
Setelah hari kemarin, hari ini Arini sudah mulai bersikap seperti biasa. Setiap pagi dia selalu mengurus si kembar. Arini selalu menyukai setiap perkembangan dari anak anaknya. Mereka sudah mulai mengerti dengan apa yang dilakukan Arini. Seperti sekarang ini ketika Arini sedang mengganti popok Alea, Rei malah tertawa. Dia tertawa sambil melihat ke arah Arini. Arini juga ikut tertawa melihat Rei tertawa. Lain hal nya dengan Aiden, dia hanya mengangkat tangan mungilnya sambil dilihat olehnya sendiri. "Nah sekarang Alea udah ganti popok, anak mommy pinter banget sih" Arini mencium pipi Alea dengan gemas sehingga membuat Alea juga tertawa. Setelah beberapa saat Arsen turun dari atas, dia turun dalam keadaan sudah berpakaian rapi. Hari ini Arsen harus pergi ke kantor lagi untuk mengurus semua hal yang belum terselesaikan. Arsen sudah menceritakan semuanya kepada Arini tentang hal kemarin. Tentang bagaimana Arsen mengirim orang tua kandungnya ke pulau pribadinya. Arini tentu saja senang ketika Arsen masih memberi kesempatan kepada orang tuanya. Arsen yang dulunya Monster bagi semua orang tapi sekarang sedikit melunak. Dan Arsen juga sudah menunjukkan kalau dia sudah berubah.
Arsen memasang jam tangannya di depan Arini. "Bi Mina sudah menyiapkan sarapan. Mas gak mau sarapan dulu?" tanya Arini sambil mendongakkan kepalanya melihat ke wajah Arsen. "Enggak, MasĀ sarapan di kantor aja. Ini lagi buru buru soalnya. Kamu di rumah baik baik ya. Jangan kemana mana tanpa seijin dari mas. Kamu paham kan?" Arsen menoleh pada Arini. Arini mengangguk kemudian dia berdiri. Arini memperbaiki dasi Arsen. Arsen tersenyum kemudian dia menarik pinggang Arini dengan mesra sehingga tubuh mereka sudah tidak berjarak lagi. "Cepet pulang ya Mas" bisik Arini dengan mesra. Arsen mengecup bibir Arini dengan singkat. Matanya saling bertemu dengan mata Arini. "Aku tidak janji tapi aku bisa mengusahakan pulang cepat hari ini"
Arsen melirik ke kanan dan ke kiri setelah memastikan keadaan aman baru lah dia melancarkan aksinya. Arsen langsung meraup bibir Arini dengan bibirnya. Arini yang tak siap hampir saja terhuyung ke belakang jika Arsen tidak menahannya. Arsen langsung melilitkan lidahnya pada lidah Arini. Arsen juga semakin menekan tengkuk Arini pada bibirnya. Arini hanya menikmati apa yang dilakukan Arsen padanya. Dia memejamkan matanya sambil terus berciuman.
Max dan Via keluar dari kamar mereka. Via berniat akan mengantar Max sampai ke bawah. Saat mereka akan tiba di tangga Max sudah melihat duluan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. "Sayang kita pake Lift aja yuk, kelihatannya tangganya licin" Ucap Max pada Via sambil membalikkan tubuh Via ke belakang agar tidak melihat ke arah mereka. "Kenapa mas?" Tanya Via. Max berusaha mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Via. "Emm itu tadi Bi Mina baru saja mengepel di tangga dan belum kering. Jadi untuk saat ini gak aman kalau kita lewat tangga" Jawab Max.
Arsen melepaskan ciumannya setelah beberapa saat. Dia mengelap bibir Arini dengan tangannya. "Pipi mu masih saja suka merah setelah dicium" ledek Arsen pada Arini sambil terkekeh. Arini hanya memanyunkan bibirnya. "Ya sudah mas berangkat dulu" Arsen mencium si kembar satu persatu kemudian mencium Arini sekali lagi di bagian keningnya. "hati hati mas"
"iya"