Hot Daddy

Hot Daddy
S.2. Eps 23 Rocky



Sepanjang pelajaran Gevan terus menguap merasa bosan dengan materi kimia yang diterangkan oleh pak Faizal sebagai guru kimianya. Gevan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari perhatian. Saat dia melihat ke arah Alea, Gevan langsung tersenyum jahil. Gevan merobek satu lembar kertas kemudian diremasnya setelah itu ia memicingkan matanya dan melemparkannya pada Alea. Akan tetapi bukannya mengenai Alea, kertas itu malah meleset dan alhasil kertas itu mengenai wajah Pak Faizal. "Gawat" batin Gevan dalam hati. Gevan benar benar tidak sengaja padahal objek utamanya adalah Alea. Pak Faizal yang sedang menerangkan pun langsung berhenti kemudian melirik ke semua muridnya. Pak Faizal mengambil lemparan kertas itu. "Siapa yag melempar kertas ini?" tanya Pak Faizal dengan suara tegasnya. Pak Faizal terkenal dengan guru yang tidak suka muridnya bermain main di kelas. Dia juga termasuk jajaran gue terkiller di SMA ARWANA.


Alea langsung melihat ke arah Gevan yang sedang menutup wajahnya dengan buku tulisnya. Sekarang dia tahu kalau Gevan lah pelaku nya. Alea langsung mengangkat tangannya dengan tinggi. Membuat semua perhatian langsung tertuju padanya. Bahkan Gevan sendiri sampai kaget karena Alea yang mengacungkan tangannya padahal bukan dia yang melempar. "Alea, jadi ini ulah kamu?" Pak Faizal menatap Alea dengan tajam. Alea menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan saya pak, saya cuma mau bilang kalau pelaku yang sebenarnya adalah dia" Alea langsung menunjuk ke satu arah dimana Gevan duduk. Vina dan temen sekelasnya pun langsung menoleh ke arah Gevan. Pak Faizal langsung menuju ke meja Gevan. "Bukan saya pak, Alea cuma fitnah" ucap Gevan berusaha membela dirinya.


Alea tersenyum smirk kemudian dia mengode teman di belakangnya. "Alea benar pak, saya melihatnya sendiri tadi Gevan yang melemparnya" ucap Radit yang membuat semua cewek di kelas Alea kesal. Radit hanya cengar cengir ketika mendapat lirikan tajam dari teman teman ceweknya. Pasalnya semua cewek di kelasnya sangat menyukai Gevan. Makanya sedari tadi mereka semua hanya diam meskipun tahu Gevan lah pelakunya. Gevan terlihat kikuk ketika pak Faizal menatapnya. "Sekarang juga kamu berdiri di depan kelas, angkat satu kakimu. Kamu akan saya hukum sampai jam pelajaran saya berakhir"


"Tapi pak jam pelajaran bapak kan sampai tiga jam, berarti saya dihukum dua jam dong. Satu jam aja deh pak" Protes Gevan.


"Gak usah banyal protes atau saya tambahin hukuman kamu"


Alea tertawa menertawai Gevan dia memeletkan lidahnya ke arah Gevan sambil tersenyum mengejek. "Rasain lo" ucapnya pada Gevan secara terang terangan sehingga membuat Gevan cemberut. Vina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alea pada Gevan. Sekarang saja Alea sangat tidak menyukai Gevan siapa tahu ke depannya akan berubah.


.


.


Rocky dan Arsen sedang menemui Klien di  sebuah cafe. Rocky mencatat semua hal penting hasil dari pembicaraan mereka. Arsen dan Kliennya akan bekerja sama dalam bidang pendidikan. Mereka akan membangun sekolah di tempat yang sudah ditentukan. Awalnya Arsen ingin membangun hotel tapi setelah dipikir pikir Hotelnya sudah ada dimana mana, lebih baik dia membangun sekolah yang bisa membuat semua anak berpendidikan. "Senang bekerja sama dengan anda, rasanya seperti mimpi saya bisa menemui Anda secara langsung" ucap Klien Arsen yang bernama Ken Alvaro itu.


"Untuk informasi selanjutnya akan saya infokan melalui sekretaris saya, Rocky." Lanjut Arsen yang diangguki oleh Ken. 


"Apapun keputusan anda saya dukung. Saya percaya sepenuhnya dengan anda" Arsen mengulurkan tangannya kemudiam berdiri bersamaan dengan Ken. "Baiklah kalau begitu sampai jumpa di lain hari, saya harus pergi sekarang" ucap Arsen.


"Baiklah, terima kasih atas semuanya"


Setelah itu Arsen meninggalkan Ken di cafe bersama Rocky. Rocky langsung membukakan pintu mobil untuk Arsen dan dia pun juga ikut masuk ke dalam, duduk bersama Arsen. "Kamu sudah mencatat semuanya?"


"Sudah pak, catatan ini akan saya ketik dan nanti akan saya serahkan pada bapak"


"Baiklah, saya percaya sama kamu"


Rocky duduk diam di mobil sambil termenung, entah kenapa dia tiba tiba memikirkan Alea. Gadis mungil itu tidak bisa hilang dari pikirannya. Rocky akui Alea sudah cantik sejak dari bayi. Dia tersenyum sendiri membayangkan hal yang dulu ia lakukan. Rocky menggendong Alea dan menenangkannya ketika menangis, pada saat itu Arsen sedang ada rapat penting sehingga menitipkan Alea pada Rocky.