
Jam enam pagi, Arsen, Max dan Arini sudah tiba di bandara. Bandara itu adalah bandara pribadi milik keluarga Arsen, jadi tidak ada satu pun orang yang berada disana selain ketiga orang tersebut. Tidak ada pilot atau pramugari yang membantu perjalanan mereka. Karena Arsen bisa menyetirnya sendiri. Sebuah taksi baru saja tiba disana, Via langsung turun dan membayar taksi tersebut. Matanya menatap kesana kemari untuk menemukan kekasih dan sahabatnya tersebut. Tidak sulit untuk menemukan mereka, Karena suasana disana sangat sepi.
Via melambaikan tangannya dari jauh ketika melihat Max dan Arini. Kemudian ia berjalan dengan cepat kesana. Setelah tiba di depan Max, Via langsung memeluk Max dengan erat. ia masih belum rela Max pergi ke jepang walaupun hanya seminggu. Max tersenyum ketika melihat kekasihnya datang dan memeluknya. Ia membalas pelukannya dengan sekuat tenaga. "Ssstt tenang ya, Mas tidak lama disana. Hanya seminggu setelah itu kita bisa kembali bersama" ucap Max menenangkan Via. Via tidak menjawab, dia malah makin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Max.
Pelukan Via terlepas lalu ia beralih memeluk Arini yang berada di sampingnya. "Jangan lama lama disana, meskipun cuma seminggu. Gue, Shila dan Gabriel pasti sangat rindu sama lo. Apalagi kita kalau ngampus selalu bareng" Arini mengangguk sambil tersenyum lebar. Ia melirik jam tangannya, masih ada waktu satu jam lagi sebelum dia berangkat ke jepang. Arini ingin membicarakan sesuatu dengan Via. "Daddy, Uncle, Arini sama Via kesana dulu. Ada yang pengen kami bicarakan" ucap Arini sambil menatap Arsen dan Max secara bergantian.
"Baiklah, tapi jangan jauh jauh" jawab Arsen. Arini mengangguk lalu ia menyeret tangan Via dan membawanya pergi ke tempat yang agak jauh dari Arsen dan Max. "Ada apa Rin? Kenapa lo narik narik gue?" Via tidak mengerti kenapa Arini tiba tiba ingin berbicara serius padanya. Padahal sepertinya dari kemarin kemarin Arini tidak ada yang ingin dibicarakan padanya. Setelah agak jauh dari Max dan Arsen arini berhenti lalu menatap Via. "Ada satu hal Vi yang gue mau tanyakan sama lo" tatapan Arini lurus tepat pada bola mata Via.
"Apa?" tanya Via. "Ini menyangkut sama perasaan lo." Via terdiam sejenak lalu kepalanya menunduk ke bawah seperti orang yang sedang mengalihkan pembicaraan. "Vi, gue ngomong gini bukan mau nekan lo atau gumana. Gue cuma ingin kalian mendapatkan yang terbaik. Baik lo ataupun uncle Max. Gue gak bisa membedakan kalian karena kalian adalah orang yang sangat penting di hati gue. Kali ini gue mohon kejujuran lo Vi, Apa sekarang lo udah cinta sama uncle Max?"
Jujur saja Via memang sudah memiliki perasaan pada Max, Via sudah mulai membuka hatinya pada Max. Tapi sepertinya Via belum siap untuk mengungkapkannya pada Max. Beberapa kali ia mencoba untuk mengatakannya namun gagal karena dirinya yang terlalu gengsi atau malu. Via berharap Max yang akan menanyakan itu padanya, tapi sayangnya Arini lebih dulu bertanya padanya. Via mengangkat kepalanya, melihat Arini lalu tersenyum tipis. "Gue gak bisa menjawab pertanyaan lo Rin, tapi jika lo benar benar ingin tahu jawabannya lo lihat aja nanti.'
.
.
Max menutup mata Via dengan sengaja. "Jangan dilihat yang, Arsen memang minim dengan kewarasan" ucap Max. Via hanya mengangguk lagi pula buat apa juga ia melihat Arsen, toh di sampingnya ada kekasihnya. Arsen membelai wajah Arini sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Kamu kok gendutan? Dulu pipi kamu gak setembem ini loh?"
"Masa sih Dad?" tanya Arini dengan tidak percaya. Pasalnya ia sangat jarang memperhatikan perkembangan tubuhnya lagi, sekarang Arini lebih suka di rumah daripada keluar hanya untuk merawat diri. "Iya, sekarang kamu juga agak berisi, kayak gendut gitu tapi sepertinya kamu tidak gendut" Arsen memegang pinggang Arini lalu tanpa sengaja tangannya menyentuh perut Arini. Mata Arsen tiba tiba saja membelalak tak percaya, sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini. "Jangan jangan kamu?" Arsen mengangkat kepalanya dan menatap Arini lama.
"Jangan jangan apa Dad?" Bahkan Max dan Via juga menoleh ke arahnya. Sepertinya mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan Arsen. "Jangan jangan kamu hamil" lanjut Arsen yang membuat Max, Via dah Arini terkejut. Arini memang telat selama dua minggu, tapi masa iya gara gara itu dia hamil. Kan belum tentu. Arini masih positif thinking kalau dirinya tidak hamil. "Daddy aja aja deh, mana mungkin aku lagi hamil"
"Kita cek kandungan di jepang, jika kamu benar hamil kita akan segera menikah tiga hari lagi
"Iya" jawab Arini dengan lesu.