Via dan Arini di rumah saja"
"Kamu mau kemana?"
"Kamu akan tahu" jawab Arsen dengan penuh misteri