Hot Daddy

Hot Daddy
Apa Mau Mu?



Sesuai dengan janjinya, Sore ini Arini mulai melukis wajah Via untuk Max. Tadi ia sempat mengambil gambar Via yang tersenyum, jadi mudah untuk Arini melukis wajahnya. Max pulang dari kantor langsung berganti baju dan membawakan cokelas panas untuk Arini. "Nih uncle bawain cokelat, biar semangat ngelukisnya"


Arini menoleh sebentar lalu kembali melukis. "Makasih uncle" Max mengangguk, matanya terus menatap tangan Arini yang dengan lihai menggambar wajah Via. Arini memang selalu melakukan yang terbaik dalam melukis, itu sebabnya lukisannya menjadi lukisan terbaik di beberapa negara.


Selesai menggambar wajah Via, Arini mengambil beberapa warna kulit untuk dicampurkannya menjadi satu. Tak lupa ia juga membersihkan kuasnya agar warnanya tidak tercampur dengan warna lain. "Uncle suka sama Via, kenapa gak deketin aja sih?" ucapnya sambil mengaduk pewarnanya.


"Ya uncle juga lagi usaha, sama seperti kamu" jawab Max. Max adalah seorang playboy, semasa ia tinggal di jepang. Max sudah memacari Dua puluh lima gadis jepang. Dan rata rata mereka pernah melakukan ****. Bukan Max sendiri yang meminta, tapi mereka yang menawarkannya. Karena tak ingin menolak rezeki Max menerima mereka.


Tapi kali ini beda, Max pertama kali melihat dan bertemu Via. Ia ingin melindungi dan menjaganya. Max berpikir mungkin ia sudah mulai mencintai seseorang. Karena selama ini ia belum pernah mencintai seseorang. Sedangkan dengan mantan mantannya Max tidak pernah membawa perasaan dengan mereka. Max memacari mereka hanya karena ingin saja.


Suara Klakson mobil mengagetkan mereka. Arsen juga baru saja pulang dari kantor. Arini mengangkat bahunya acuh tak acuh. Lalu melanjutkan karya tangannya kembali. "Kamu tidak ingin menyambut Daddy mu?" tanya Max. Arini menggelengkan kepalanya. "Lagian aku masih harus menyelesaikan lukisan, kalau pun aku mau menyambutnya setidaknya aku harus menyelesaikan lukisan ini"


Arsen membuka pintu tapi tak menemukan seorang pun yang ada di dalam rumah. Hanya ada Bi Mina yang menyambutnya. "Arini sama Max kemana Bi?" tanya Arsen sambil memberikan tas nya kepada Bi Mina. "Mereka ada di taman belakang tuan, Non Arini sedang melukis"


"Arini melukis Bi?" Bi Mina mengangguk dengan semangat. "Iya Tuan, Lukisannya bagus banget tadi Bibi sempat liat sedikit" Arsen mengangguk, mungkin Arini akan melukis wajah Via buat max itulah yang dipikirkan Arsen. "Saya ke taman belakang dulu ya Bi"


"Iya tuan" Arsen pergi meninggalkan Bi Mina dan berjalan menuju taman belakang. Melihat Arsen berjalan ke arah Arini, Max berpura pura pergi ke toilet agar Arini dan Arsen berduaan saja. Arini yang sedang melukis tidak sadar jika   Arsen berada tepat di belakangnya. Arini merasa sulit dengan rambutnya yang terus menghalanginya, ia mengambil tali rambut dari sakunya dan mengikat rambutnya sehingga lehernya yang putih terlihat begitu nyata. "Gimana uncle, ini udah bagus belum? Senyum Via disini udah manis banget." Arini berdiri kemudian memundurkan langkahnya guna untuk melihat hasil lukisannya.


BUGG Arini merasa ada sesuatu yang keras di belakangnya, ketika Arini menoleh ternyata ia terbentur dengan Dada Arsen. "Daddy, sejak kapan ada disini?" tanya nya dengan kikuk. Arsen menatap intens Arini, ia menarik kembali tali rambut Arini dan membiarkannya terurai kembali. "Jangan tunjukkan lehermu di depan laki laki"


Arini mengangguk saja. Arsen melihat lukisan Arini sambil menilai. Lukisannya benar benar cantik seperti Arini yang melukis wajahnya beberapa hari yang lalu. "Cantik, kamu benar benar berbakat menjadi seorang pelukis"


"Iya, dan suatu saat Arini juga mau ngelukis orang yang Arini cintai. Arini akan menjadikan lukisan Arini sebagai lukisan terbaik yang pernah ada" Arini menatap Arsen yang juga sedang menatapnya. Sekeras apapun kamu menolak takdir, jika dia adalah takdirmu maka kamu harus bisa menerimanya. Sama seperti Arsen yang berusaha menolak perasaan semunya untuk Arini.


