
Sudah dua hari semenjak Arini pergi ke jepang, Via dan yang lainnya merasa kesepian tanpa kehadiran Arini. Seperti di siang ini, sehabis mata kuliah Sastra indonesia mereka langsung bergegas pulang. Biasanya mereka selalu menongkrong dulu sebelum benar benar pulang. Shila mengambil ponselnya kemudian mengambil foto dirinya dengan berpose menunjukkan separuh wajahnya yang terkena sinar matahari. Via dan Gabriel hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Narsis Shila. "Dah cantik, gak perlu pakai filter lagi nih" Gumam Shila ketika selesai mengambil satu gambar.
"Lebih cantik lagi kalau disitu ada wajah gue" Sahut Gabriel tiba tiba. Shila hanya mengangguk saja karena dia sedang fokus memasukkan gambarnya ke dalam instagramnya. Kalau Via adalah Gamers di kampusnya, Shila adalah ratu kampus kedua setelah arini. Banyak pria yang mencoba mendekatinya tapi malah ilfeel karena sikap Shila yang pecicilan. Sedangkan Gabriel yah dia sama saja seperti gadis pada umumnya. Sifatnya lebih dominan pada Via, yang masih bisa bersikap normal.
"Habis ini kalian mau langsung pulang kan?" tanya Via pada Shila dan Gabriel. Gabriel mengangguk. "Gue sih langsung pulang, nyokap minta ditemenin ke salon, kalau Lo Shil?" Gabriel menolehkan kepalanya pada Shila yang sudah selesai dengan ponselnya. "Gue? Gue juga mau langsung pulang. Pacar gue sedang menunggu di rumah" jawab Shila sambil tersenyum lebar. Via memutar bola matanya dengan malas, tentu saja ia sudah sangat kenal dengan yang Shila sebut sebagai pacar itu. "Gak jelas lo, pacaran kok sama kasur" Sindir Gabriel pada Shila.
"Asal lo tahu aja ya Gab, Kasur itu lebih enak. Bebas mau ngapain aja, mau guling gulingan atau salto pun gak ada yang bisa melarang. Jujur saja gue masih belum siap membucin sih Gab, gue aja liat Via sama Arini jadi geli sendiri kalo liat mereka romantisan sama pasangannya. Mereka tuh kalau lagi bersama dunia itu terasa menjadi milik mereka dan kita hanya menumpang" ucap Shila dengan menekankan kata menumpang. Kemudian Shila melirik Via yang terus menatapnya sejak tadi dengan pandangan yang sedikit menakutkan.
Shila berdeham sejenak lalu bersedekap dada. Ia mengangkat dagunya dengan tinggi tinggi. "Apa liat liat? Gue tahu kok Vi gue emang cantik tapi lo gak perlu liat gue segitunya kali. Gak usah insecure sama gue Vi, lo juga gak kalah cantik kok dari gue meskipun masih lebih cantikan gue daripada lo" Gabriel dan Via hanya menatap Shila dengan tatapan aneh. Lalu mereka menoyor kepala Shila secara bersamaan. "Gak usah kepedean siput, muka kek pantat wajan aja bangga." balas Via dengan sedikit bumbu pedas dari mulutnya. "Tahu tuh, nih anak lama lama ngeselin juga kita mutilasi aja yuk Vi, lalu lemparkan ke kolam ikan piranha"
Shila mengerucutkan bibirnya dengan sebal. "Kalian kok jahat banget sih sama gue" ucapnya dengan sedikit nada melow. "BODOAMAT" Via langsung menarik tangan Gabriel dan meninggalkan Shila sendirian. Lama lama bersama Shila membuat emosi mereka terpancing. "Salah gue apa yak?" Shila menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian berjalan menyusuli mereka.
.
Arini membantu Mila memasak di dapur, Pembantu di rumah mereka sedang tidak ada, jadi urusan dapur Mila yang sekarang mengurusnya dengan sedikit bantuan dari Arini. Tapi tak lama kemudian Mila menyuruh Arini untuk berhenti. "Arini, sekarang kamu sudah selesai. Kamu tidak boleh capek capek, sekarang kamu istirahat sana. Dan urusan masak, biar mama yang melanjutkan. Kamu istirahat yang sayang. Jangan lupa kalau di dalam perut kamu ada cucu mama, kamu harus menjaganya dengan baik"
"Tapi Ma..." Arini baru saja akan membantah ucapan Mila tapi sebuah suara memanggilnya. Itu adalah Max. Arini melirik Mila yang kemudian Mila langsung mengangguk. Itu artinya dia memberikan ijjn untuk Arini bertemu dengan orang itu. Setelah mendapat jawaban dari Mila, Arini langsung keluar untuk memenuhi panggilan Max. Dan tinggallah Mila sendirian di dapur. Mila menggelengkan kepalanya karena merasa takdir itu lucu. Dulu Arsen sangat membencinya setengah mati dan sekarang Arsen malah sangat menyanyanginya. ditambah lagi Arini yang dulunya menjadi cucunya sekarang berubah status menjadi calon menantunya.
Arini berjalan ke ruang keluarga dan melihat Max yang sedang menatapnya seperti sedang menunggunya. "Sini duduklah, ada hal yang ingin kami bicarakan sama kamu" ucap Max. Arini mengangguk lalu ia mengambil tempat di samping Arsen. Beberapa lama kemudian suasana menjadi hening, tidak ada yang membuka obrolan hingga akhirnya Arsen lah orang pertama yang menghilangkan kesunyian itu. "Ada apa Dad?" tanya Arini sekali lagi. Sungguh ia sudah dibuat penasaran oleh Arsen berkali kali.
"Jadi begini, untuk sementara Daddy akan pulang ke indonesia. Karena disana salah satu perusahaan Daddy sedang terjadi masalah." Arini mengernyitkan keningnya, ia masih tidak mengerti alasan Arsen untuk menyuruhnya berkumpul di sini. "Arini, maksud Arsen adalah, dia akan pulang ke indonesia tanpa harus membawamu" Max akhirnya ikut menjelaskan agar semuanya tidak menjadi rumit lagi.
"Jadi maksudnya Daddy akan meninggalkanku ke indonesia untuk sementara waktu?" hal itulah yang Arsen tunggu tunggu, Arini lebih peka dari sebelumnya. Ia sangat bangga sekaligus bimbang karena harus meninggalkan Arini di jepang. Tapi mau bagaimana lagi ini semua demi kebaikan dirinya dan calon anaknya sekarang. "Papa mohon Arini, untuk sementara kamu tinggallah di jepang sampai Arsen menjemputmu kembali. Karena papa tahu Arsen sedang mengurus masalah perusahaannya disana" Sambung Garda. sebelum memanggil Arini mereka bertiga sepakat untuk membujuk Arini agar mau tinggal di jepang untuk sementara waktu.
"Baiklah, Arini setuju" ucap Arini pada Arsen. Arsen mengangguk seraya tersenyum. Kalau begitu ia harus bisa melanjutkan rencananya sekarang.