
Sepuluh menit lagi mereka akan segera pergi Arsen memasukkan semua barang barang mereka ke dalam pesawatnya. Arini bersedekap dada sambil menatap Langit yang sangat cerah di hari ini. Lain hal nya dengan Via, Via masih tidak rela jika Max pergi. Rasanya ia ingin menahan Max untuk tidak pergi. Tapi ia bisa apa, Via hanya kekasihnya bukan istrinya. Dia masih belum mendapatkan hak yang sempurna untuk Max. "Mas, sebelum Mas pergi ada yang ingin aku bicarakan sama Mas?" Via mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Max dengan mata yang berkaca kaca.
"Mau ngomong apa sayang?" Max menangkup wajah Via dengan tangannya. Pemandangan tersebut tidak lepas dari penglihatan Arini, Arini terus memperhatikan mereka, diam diam dia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan Via. "Mau ngomong apa hmm?" ulang Max sekali lagi karena Via tidak kunjung menjawabnya. Saat Via akan membuka mulutnya, suara seseorang menginterupsi dari jauh. Arsen menyuruh mereka untuk masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat mereka akan lepas landas. "Iya bentar" teriak Max. "Arini, lebih baik kamu duluan saja, nanti uncle menyusul" ucap Max sambil menatap Arini.
Arini mengangguk, lalu ia melirik Via sekilas kemudian pergi menyusul Arsen. Setelah Arini pergi Max kembali menatap Via. Max langsung memeluk dan mengecup kening Via. "Kamu jaga diri baik baik ya, Mas akan cepat pulang. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan. Satu lagi, kamu juga tidak boleh dekat dekat sama cowok lain selagi tidak ada Mas. Mengerti sayang?" Lidah Via terasa kelu, matanya semakin memanas, tanpa sadar Air matanya pun menetes dengan sendirinya. "Cepat pulang Mas" lirihnya.
Max tersenyum lalu mengangguk, kemudian ia melepas pelukannya dan mulai berjalan menjauh. Tapi sebelum itu Max masih sempatnya melambai pada Via. "I Love You" teriak Max dari jarak yang sedikit jauh dari Via. Max yakin Via tidak akan membalasnya, tubuhnya kembali berputar dan terus berjalan menjauh. Via menghapus air matanya dengan kasar lalu berteriak. "I LOVE YOU TOO MAS" Via merasa lega setelah mengungkapkan hal yang ia coba sembunyikan selama ini.
Max terdiam kaku di tempatnya, Ia yakin kalau dirinya tidak salah mendengar kalau Via membalas pernyataan cintanya. Max antara percaya dengan tidak percaya. Tapi Dengan segenap hati ia membalikkan tubuhnya dan melihat Via yang tersenyum padanya. "I love you mas Max, Aku sayang kamu, Aku cinta kamu" lagi lagi Via berteriak dengan keras sambil menatap Max yang tersenyum dari arah sana. Max tersenyum dengan lebar lalu merentangkan kedua tangannya. Via yang mengerti kode itu langsung berlari dan segera memeluk Max dengan erat. "I love you Mas"
Akhirnya penantian Max tidak berujung sia sia, Via sudah mencintainya. Itu berarti sekarang Via benar benar menjadi miliknya seorang. "Sejak kapan?" tanya Max sambil mengurai pelukannya. Senyum dari wajahnya tidak menghilang bahkan hingga sekarang. "Aku tidak tahu kapan perasaan ini berubah, tapi yang perlu Mas tahu sekarang hati aku sudah milik Mas sepenuhnya. Aku sudah tidak suka dengan om Arsen lagi. Mas berhasil membuka pintu hati aku"
"Anak pinter, tapi sekarang Mas harus pergi dulu. Kamu baik baik ya disini" Via mengangguk, lalu ia berjinjit dan mengecup pipi kanan Max. "See you Mas"
"See you too Dear"
"Sayang, kamu cuma perlu diam saja. Biar Daddy yang menjelaskan semuanya pada mereka. Okay? Kamu cuma perlu ada di samping Daddy saja. Daddy tidak akan membiarkanmu sendirian" Mata elang Arsen berubah menjadi teduh ketika bersama Arini, bahkan Arini pun menyadarinya. Sehingga dia terhipnotis oleh mata itu. "Aku percaya sama Daddy" sahut Arini kemudian.
"Ayo kita berangkat" ucap Max yang kini sudah selesai dengan Via.
Perjalanan dari indonesia ke jepang hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama tujuh jam dua puluh menit. Dan selama itu pula Arsen tidak tidur, ia hanya fokus menerbangkan pesawatnya demi keamanan mereka semua. Arini terus menguap, padahal mereka hampir sampai di bandara jepang. Karena tidak kuat menahan rasa kantuk lagi akhirnya ia menjatuhkan kepalanya di bahu Max. Arini tertidur lagi. Max segera memperbaiki posisi duduknya ketika Arini bersandar padanya. "Tidur lagi, dasar kebo" ucap Max sambil terkekeh.
Arsen mendaratkan pesawatnya di bandara jepang, tidak sulit baginya untuk mengendarai pesawat karena Arsen memang dilatih menjadi serba bisa dari sejak kecil. Bukan hanya pesawat yang bisa ia setiri, bahkan kereta, kapal atau yang lainnya Arsen juga bisa. "Arini tidur lagi?' tanya Arsen ketika mereka benar benar sudah mendarat dengan selamat. Max menganggukkan kepalanya. "Kasian dia, kayaknya kecapekan"
"Arini biar sama aku, sekarang kamu cepat turunin barang barang kita. Pak Hiro menunggu kita di kuar sana" ucap Arsen lagi. Hiro adalah supir yang bekerja dengan Mila dan Garda selama di jepang. Dia diperintahkan oleh kedua orang tua Arsen untuk menjemput anak cucu mereka. "Yaudah, aku mau nurunin koper dulu. Kamu jaga dia" Max memberikan Arini pada Arsen dan meninggalkan keduanya untuk menurunkan barang barang.
Arsen tersenyum lalu dia menggantikan posisi Max dan duduk di sebelah Arini, Arsen meletakkan kepala Arini di dada bidangnya dengan hati hati. Jantungnya semakin maraton saja ketika berdekatan dengan Arini. "Kamu paling bisa kalo buat Daddy makin sayang sama kamu,, cupp" Arsen Mencium kening Arini dengan singkat.