Hot Daddy

Hot Daddy
Menjelang akhir (2)



Alea dan Via benar benar terpesona dengan dekorasi pesta itu. Jika di luarnya saja sudah begitu indah apalagi di dalamnya. Berulang kali Arini dan Via berdecak kagum. "Ini semua anda yang menyiapkan?" tanya Arini pada Rocky sambil menoleh ke arahnya. Rocky tersenyum lalu menjawab pertanyaan Arini. "Iya bu ini semua saya yang menyiapkan tapi ini semua juga atas ide dari pak Arsen. Semua dekorasi ini hasil dari pemikiran pak Arsen sendiri. Saya hanya menjalankan tugas saja untuk menyiapkan dekorasi ini" Arini mengangguk kemudian setelah berapa lama mereka berjalan. Rocky membukakan pintu untuk mereka berdua. "Silahkan masuk Bu, ini adalah ruangan khusus yang sudah dipersiapkan oleh Pak Arsen untuk ibu" ucap Rocky. Arini berterima kasih pada Rocky. Kemudian Rocky pamit pergi dan membiarkan Via dan Arini masuk ke dalam.


Arini dan Via langsung masuk ke dalam. Lagi lagi mereka ditunjukkan sebuah pemandangan yang indah. Pintu itu bukan menuju ke sebuah ruangan. Melainkan ke sebuah lapangan kantor yang sudah dihiasin dengan sangat indah. Pintu yang mereka masukin tadi memang pintu belakang yang tujuannya bisa langsung menuju ke lapangan. "Gila, suami lo benar benar sultan Rin. Ini lapangan atau apa sih indah banget" Lapangan itu sudah Arsen sulap menjadi seperti sebuah taman ketika di malam hari. Banyak lampu warna warni yang bertebaran, tidak hanya itu Arsen juga memerintahkan orang orangnya untuk menerbangkan seribu lampion. Sehingga pas mereka berdua datang lampion lampion itu sudah terbang ke atas langit. "Itu meja makan, itu sofa tempat bersantai dan itu sepertinya tenda tempat kita tidur. Gila fantastic banget suami lo"


Arini tersenyum melihat semua ini, perasaannya sudah tidak bisa diungkapkan lagi. Dia benar benar bahagia. Arini mengangkat kepalanya melihat ke atas langit yang dipenuhi dengan lampion lampion indah itu. "Terima kasih bunda, terima kasih atas kebahagiaan yang Bunda berikan hari ini" batin Arini. Arini kemudian langsung menunduk dan melihat Rei yang tengah melihatnya. Arini tersenyum kemudian mengecup pipi Rei. "Suatu hari nanti Mommy akan membawamu ketemu Bunda ya, nanti Rei, Aiden, Alea juga harus tau sama Bunda"


Via dan Arini berjalan lebih jauh lagi mengelilingi lapangan itu. Dan tiba tiba langkah mereka berdua berhenti ketika mendengar suara langkah kaki. Lampu lampu di lapangan itu tiba tiba padam semuanya. Sekarang semuanya gelap tidak ada pencahayaan sedikit pun. "Kok tiba tiba mati sih" ucap Arini. Mereka tidak bisa berjalan karena memang suasananya sudah gelap sekali dan mereka khawatir jika mereka tetap berjalan pasti akan menabrak sesuatu. Tiba tiba Rei yang berada di gendongan Arini ditarik oleh seseorang. Arini berusaha menarik Rei tapi dorongan orang itu begitu keras. Rei berhasil direbut oleh orang itu. "REIIIIIIIIIIII" Via yang masih belum menyadari apa yang terjadi langsung menoleh pada Arini. "Ada apa Rin? Kenapa lo teriak? Bukannya Rei ada sama lo"


"Rei diculik Vi" ucap Arini. "Gimana bisa bukannya Rei...hmmmmmmpppp" Mulut Via ditutup oleh seseorang. Via menoleh dan mendapati Max yang menempelkan jarinya di bibirnya. "Ini kejutan untuknya" bisik Max pada Via. Sekarang Via mengerti. Perlahan Max melepaskan tangannya dari bibir Via kemudian mengajak Via mundur perlahan. Max menuntun Via dengan pelan dia menggunakan pencahayaan yang tidak terlalu terang supaya Arini juga tidak menyadari hal itu. "Vi, lo dimana?" Arini mengayunkan tangannya ke kiri dan kanan dan tidak ada tanda tanda keberadaan Via. "Viaaaa" Arini benar benar tidak mengerti. Tadi Rei yang diculik sekarang Via. Dia tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Arini harus mencari mereka. Saat Arini berbalik tiba tiba dia menabrak sesuatu. "Awwwwww"