Hot Daddy

Hot Daddy
Unboxing



"Jadi waktu itu, Om eh aduh salah. Maksudnya Mas Max datang ke rumah gue dia bilang mau jemput gue buat nganter ke kampus. Karena udah terlanjur datang gue gak enak buat menolaknya, ya alhasil gue ikut Mas Max. Tapi pada saat di perjalanan menuju kampus, Dia langsung nyatain perasaannya gitu aja sama gue. Gue kaget dong, gak ada angin gak ada hujan tiba tiba langsung ditembak gitu aja."


Arini terkekeh geli membayangkan Max yang menembak Sahabatnya. Seandainya saja waktu itu ia melihatnya sendiri, pasti lebih seru lagi. Kemudian Arini kembali mendengarkan Via yang masih bercerita 'Pas itu gue masih minta waktu ya buat mikirin semuanya, gue gak bisa nerima gitu aja. Selang beberapa hari kemudian akhirnya gue mutusin buat nerima Mas Max"


"Tapi Lo masih belum cinta kan sama Uncle Max?" tebak Arini. Via menatap wajah Arini lalu mengangguk sebagai jawabannya. "Gue kan masih belom Rin, bukan gak bisa. Jadi ada peluang untuk gue jatuh cinta sama Om lo itu" tepat setelah itu mobil Max sudah terlihat dari kejauhan. Via dan Arini menghentikan pembicaraan mereka lalu berdiri sambil menunggu mobil itu berada di depannya.


Max turun dari mobilnya lalu menghampiri kedua wanita yang ia sayang itu, yang satunya adalah kekasihnya dan satunya lagi keponakan tercintanya. "Yuk kita pulang" Max langsung membukakan pintu untuk Via di kursi depan. Sedangkan Arini lebih memilih duduk di belakang, ia membiarkan saja uncle nya membucin pada sahabatnya dulu.


"Makasih Mas" ucap Via sambil tersenyum. Max membalas dengan senyumannya lalu menutup pintunya kembali saat Via sudah duduk manis di dalam mobil. Baru setelah itu ia mengelilingi mobilnya dan duduk di kursi kemudinya kembali. Max langsung menancap gas dan meninggalkan kampus.


"Uncle, jadian kok gak ada traktiran sih. Harusnya ada traktiran dong. Biasanya kan kalau anak muda jadian pasti diminta traktiran sama temannya" Max menoleh ke belakang dan melihat Arini yang tersenyum memamerkan gigi putihnya. "Uncle bukan anak muda lagi Arini, umur Uncle bentar lagi hampir tiga puluh satu"


"Lo sih Vi, kenapa harus memilih yang tua sih? Yang tua gak asyik" Sindir Arini yang hanya candaan semata. Membuat Max mendengus kesal. Via terkikik geli. "Gimana ya? Harusnya lo tahu sih jawabannya. Kan lo juga sama. Malah orang yang lo cintai udah umur 35 juga. Hot Daddy tuh"


Max tersenyum lalu mengelus puncak kepala Via. "Kamu benar sayang, malah bentar lagi Arsen juga bakal jadi aki aki" Max dan Via tertawa bersamaan dan mengabaikan Arini yang terus memutar bola matanya dengan malas. Ngomong ngomong soal Arsen, sedang  apa dia sekarang? Arini sangat merindukannya. Tapi ia masih belum bisa melupakan kejadian kemaren dimana Arsen mengaku sendiri bahwa ia lah yang membunuh Charles.


Arini membuka kaca jendela mobil namun tatapannya bertemu dengan bola mata hitam pekat itu, yang juga pengirim foto perut six pack  padanya beberapa jam yang lalu. Arsen terus menatap Arini hingga Arini kembali menutup kaca jendelanya dan memalingkan mukanya. "Tahan Ar" gumamnya pada dirinys sendiri.


Arsen melajukan mobilnya dengan kencang dan mendahului mobil Max. Sedangkan Max dan Via masih belum sadar akan hal itu karena keasyikan mengobrol. "Jadi gini ya rasanya jadi obat nyamuk" Gumam Arini ketika melihat Via yang tertawa lepas akibat lelucon garing milik Max.


Skip di rumah, malam harinya


Arini masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya, kemudian ia membuka pakaiannya satu persatu hingga menyisakan ********** saja. Bahkan bagian atasnya juga tidak tertutup, hanya ada Bra yang melindungi dadanya. Arini membuka lemarinya dan memilih baju yang akan ia pakai. Setelah selesai  Arini membalikkan tubuhnya ke belakang, tubuhnya tiba tiba membeku ketika melihat siapa yang ada di atas kasurnya. Arsen, yang saat ini bersandar di ranjangnya dan menatap tubuhnya dengan lapar. "Daddy?"


