
Arsen dan Velin saling berjabat tangan ketika mereka telah selesai membuat kesepakatan. Dalam waktu dua jam mereka telah menyelesaikan semuanya. Arsen bisa mendapatkan apa yang ia mau dan Velin juga bisa melayani Arsen dengan puas. Menurut Velin kepuasan pelanggan adalah hal yang utama menurutnya. "Terima kasih atas kerja samanya, saya ingin besok semuanya sudah siap." Velin mengangguk sambil tersenyum. Sebelum bertemu dengan Arsen dia sudah membuat janji terlebih dahulu. Velin membatalkan semua janji hanya untuk melayani Arsen.
Arsen mengambil kunci mobilnya kembali dan bergegas untuk pulang. Tapi sebelum itu dia melihat seorang anak kecil yang sedang berjualan bunga di depan. Gadis itu meringkuk kedinginan sambil memegang beberapa buket bunga. Melihat anak kecil itu Arsen jadi teringat ketika dulu ia menemukan Arini di tengah jalan, Arsen merasa iba dengan gadis itu. Lalu ia berjalan menghampiri gadis itu, melepaskan Jas besarnya dan memakaikannya pada gadis kecil itu. gadis kecil itu langsung mendongakkan kepalanya pada Arsen. " Anata wa koko de nani o shite iru no?" (Apa yang kau lakukan disini nak)
" Watashi wa hana o uru tame ni koko ni imasu, watashinohaha wa ie de byōkidesu. Korera no hana o utte kaseida okane de kusuri o kaitai dakedesu" (Aku disini hanya ingin berjualan bunga, ibuku sedang sakit di rumah. aku hanya ingin membelikan ibu obat dengan uang hasil menjual bunga ini" ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan beberapa bunganya. Arsen berjongkok di hadapan gadis kecil itu kemudian memegang kedua tangannya. " Watashi ga anata no namae o shitte iru kamo shirenainara? (Kalau boleh tahu, siapa nama kamu?"
"Watashinonamaeha Junkodesu" (Namaku adalah Junko) jawab Gadis kecil tersebut. Dia semakin mengeratkan Jas Arsen di tubuhnya karena memang sekarang cuaca lagi sangat dingin meskipun bukan musim salju. " Dewa, kinri wa ikuradesu ka? Watashi wa shōrai no tsuma no tame ni subete o kaimasu (kalau begitu berapa harga bunganya? saya akan membeli semuanya untuk calon istri saya) Arsen benar benar tidak tega melihat gadis kecil tersebut. Di usianya yang ia taksir berumur 6 tahun harus bekerja untuk mendapatkan uang demi ibunya. " Ojisan wakaranai, kono Hana o uritai dakenanoni ikura kakaru no ka wakaranai (aku tidak tahu paman, aku hanya ingin menjual bunga ini dan tidak tahu berapa harganya)
" 全部8万円で買います" (saya akan membeli semuanya dengan harga delapan puluh ribu yen") Junko menatap bunganya yang sudah layu dan Arsen membelinya dengan harga yang menurutnya terlalu mahal. " Demo ojisan wa hana ga karete shimatta" (Tapi paman, Bunganya sudah layu" mata Junko terlihat berkaca kaca seperti ingin menangis. Arsen malah tersenyum dan mengacak acak rambut Junko. " Sore wa daijōbudesu, watashi wa mada sore o kaimasu" (tidak apa apa, saya akan tetap membelinya")
Dengan tangan mungilnya Junko memberikan semua buket bunganya kepada Arsen dan langsung diterima dengan baik. Setelah itu Arsen mengambil dompetnya dan mengeluarkan delapan lembar uang senilai sepuluh ribu yen. " Mā kore wa anata no tamedesu" (Nah ini untukmu) ucap Arsen sambil memberikan uang itu kepada Junko. Junko akhirnya bisa tersenyum setelah mendapat uang itu, artinya sekarang dia bisa membeli obat untuk ibunya tanpa diusir lagi. Lalu Junko kembali menatap Arsen. " Ojisan arigatō" (Terima kasih paman)
Arsen mengangguk lalu dia membiarkan Junko pergi dengan membawa jasnya. Hatinya terasa hangat setelah melihat gadis kecil itu. Tiba tiba saja Arsen langsung teringat dengan anaknya yang masih ada di dalam kandungan Arini. Arsen tidak akan menyia nyiakan kesempatan itu lagi. Dulu Arsen tidak bisa punya anak dengan istrinya karena istrinya yang mandul. Tapi sekarang Arsen diberikan seorang anak yang memang dianugerahkan untuknya. Arsen berdiri kembali kemudian berjalan ke arah mobilnya dan masuk ke dalam. Hari ini ia belajar tentang sesuatu meskipun sedikit. Setidaknya Arsen masih punya hati nurani untuk orang di sekitarnya.
.
.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, bukannya tadi Arsen bilang dia akan menikahimu. Apa ada sesuatu yang terjadi lagi di antara kalian?" Arini mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Max. "Kapan Daddy bilang seperti itu?" tanya Arini dengan wajah polosnya. "Lah, tadi kan pas di meja makan dia bilang gitu. Kamu tidak ingat?" Max benar benar tidak akan percaya jika Arini sampai melupakan hal sepenting itu. Max dengan sabar menunggu jawaban dari Arini. "Arini lupa" jawab Arini sambil menyengir.
Max hanya bisa menggelengkan kepalanya, hal sepenting itu saja Arini bisa lupa apalagi yang lain. Tapi Max bisa memaklumi karena sekarang Arini sedang hamil. Mungkin gara gara kehamilannya yang membuat Arini sering lupa. "Dasar kamu ini, yang penting kamu harus siap saja semisal Arsen benar benar menikahimu besok. Tapi uncle yakin kalau Arsen benar benar akan melakukan itu, Arsen adalah orang yang nekat" Max kembali menatap Arini yang terdiam seribu bahasa, Max tahu Arini pernah mengetahui salah satu Fakta tentang kekejaman Arsen.
"Arini tahu, apapun yang terjadi Arini akan tetap menikah juga. Dan soal hal yang lain aku tidak akan memikirkan hal itu lagi. Karena sekarang yang penting adalah rasa cinta dan buah hati dari kami" Arini memegang perutnya yang masih datar sekali, masih belum terdapat tonjolan seperti yang dialami ibu ibu hamil pada umumnya. "Ya sudah sebaiknya kamu masuk kamar gih, angin malam gak baik buat kesehatan kamu" pesan Max.
Arini mengangguk, lalu ia kembali ke kamarnya untuk istirahat.