
Beberapa hari kemudian, Via sudah kembali masuk kuliah seperti biasa. Dia sudah tidak menunjukkan wajah galaunya lagi karena sekarang semuanya sudah jelas. Bahwa Max memang tidak bersalah. Wanita itu lah yang ternyata menjebak calon suaminya. Via benar benar menyesal karena tidak percaya dengan Max. "Mas, wanita itu udah meninggal kan? Kok bisa barengan gitu ya meninggalnya sama pas kamu ngasih bukti ke aku" ucap Via. Max yang sedang menyetir mobil menjadi tidak fokus akibat perkataan Via tadi. Jantung nya berdetak semakin kencang, tapi Max berusaha untuk bersikap biasa. "Itu hanya kebetulan sayang" jawab Max. Via menatap wajah Max kemudian kembali menghadap ke depan. "Mungkin aja sih, karena di dunia ini kan penuh dengan misteri"
[Flasback]
Ririn membereskan sisa sisa pecahan kaca semalam, lagi lagi rumahnya diteror oleh seseorang. Mereka melempar kaca rumahnya dengan batu yang besar. Pada saat Ririn menyapu kaca itu tiba tiba pintu rumahnya diketuk dari luar. Tanpa curiga Ririn membukakan pintu untuk mereka, dia mengira orang yang datang itu adalah orang pengantar makanan tapi ternyata dugaannya salah. "Siapa kalian?" tanya Ririn dengan waspada. Ririn langsung berjalan mundur untuk menutup pintu kembali tapi sayangnya Max sudah menahannya dan dengan begitu cepat mereka langsung membawa Ririn ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah. Setelah itu Arsen dan Max mulai membuka topengnya dan menunjukkan siapa mereka sebenarnya.
Kedua bola mata Ririn langsung melebar ketika melihat siapa mereka. "Kamu?" ucapnya. Arsen tersenyum sinis lalu melangkah semakin mendekati Ririn. Ririn berjalan mundur lagi tapi tiba tiba sebuah tubuh menghalanginya dari belakang. Alhasil sekarang Ririn berada di antara Max dan Arsen. "Kamu masih mengingat wajah ini Princess?" Arsen adalah orang yang membunuh ayahnya Ririn jadi dia tahu apa panggilan kesayangan dari ayahnya untuk Ririn. Kalimat princess yang terdengar dari mulut Arsen tidak semanis dari bibir ayahnya. Ririn menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Hei wanita iblis berani beraninya kamu ingin menghancurkan keluargaku, kamu hampir merusak hubunganku dengan kekasihku dan sekarang kamu juga ingin mengincar nyawa kami"
"Lepaskan dia kak, aku juga ingin memberinya pelajaran" Dengan sigap Arsen langsung melepas cekalan tangannya dari leher. Ririn langsung mengambil nafas yang sebanyak banyaknya tapi tiba tiba saja rambutnya ditarik dengan kasar oleh Max. "Kamu adalah sekretaris terburuk yang pernah ada di dunia ini, aku sudah berbaik hati untuk memberikanmu pekerjaan dan kamu malah membalasnya dengan seperti ini. Ditambah lagi ternyata kamu ada hubungannya dengan keluarga ku di masa lalu. "sssaaakiiitttt" Rintih Ririn ketika Max semakin menarik rambutnya dengan kuat. "Sakit ini tidak sebanding dengan air mata yang dikeluarkan oleh calon istriku" Arsen langsung menepuk bahu Max dia mengangguk dua kali sebagai tanda bahwa rencana mereka akan dimulai.
Max mengeluarkan pistol dari dalam sakunya kemudian dia memberikannya pada Ririn. Ririn yang kebingungan langsung mengambil pistol itu, dia tentu saja ingin langsung membunuh mereka. Tapi kenyataan tidak berpihak kepadanya karena pistol itu adalah pistol tercanggih di dunia. Pistol itu bisa dikendalikan dengan menggunakan remote. Arsen dan Max langsung berjalan meninggalkan Ririn sendirian. Dengan kesempatan itu Ririn langsung menodongkan piatol itu ke arah mereka.
Max mulai menghitung untuk melakukan sesuatu. Dalam hitungan ketiga dia menekan tombol kecil itu dan dalam sekejap pistol itu sudah berhasil dikendalinya. Ujung pistolnya langsung mengarah pada Ririn dan Ririn yang mengira akan langsung kena sasaran langsung menarik pelatuk pistolnya alhasil bukan mereka yang terbunuh melainkan dirinya sendiri. "Dorrrrrrr" Ririn langsung tumbang seketika, mulutnya mengeluarkan darah yang banyak. Pelurunya masuk ke dalam mulutnya. Dia tumbang dengan mata terbuka tapi sebelum dia menutup mata Ririn melihat kedua orang itu yang tersenyum senang melihat kematiannya.