Hot Daddy

Hot Daddy
Mempercepat waktu



Angel sedang melipat baju di rumahnya, hari ini ia sudah ijin untuk tidak masuk kerja dikarenakan kesehatannya yang sedikit terganggu. Kalau pun Angel tetap nekat bekerja dia pasti akan menularkan virus untuk pasiennya. Saat masih sibuk melipat baju tiba tiba pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Angel menyelesaikan lipatan baju terakhirnya lalu bergegas untuk membukakan pintu. Angel tidak mendapati siapapun di balik pintu kecuali satu bungkus kotak makanan dan Sticky note di dalamnya. Angel menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu siapa orang yang mengirimi makanan ini, tapi hasilnya nihil. Dia tidak menemukan siapapun juga.


Karena penasaran Angel mengambil sticky note nya dan membacanya. "Hari ini dunia tidak terasa indah tanpa kehadiranmu" hanya delapan kata tapi mampu membuat Angel penasaran. Sebelumnya tidak ada yang pernah mengiriminya makanan seperti ini. "Apa jangan jangan ini Toni ya?" Gumam Angel dalam hati. Angel membawa makanan itu ke dalam dan menutup pintunya kembali.


Sedangkan di tempat lain, suasana di meja makan sangat tidak kondusif karena Arini yang sengaja mendiami Arsen. Arsen juga tidak berusaha membujuk Arini karena sepertinya dia punya rencana lain. Max, Mila dan Garda saling berpandangan satu sama lain. Tidak biasanya mereka melihat Arini tidak berbicara saat di meja makan. Max hanya mengangkat bahunya ketika Garda menatapnya. "Pa, tolong siapkan pernikahan Arsen untuk besok, Arsen akan menikahi Arini besok" Arsen mengatakan hal itu seolah olah dia meminta makan saja. Tidak ada beban di wajahnya.


Arini langsung terbatuk batuk, dengan cepat Mila mengambilkan Air untuk arini kemudian memberinya minum. "Besok? Apa kamu tidak salah Arsen? Setidaknya beri papa waktu seminggu untuk menyiapkan semuanya. Papa tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu singkat seperti itu" ucap Garda. Arsen meletakkan garpunya kemudian mengangkat wajahnya dan menatap semuanya satu persatu. "Pa, Arsen maunya besok. Dan untuk persiapan pernikahan itu semua bisa dilakukan sekarang juga. Kalau papa tidak bisa mengatur semuanya maka biarkan Arsen yang mengaturnya sendirian. Uang Arsen bisa membeli segalanya"


"Kenapa kamu mendadak tiba tiba ingin menikah secepat ini?" akhirnya pertanyaan itu keluarlah dari mulut Max yang sedikit manis itu. Arini menyelipkan rambutnya ke belakang, berusaha tidak tahu apa apa tapi juga ingin mendengar jawaban dari Arsen sendiri. Arsen menghela nafasnya lalu beberapa detik kemudian. "Tanggung jawab, rasa cinta dan pengorbanan. Apa tiga hal itu sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaan kalian?"


Arsen mengambil tisu kemudian mengelap bibirnya, menatap Arini sekilas lalu pergi begitu saja. Entah kemana perginya, yang Arini lihat Arsen sepertinya membawa mobil sendiri. "Mau kemana tuh anak?" tanya Mila pada Garda. "Biarkan saja, dia sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri" Bukannya Garda tidak ingin membantu persiapan pernikahan Arsen, tapi ini terlalu mendadak buatnya apalagi Arsen memintanya untuk besok.  "Arini, apa kamu sudah selesai sayang?" Mila menolehkan kepalanya pada Arini.


"Sudah Ma" jawab Arini. "Kalau begitu biar mama beresin semuanya, kamu lebih baik istirahat aja di kamar." Arini mengangguk kali ini ia tidak membantah lagi, karena tubuhnya masih lemas sekali karena mual mual di pagi hari tadi.  "Apa lagi yang akan kau rencakan lagi Arsen Arsen" batin Max dalam hati.


.


.


"Selamat datang, apa benar ini dengan Mr Arsen" sapa seseorang dengan logat indonesianya yang sangat kental sekali, jelas sekali kalau dia adalah orang indonesia. "Ya" jawab Arsen dengan singkat. "Mari bapak, silahkan ikuti saya. Saya akan mengantar Anda ke ruangan Mrs Velin"


Arsen mengangguk lalu dengan cepat mengikuti arahan dari wanita yang menyambutnya tadi. Mereka telah tiba di sebuah ruangan tertutup yang Arsen tebak sebagai tempat antara Mrs Velin dengan tamunya selama ini. "Bapak bisa menunggu disini sebentar, saya akan memanggilkan Mrs Velin" ucap wajita itu. Arsen melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh, sebentar lagi dia harus mengerjakan urusan lain. Yaitu kantornya yang terbengkalai selama ini. Arsen akan memperbaiki semuanya.


Suara highell beradu sangat cepat dengan ketukan lantai, seorang wanita yang perutnya kini membuncit sekarang berada di hadapan Arsen. "Selamat siang Mr Arsen' sapanya dengan senyuman manis. Velin langsug mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan Arsen. Arsen mengangkat kepalanya lalu matanya turun pada perut besar itu. "Siang" jawabnya singkat.


"Bisa kita bahas rencana kita sekarang? Lebih cepat lebih baik. Saya juga harus memeriksakan diri saya setelah ini ke rumah sakit. "Baklah, mari kita selesaikan dalan wajtu sepuluh menit' ucap Arsen. kemudian Arsen dan Velin mulai membahas seputar hal hal yang diperlukan ketika menikah nanti.