
Arsen membawa Arini tidak ke tempat yang terlalu ramai, dia hanya membawa Arini ke taman hiburan yang berada di pusat kota. Arsen memilih tempat duduk yang dipenuhi dengan hiburan di taman. Meskipun itu hanya taman hiburan tapi Arini merasa sangat senang sekali. Setelah beberapa saat, Arini dan Arsen duduk di sebuah kursi dimana pemandangannya mengarah ke tempat para badut beraksi di depan banyaknya anak kecil. "Kamu suka?" tanya Arsen. Arini mengangguk seraya tersenyum suasana hatinya sangat bagus sekali. "Aku haus Mas, pengen es krim boleh?" Arini menunjukkan wajah puppy eyes nya yang membuat Arsen luluh. "Satu aja ya" tawar Arsen yang diangguki Arini. "Ya udah kamu tunggu disini dan jangan kemana mana." setelah itu Arsen pergi meninggalkan Arini sendirian untuk membeli es krim. Arini melihat lihat ke taman ternyata disana juga banyak pasangan suami istri yang sedang romantis romantisan. Lalu tanpa sengaja matanya melihat sosok yang sangat dia kenal.
Arini mengambil ponselnya kemudian menelfon seseorang untuk memastikan apakah yang dia lihat itu benar atau salah. "Iya halo kenapa Rin?" Gabriel langsung menjawab telfon Arini dan sekarang Arini mengerti kalau orang yang dia lihat itu adalah Gabriel. "Lo dimana Gab?" Gabriel merasa Arini ada di sekitarnya dia menoleh kesana kemari tapi tidak menemukan Arini. "Gue di taman. Emang kenapa?" Gabriel bertanya balik. "Lo disana sama Kak Doni kan?" tatapan Arini tetap mengarah pada Gabriel. Gabriel terkejut ketika Arini mengetahui keberadaannya lalu dia mencoba menoleh kembali dan sekarang dia sadar kalau ternyata Arini berada di taman itu juga. Arini langsung memutuskan telfonnya begitu saja, dia hanya ingin tahu apa itu benar Gabriel atau bukan dan sekarang dia sudah mendapatkan jawabannya.
Arsen kembali dengan membawa es krim yang diinginkan oleh Arini. "Maaf lama tadi harus ngantri sama anak kecil dulu" ucap Arsen sambil menyerahkan satu es krim cokelat berukuran sedang. "Makasih Mas" jawab Arini sambil menerima es krimnya. Kemudian Arsen duduk di samping Arini. Matanya fokus melihat ke arah Arini yang sibuk dengan es krimnya. "Pelan pelan makannya jangan belepotan kayak anak kecil" ucap Arsen sambil membersihkan sisa sisa es krim di bibir mungil Arini. Tapi sepertinya Arsen mempunyai ide lain dia membersihkan bibir Arini dengan bibirnya sendiri. "Lezat" bisik Arsen kemudian menjauhkan wajahnya dari wajah Arini. Arini tidak ambil pusing dia terus memakan es krimnya dengan nikmat. Arsen hanya menggelengkan kepalanya dia sudah paham dengan sifat Arini. Kalau sudah memakan es krim dia pasti lupa segalanya.
"Itu bukannya Doni?" batin Arsen ketika melihat anak buah kesayangannya juga berada disana dengan seorang wanita. Arini menghabiskan es krimnya dengan cepat lalu dia menoleh pada Arsen yang menatap lurus. Arini mengikuti pandangannya dan ternyata Arsen juga melihat hal yang sama dengannya. "Sejak kapan mereka dekat?" tanya Arsen pada Arini. Arini mengangkat bahunya tanda bahwa dia juga tidak tahu. "Mereka sangat tenang seperti air yang mengalir, tidak ada yang tahu sejak kapan mereka sedekat itu dan sekarang malah terlihat berduaan disini" ucap Arsen. "Tapi firasatku mengatakan kalau mereka sebenarnya saling sayang Mas, kalau Gabriel sudah jelas dia menyukai Kak Doni. Tapi kalau Doninya sendiri sepertinya belum terlalu jelas. Dia susah ditebak sama seperti Mas yang dulu"
Arsen tersenyum menyeringai pada Arini tapi kemudian Arini langsung mendorongnya hingga Arsen tidak bisa menjaga keseimbangannya dan terjerembab di tanah. Arini menutup mulutnya sambil menahan tawa. "Maaf Mas" ucapnya. Semua orang yang ada di taman tertawa geli melihat bagaimana seorang Ceo sekaligus direktur dari perusahaan terkenal jatuh dengan tidak elitnya. "Ada apa sih rame rame?" heran Gabriel ketika melihat semua orang mengumpul dan melihat suatu kejadian. "Ayo coba kita cek" ajak Doni. Gabriel mengangguk setuju dan mereka berdua pun membelah kerumunan.
"PAK ARSEN" Doni terkejut melihat Bos nya yang mencium tanah. Dia mengusir semua orang yang berkerumun kemudian membantu Arsen untuk segera berdiri. "Kenapa bisa jatuh pak?"
"Didorong gajah" jawab Arsen dengan sekenanya. Arini hanya menundukkan tapi dia tertawa yang tidak dusadaru oleh siapapun.