.


.


Malam ini semuanya akan berkumpul di ruang keluarga, Arsen dan Max menunggu Arini yang masih belum turun dari kamarnya.


"Ngumpul aja, kita kan jarang berkumpul seperti ini karena sibuk" Arini mengangguk lalu matanya melirik ke arah Arsen. "Oh hai Daddy? Ngapain bengong gitu?" Arsen memberinya tatapan tajam. "Ganti celana sana" Arini melirik celananya sendiri. "Tidak ada yang salah dengan celana Arini, harusnya tuh Daddy nasehatin calon istri Daddy. Masa Dada nya diumbar umbar?"


Max mengerutkan keningnya. "Sejak kapan Daddy kamu punya calon istri?" tanyanya. "Uncle tanya aja sendiri sama Daddy" Max menoleh pada Arsen, raut wajahnya meminta penjelasan dari apa yang dikatakan Arini. "Jelasin"


"Intinya aku sudah punya calon istri, jadi tak ada alasan lagi untuk aku menikahi Arini. Arini juga harus membuang perasaannya jauh jauh. Jangan sampai hubungan antara Daddy dan anak menjadi berantakan. Aku tidak mau itu"


Arini mengambil biskuit yang sudah disediakan Bi Mina di atas meja, ia menggigitnya dengan kasar. Perkataan Arsen sangat nyelekit di ulu hatinya.


Max melihat Arsen dengan tatapan kesal. Kalau bukan kakaknya ia pasti akan menendang wajah Arsen dari muka bumi ini. "Apa?" tanya Arsen. "Tidak ada"


Arini menyenderkan kepalanya di bahu Max, mulutnya tak berhenti menguyah biskuit. "Uncle suka lukisannya kan?" Arini mendongakkan kepalanya dan menatap Max yang tersenyum padanya. "Suka dong, lukisan kamu benar benar indah." Tangan Max merangkul Arini dan mengelus rambutnya. Max berbisik pada Arini. "tetap perjuangkan Daddy mu, sepertinya dia tak benar benar mencintai calon istrinya. Uncle yakin dia hanya mencari alasan untuk menolak menikahi kamu"


Oho, kalau Max pikir Arsen tidak dapat mendengarnya. Maka sebaliknya, Arsen justru mendengar dengan jelas bisikan Max pada Arini. "Sepertinya aku harus mengambil langkah lagi"


"Gimana uncle bisa tahu? Kemarin aja Arini lihat mereka pangku pangkuan di depan Arini" Bisik Arini, mereka mengabaikan Arsen yang berada di sebelah mereka. "Sandiwara, Uncle sudah mengenal Daddy kamu. Dia akan menolak sesuatu dengan berbagai cara. Termasuk sandiwaranya kali ini"  Arini tersenyum, Meskipun itu sandiwara atau bukan Arini juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan Arsen.


"Arini, sini duduk di samping Daddy. Jika kamu terus bersama Uncle mu maka pikiranmu akan semakin rusak" sindir Arsen pada Max. Max terkekeh, melihat Arsen kesal adalah kesenangannya. "Thank you Dad, Tapi Arini mau nya sama uncle Max. Arini gak mau bergantung terus terusan sama Daddy. Suatu saat Arini juga pasti punya kehidupan sendiri"


"Kehidupan kamu ada pada Daddy? Kamu adalah putri Daddy. Daddy tidak akan membiarkanmu kemana mana."


"C,mon Dad, selain menjadi putri Daddy Arini juga ingin merasakan menjadi seorang istri. Suatu saat Arini akan menikah, mungkin Arini akan ikut suami Arini. Makanya mulai sekarang Arini tidak mau bergantung sama Daddy lagi" Arini mengatakan hal itu semata mata agar Arsen tidak mengira ia masih menyukainya dan siapa tahu setelah ia mengatakan ini Arsen akan berpikir ulang tentang dirinya.


"Ya, Arini benar. Suatu saat kamu sendiri yang akan mengantar Arini ke altar pernikahan, menggandeng lengannya dan memberikan Arini pada pria yang akan menjadi suami Arini. Jadi bersiaplah, bukan kah itu tugas utama seorang ayah pada putrinya" Max benar benar mengompori Arsen dengan perkataannya. Ia dibuat greget oleh Arsen yang bersikap bodoh.


Arsen terdiam, ia tidak bisa menjawab argumen dari mereka, dirinya kalah telak. Tadinya ia mengira malam ini akan ada obrolan hangat di antara mereka, tapi Arsen malah  terpojokkan seperti ini. Arsen tidak ingin melepas Arini tapi ia juga tidak mau mengikatnya dengan satu hubungan.