
Arsen baru saja tiba di rumah, dia bergegas masuk ke dalam rumah sambil menenteng beberapa makanan yang ia beli di restoran. Saat sudah di dalam Arsen langsung saja memanggil bi Mina. Bi Mina yang kebetulan sedang membersihkan ruangan langsung menghampiri Arsen. "Ada apa tuan?" tanya Bi Mina. Arsen langsung menyerahkan beberapa kantong makanan itu pada Bi Mina. "Tolong siapin makanan ini ya Bi, habis itu langsung diantar ke kamar. Saya mau langsung menemui Arini di kamar atas" ucapnya. Bi Mina mengangguk lalu tersenyum. "Baik tuan" setelah Bi Mina pergi barulah Arsen menyadari kalau dua pasangan itu sudah menghilang, entah kemana mereka. Arsen lalu naik ke atas dan berjalan menuju kamarnya.
Saat dia membuka pintu kamarnya, betapa terkejutnya Arsen ketika melihat kamar yang semula rapi menjadi berantakan. Benda benda yang tadinya berada di atas sekarang sudah berada di bawah semua. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Arsen melihat Arini yang sudah berpakaian kostum hewan beruang. Entah darimana kostum itu Arsen tidak tahu. Tapi apakah harus begini? Semua barang berantakan, kasur pun juga tidak rapi. Arsen hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Astaga, istri siapa sih ini bobrok banget" batinnya. "Arini, kamu ngapain?" Suara Arsen tidak membuat Arini menoleh dia masih tetap memandangi dirinya di depan cermin. Sangat terlihat sekali kalau dia memang menggemaskan dengan kostum itu.
"Arini sayang, kenapa kamar kita berantakan seperti ini sih" Arsen membalikkan tubuh Arini, Seketika dia langsung mundur beberapa langkah. Yang dia lihat sekarang bukan wajah cantik Arini lagi, melainkan wajah yang bermake up seperti hantu dengan kostum beruang. Arsen benar benar kesal, ingin rasanya ia memukul sesuatu tapi dia sekuat tenaga menahannya. Menarik nafas yang dalam kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. "Apa sih Mas, jangan ganggu deh. Aku mau nyobain Style terbaru ala ala dedek bayi nya. Dia yang mau ini bukan aku" jawab Arini sambil memoleskan sebuah celak di mata sebelahnya.
Daripada Arsen meladeni Arini lebih baik dia membereskan semua kekacauan ini. Arsen menggulung lengan bajunya kemudian membereskan kamarnya sedikit demi sedikit. Sedangkan Arini dia malah dengan santainya duduk di tempat kursi riasnya. Bersenandung kecil dengan suaranya yang tak sedap, Arsen harus banyak mengelus dada akibat kelakuan istrinya. Ibu ibu hamil memang sangat menyusahkan apalagi ketika bertingkah aneh seperti itu. "Jangan bergerak, diam di tempat dulu. Aku masih mau membereskan semua ini" ucap Arsen. Arini hanya mengangguk dan tetap diam di tempat.
Sepuluh menit kemudian, Arsen sudah menyelesaikan semuanya dengan singkat. Sekarang kamarnya sudah rapi kembali. Sekarang sudah saatnya dia harus mengembalikan penampilan Arini lagi. "Sudah mas?" tanya Arini dengan tampangnya yang seperti tidak berdosa sama sekali. "Sudah, sekarang aku mau beresin kamu dulu. Ibu hamil tapi aneh aneh gini. Ayo cepat ganti kostummu sekarang" Arini menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak mau, aku masih pengen pake kostum ini Mas. Sudah lama aku membeli ini tapi baru sekarang ku pakai. Apalagi tadi aku mengambilnya di atas lemari sana" ucap Arini sambil menunjuk ke atas lemari yang memang cukup tinggi untuk digapainya.
Pada saat itu pintu kamar diketuk, Arsen langsung membukakan pintu dan ternyata adalah Bi Mina yang mengantarkan makanan yang Arsen beli tadi. "Ini tuan sudah saya siapkan semuanya"
Arsen langsung mengambil nampan berisi makanan dari tangan bi Mina kemudian dia mengucapkan terima kasih sebelum kembali menutup pintunya. Dengan perlahan lahan Arsen membawa nampan itu dan meletakkan di nakas samping tempat tidur. Kemudian dia menoleh pada Arini, Arini tidak melihatnya sama sekali. Dia tahu kalau Arini sedang marah padanya perihal kemarahan Arsen tadi. "Sabar Arsen, kalau kamu tidak sabar kamu tidak akan merasakan kenikmatan itu lagi" batinnya.
"Sayang, kita makan dulu ya. Aku sudah membelikanmu beberapa makanan kesukaan kamu" Arini masih tetap pada pendiriannya. Dia tidak bicara sama sekali dengan Arsen dan memilih untuk melihat ke arah lainnya. Akhirnya karena sudah greget sekali Arsen langsung menggendong Arini dan memindahkannya ke kasur. Arini tidak berontak juga tidak bicara. Dia malah membiarkan Arsen melakukannya. "Sekarang kamu makan dulu ya, aku suapi" Arsen tersenyum kemudian mengecup puncak kepala Arini.