Hot Daddy

Hot Daddy
Mengerikan



Gavin berusaha melepaskan ikatan tangannya di kursi karena sekarang Arsen sudah berada di hadapannya dengan keempat teman terbaiknya itu. Yah sedari awal Gavin harusnya tidak bermain main dengan Aerio kalau dia masih belum siap menerima resikonya. Gavin memekik kesakitan ketika tangannya terkena goresan pisau yang berada di belakang tubuhnya, dia tidak tahu saja kalau Willy sudah menyiapkan semuanya. Dan dia akan terluka jika mencoba untuk melepaskan diri. Arsen menundukkan kepalanya dan membuat tubuhnya sejajar dengan Gavin. "Kenapa? Sakit yaa? Tenang saja aku akan menyembuhkanmu dengan caraku sendiri" ucap Arsen dengan seringaiannya yang lebih menakutkan.


"Aku menyesal tidak menghabisimu dari dulu" ucap Gavin di sela sela rasa sakit tangannya. Gavin menatap Arsen dengan tajam, dia baru saja melakukan hal yang sia sia karena bagi Arsen tatapan itu sebuah pertanda baginya untuk memulai permainannya sendiri. "Itulah kebodohanmu dan sekarang mari kita bermain bersama" Arsen mengambil paku besar dari dalam kantong plastik itu kemudian tanpa rasa kasihan ia menusuk kedua bola mata Gavin dengan paku itu hingga bola mata itu hancur dan mulai mengeluarkan banyak darah. "AARRRGGGGHHHHHHHHH"  Tanpa rasa jijik Arsen juga mencolok mata Gavin dan membuang bola matanya kemudian menginjaknya dengan kuat.


"Aerio, kamu benar  benar menjijikkan, aku menyesal telah menjadi temanmu selama ini" ucap Gavin dengan suara yang sedikit samar karena tidak kuat menahan rasa sakit yang baru saja ia derita itu. "Seandainya kamu tidak memberontak dan mengkhianatiku ini semua pasti tidak akan terjadi, kamu sendiri yang sudah memilih jalan ini. Kamu melemparkan dirimu sendiri ke kandang singa, jadi jangan salahkan singa jika singa itu menerkammu.


Sekarang, Arsen mengambil palunya. Ia meneliti tubuh Gavin dan memikirkan bagian mana yang harus ia hancurkan dengan palu itu. Arsen tersenyum smirk ketika menemukan ide cemerlang di otaknya. Ia membuka ikatan Gavin di kursi hingga tunuhnya langsung roboh ke lantai. Gavin meraba raba di sekitarnya karena sekarang ia sudah tidak punya bola mata lagi jadi dia tidak bisa melihat apapun lagi. "Sekarang aku harus membuatmu terlihat seperti kuda, menungginglah" perintah Arsen.


"Tidak, aku tidak akan tunduk dengan perintah konyolmu itu" Gavin menggelengkan kepalanya dengan keras dan berusaha merangkak untuk menjauh dari Arsen, tapi sayangnya Arsen sudah menginjak salah satu kakinya hingga ia tidak bisa bergerak kemana mana. "Menungginglah, jika kamu menurut aku akan mengurangi rasa sakitmu" Arsen harus membuat orang itu tertunduk padanya, Seorang Arsen tidak boleh tunduk pada dunia tapi dunia lah yang harus tunduk padanya.


Dengan berat hati Akhirnya Gavin menungging seperti kuda, hampir saja ia ambruk ke lantai jika tangannya tidak berhasil menahan tubuhnya. Gavin benar benar tidak berdaya. Dan ketidakberdayaannya itu dikarenakan ulahnya sendiri. Seandainya ia tidak memulai permainan ini pasti sekarang dia masih hidup tenang. Gavin memang seorang Mafia juga, tapi dia masih memiliki ketakutan, kadang Gavin hanya menusuk korban di jantungnya saja itu sudah cukup baginya tidak seperti Arsen yang tidak kenal takut.


"Bagus" ucap Arsen sambil tersenyum. Kemudian ia mulai bersiap untuk mengayunkan palu itu pada bok*ng milik Gavin, dalam beberapa detik saja palu besar itu  langsung membuat Gavin ambruk, palu itu mengenai tulang ekor Gavin hingga bunyi tulang retak pun terdengar dengan sangat jelas. "Aarrggghhhhh Ampuuunnnnn Aerio, tolong jangan lanjutkan semua ini....Sa...kittttttt"


"Sudah kubilang aku akan menghilangkan rasa sakitmu dengan caraku sendiri. Tunggu sebentar" Arsen membalikkan tubuh Gavin hingga tidur terlentang lalu tangannya menodongkan pistol di sebelah kepala Gavin. "Ssstt diam ya, setelah ini rasa sakitmu pasti hilang. Kamu akan tenang di alam neraka" Arsen sangat puas ketika melihat korbannya yang sudah tak berdaya seperti Gavin ini. "Aerio aku mohon beri kesempatan sekali lagi, aku janji tidak akan melakukannya lagi"


Arsen menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.


.


.


Setelah bangun dari pingsan, Max, Via dan Arini pulang bersama. Max tidak mengijinkan Arini menyetir mobilnya sendiri, ia takut Arini tidak konsen menyetir karena baru sadar dari pingsannya. Max menyuruh supirnya untuk mengendarai mobil Arini sampai ke rumah. Sebelum pulang Max mengantar Via terlebih dahulu. "Aku masuk dulu ya Mas, kamu hati hati di jalan." Max mengangguk seraya tersenyum, ia mengacak acak rambut Via dengan gemas. "Kamu juga langsung istirahat"


"Rin, Gue duluan. Lo cepat sembuh yaa" ucap Via mengalihkan perhatiannya pada Arini. "Iya, thanks ya Vi, lo udah nolongin gue tadi" Via tersenyum. "Santai aja kali, Kita kan sahabat. Lagian kalau gue ada masalah lo pasti nolongin gue"


"Ya udah sayang, Mas pulang dulu. Jangan lupa nanti malam Mas mau ngajak kamu kencan, jangan dandan yang cantik nanti orang orang suka lagi sama kamu" ucap Max sambil menatap wajah Via dengan sorot mata yang lembut. Arini mencibir Max dalam hatinya, ternyata benar kata Arsen kalau Max sudah menjadi Bucin pada sahabatnya.


"Iya, tenang aja, Nanti aku dandan seperti biasanya Mas"


"Baguslah, ya udah kamu masuk gih. Mas mau pulang"


Via mengangguk lalu masuk ke dalam rumahnya, setelah melihat Via masuk ke dalam rumah baru Max menancap gas nya dan segera pulang bersama Arini.