
Sebuah Mobil Jeep Berwarna putih berhenti di sebuah gedung tua, sang pemilik mobil langsung turun dengan menutup wajahnya dengan tudung jaketnya dan Masker. Pria di balik tudung jaket itu adalah Wira. Dia datang ke gedung tua ini untuk suatu tujuan. Wira mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya lalu menggenggamnya dengan erat. Setelah itu ia menghilang dan masuk ke dalam gedung tua itu. Sedangkan di balik pohon yang berada di samping gedung tua itu, seseorang berhasil mengambil gambar Wira. Dia tersenyum menyeringai setelah mendapat gambar yang memuaskan. "Sepertinya Firasat tuan tidak pernah salah" Gumamnya dengan senyuman misteriusnya.
Wira masuk ke dalam Gedung tua itu sambil matanya mencari seseorang. Setelah menemukan orang yang dicarinya, dengan cepat ia berjalan menghampiri mereka. "Kalian sudah datang?" ucap Wira sambil menarik kursi lusuh di samping mereka. Kedua orang itu langsung menoleh secara bersamaan. "Kapan Om sampai?" tanya salah satu dari mereka. Wira melemparkan satu botol racun untuk mereka. "Baru saja, dan itu adalah barang yang saya janjikan. Kalian harus bisa menggunakannya dengan baik"
Rendi menganggukkan kepalanya, tangannya mengambil botol racun itu dan menyimpannya. "Sebenarnya Om ada masalah apa dengan Om Arsen. Kenapa Om sampe punya niat jahat seperti ini?' tanya Langit dengan penasaran. Rendi juga mengangguk setuju, karena mereka kesini juga karena ada hubungannya dengan Arsen dan Arini. Wira menatap mereka dengan serius seolah olah ia menatap mangsanya. "Kalian tidak perlu tahu, cukup lakukan saja rencananya. Dan sesuai janji saya, saya juga akan berjanji membantu kalian untuk mendapatkan Arini"
Mendapatkan tawaran seperti itu tentu saja membuat mereka tergiur. Dengan begitu mereka tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan Arini lagi. "Baiklah, kami akan melakukan perintah om dengan baik. Asalkan Om juga bisa menepati janji. Saya tidak akan segan segan membongkar segala kebusukan om jika om sampai berani menipu kita" Ancam Rendi dengan serius. Wira mengangguk. "Kalian tenang saja, saya bukan tipe orang yang suka ingkar janji" ucapnya kemudian.
Sedangkan di jepang, Arsen baru saja mendapat kabar dari salah satu anak buahnya. Arsen mendapat kiriman foto darinya yang menunjukkan Wira yang sedang masuk ke dalam gedung tua. Arsen menggoyangkan kursinya sambil mengetukkan tangannya ke meja. "Kali ini bukan hanya satu anjing, ternyata ada dua ekor anak anjing" Gumamnya.
Di situasi seperti ini Arsen tidak panik atau bimbang, dia justru terlihat santai. Arsen sudah lama mengenal dunia hitam, jadi untuk urusan kejahatan atau apapun dia tahu semuanya.
"Lanjutkan rencana kedua" Setelah mengirim pesan balasan Arsen menyimpan kembali ponselnya dan menatap langit langit ruangan gelap itu. Selain mendapat kabar dari anak buahnya, Arsen juga mendapat kabar dari Dokter kalau Arini sedang mengandung buah hatinya. Arsen tentu saja merasa senang apalagi itu yang memang diharapkannya. Tiba tiba suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya, Arsen menegakkan tubuhnya dan menunggu seseorang itu masuk ke dalamnya.
Garda masuk ke dalam kemudian menutup pintunya kembali. "Apa yang kau pikirkan Son?"
"Arsen tidak bisa menjelaskan semuanya, biar Arsen yang mengurus semuanya. Arsen akan meninggakan Arini di sini bersama papa sama mama untuk sementara waktu. Ini demi keselamatan Arini dan calon anak Arsen" Garda sekarang mengerti, ternyata putranya sedang mencemaskan sesuatu. Dia bahkan tidak sadar jika Arsen menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari semua hal yang pernah Arsen sembunyikan. "Papa akan bantu kamu jaga Arini disini" Garda menepuk bahu Arsen sambil tersenyum.
"Arini, gimana disana? Pasti banyak cowok ganteng kan?" itu adalah Suara Shila di balik telefon. Mereka berempat melakukan Video call an. Karena Shila dan Gabriel yang memaksa. Arini memang belum senpat berpamitan pada mereka berdua, dan itu yang membuat mereka semakin kesal. Dan sebagai permintaan maafnya Arini mengajak mereka bertiga untuk melakukan video call seperti yang sedang mereka lakukan sekarang. "Cowok ganteng ya? Gak ada sih. Lo tahu kan gue gk pernah mandang cogan lain selain oppa oppa kesayangan gue" jawab Arini sambil menatap layar ponselnya.
"Tahu deh Rin, masa lo gak ngelirik cogan disana sih. Sayang banget kan. Udah capek capek pergi ke jepang tapi gak dapet cogan." timpal Gabriel yang mendapat sorakan dari Shila. "Guys gue ke jepang bukan mau nyari cogan, tapi ngunjungi opa sama oma gue. Lagian gue udah gak butuh cogan lagi, kan gue udah ada Daddy. Dan lo juga Vi, lo udah ada Uncle Max. Nah lo berdua kapan?"
Pertanyaan Arini membuat Shila dan Gabriel bungkam seketika. Shila dan Gabriel masih betah menjomblo dan mereka tidak ada niatan sedikit pun untuk menjalin sebuah hubungan. "Gak lah, masih gak minat gue. Kecuali kalau sehun ngajak nikah gue. Baru gue mau. Iya enggak Gab?" ucap Shila pada Gabriel. "Hooh, tahu kan oppa oppa gue lebih menggoda daripada Hot Daddy lo itu"
Di sebrang sana Via menahan dirinya untuk tidak tertawa. Gara gara Gabriel yang bilang seperti itu dia jadi pengen tertawa. "Enak aja lo,
Meskipun gue juga sayang dan suka sama Si sehun tetap aja Hot Daddy gue gak kalah keren. Buktinya dia bisa sampe buat Arsen junior sekarang" selang lima detik kemudian Arini langsung menutup mulurnya dengan cepat. Sepertinya dia keceplosan. Arini menatap layar ponselnya yang menunjukkan wajah mereka sedang serius. "Lo hamil?" tanya mereka dengan bersamaan.