Arini langsung saja menyilangkan kedua tangannya di bagian dadanya dan dengan cepat berlari ke arah kamar mandi di dalam kamarnya. Arini menutup pintunya dengan keras. Arini memejamkan matanya menahan rasa malu yang saat ini sedang menguasainya.


Setelah beberapa menit kemudian Arini segera memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi.  Arsen menegakkan tubuhnya lalu mengajak Arini duduk di kasur bersamanya. "Sini, Daddy mau menunjukkan sesuatu sama kamu" Dengan canggung Arini duduk sambil menjaga jarak dengan Arsen. Arsen memberikan semua berkas yang ia bawa dari kantor pada Arini. "Bukalah, kamu akan tahu semua kebusukan dari Bajingan itu"


Arini mengambil berkas itu lalu membukanya. Ia mulai membaca setiap bagian dari berkas itu, Arini menggelengkan kepalanya tidak percaya, mengetahui bahwa dulu Charles pernah berniat meracuni Bunda nya tapi sayangnya digagalkan oleh Arsen sendiri. "Itu salah satunya, dulu Daddy memberi kesempatan kepada dia untuk berubah. Dan selanjutnya kamu lihat di balik halaman itu' ucap Arsen.


Arini membalikan lagi halaman berkas itu dan melihat bukti kejahatan lainnya, Charles melakukan percobaan pembunuhan terhadap Arsen dengan menyewa beberapa orang agar menikam Arsen ketika sedang makan di sebuah restoran. Arini membuka mulutnya dengan lebar ketika Arsen menunjukkan Video nya ketika ia melawan semua orang suruhan itu dengan tangan kosongnya. Padahal sedikit lagi mereka berhasil menusuk Arsen. Tapi insting Arsen yang sangat kuat membuat mereka gagal melakukannya.


"Sekarang kamu masih mau membela bajingan itu?"


"Ini...."


"Yah, ini adalah semua bukti kejahatan Charles semasa hidupnya. Daddy sudah memberinya kesempatan beberapa kali untuknya, namun ia masih tetap sama. Kamu tahu? Daddy bukan tipe orang yang bisa menahan sabar lebih lama lagi. Daddy harus membunuhnya sebelum dia yang membunuh Daddy"


Mata Arini berkaca kaca, ternyata selama ini ia membela orang yang salah. Arini menatap wajah Arsen yang juga menatapnya. Tanpa aba aba Arini langsung menubrukkan tubuhnya pada Arsen dan memeluknya dengan erat. Arsen hampir saja terhuyung jika ia tidak bisa menahan tubuhnya. Arsen tersenyum dan membalas pelulan Arini.


"Maaf Dad, selama ini Arini sudah salah paham sama Daddy" Lirik Arini. Arsen mengecup kening Arini dan mengelus rambut panjangnya. "Tidak apa apa, yang penting kamu sekarang sudah tahu siapa disini penjahat yang sebenarnya"


Arini mengurai pelukannya. "Gak mau buka baju lagi sayang?" Arsen menaik turunkan sebelah Alisnya. Membuat wakah Arini memerah seketika. "Ish apaan sih, lagian Daddy kenapa tiba tiba bisa ada di kamar. Arini kan mau ganti baju tadi"


"Ya suruh siapa kamu langsung ganti baju, kenapa tidak lihat lihat dulu"


Arini mencebikkan bibirnya. Arsen langsung mengecup bibirnya dengan cepat. "Dua hari Daddy puasa dengan tidak mencium bibirmu, sekarang ayo bayar hutang kamu sama Daddy'


"Bayar hutang?"


Arsen mengangguk lalu menarik tengkuk Arini dengan cepat dan menempelkan bibir miliknya dengan bibir milik Arini. Ciuman ini yang sangat ia rindukan dari Arini. Dan sekarang bukan hanya sekedar ciuman yang ia inginkan, melainkan tubuh Arini. Arsen mendorong Arini hingga tertidur di atas kasur kemudian tangannya meremas remas bukit kembar milik Arini. Arini bergerak seperti cacing kepanasan ketika Arsen meremas titik sensitifnya. "Boleh Daddy melakukannya sekarang?"


Arini terdiam untuk beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya. Arsen meneruskan kembali pekerjaannya. Malam ini ia akan mencapai surga dunia bersama Arini. Arsen langsung melepaskan semua pakaiannya hingga Juniornya terlihat berdiri tegak di hadapan Arini. "ayo kita mulai sayang"


[Episode berikutnya jangan lupa tahan nafas yah, Tadinya gak mau dikasih adegan Hot tapi karena ini Hot Daddy jadi nanti Author kasih bumbu bumbunya sedikit]


Salam


Authot