
Beberapa hari kemudian, Hari ini Via akan menemui Max di sebuah cafe. Via akan memberikan jawaban atas pernyataan cinta Max tempo hari yang lalu. Via sudah memikirkannya dengan baik dan sekarang dia sudah siap untuk itu. Via menunggu taksi online yang ia pesan dan setelah taksinya telah tiba, Via langsung masuk dan segera pergi.
Dalam perjalanan menuju ke cafe, Taksi yang ditumpangi oleh Via berhenti mendadak, karena di depan ada beberapa preman yang mencegatnya. Preman preman itu mengetuk pintu jendela mobilnya dengan kasar. "HEH KELUAR KAMU" Supir taksi itu ketakutan karena para preman itu membawa beberapa senjata di saku jaketnya.
"Ada apa ini pak?" tanya Via pada supir taksi itu. Supir taksi menoleh pada Via lalu menjawab pertanyaannya. "Ada preman yang mencegat mbak, sebaiknya mbak jangan keluar, bahaya. Mereka membawa senjata tajam" Para preman semakin membrutal menendang dan mengetuk ngetuk mobil taksi itu. Via tidak tega karena supir itu sangat ketakutan, Via yakin umur supir itu masih di bawahnya. "Biar saya saja yang turun pak"
"Eh mbak jangan..." Sayangnya Via sudah turun duluan. Para preman itu beralih menatap Via, mereka meneliti penampilan via dari atas sampai bawah. "Widih...gak nyangka di dalam mobilnya ada cewek cantik" ucap salah satu dari mereka.
"Udah gitu Bohay lagi, Boleh nih kalau kita ajak main main sebentar" Ketua preman berjalan menghampiri Via dan semakin mendekat pada Via, Via langsung memundurkan tubuhnya hingga terpentok di mobil taksinya. Ketua preman itu tersenyum puas ketika melihat Via yang ketakutan, ia memegang dagu Via dan membuatnya menjadi menatapnya. "Siapa nama kamu neng Geulis?"
"Gila, nih ketua preman tapi mirip bencong gini" batin Via. Supir taksi yang merasa ada alarm bahaya diam diam melarikan diri untuk meminta pertolongan, kalau hanya satu dua orang preman supir taksi itu masih sanggup melawannya, tapi jumlah mereka tidak sedikit. Kalau dihitung sekitar ada delapan orang, dengan ketuanya yang sekarang berada di depan Via itu.
Seluruh preman yang lainnya juga mengerubungi Via, bahkan mereka sudah berani melakukan kontak fisik. Si pria berkumis tipis terus mengelus lehernya yang langsung ditepis oleh Via. "Jangan macam macam sama saya, lebih baik kalian pergi atau saya akan berteriak sekarang juga"
Mereka semua tertawa sekaligus, bahkan ketua premannya juga ikut tertawa. "Silahkan saja berteriak, kamu tidak lihat sekarang di jalanan ini sangat sepi. Tidak ada orang yang lewat satu pun. Mending kamu diam dan ikut kami, kita akan bersenang senang sayang" Via meringis pelan ketika mereka sudah mulai menggerayangi tubuhya. Mereka meremas dada Via dengan kasar. Via memejamkan matanya berharap ada seseorang yang akan menolongnya.
Satu menit Via memejamkan mata, Tidak ada lagi yang meremas dadanya, bahkan yang menyentuhnya pun tidak ada. Via membuka matanya kembali dan melihat semua preman itu terkapar di jalanan dengan wajah yang sudah berlumuran dengan darah.
Via menatap pria yang masih memukul wajah salah satu preman, dengan perlahan ia mencegah pria itu untuk kembali memukulnya. Wajah mereka sudah babak belur, tapi orang itu masih saja terus memukulnya. Tangan Via menarik Kemeja pria itu hingga membuatnya langsung menoleh seketika.
Mata Via melebar ketika melihat siapa yang menolongnya, Max, Orang yang menyatakan cinta padanya beberapa hari yang lalu. Max membersihkan tangannya yang kotor lalu langsung menarik Via ke dalam pelukannya. "Kamu tidak apa apa? Maaf aku terlambat menolongmu"
Max memeluk Via dengan erat, ia merasa sangat khawatir sekali dengan gadis itu. Tadi dia berhenti di sebuah warung untuk membeli sesuatu namun ada supir taksi yang datang meminta tolong padanya. Max langsung saja mengikuti supir taksi itu menuju ke tempat kejadian dan sesampainya disana, ia melihat Via yang sudah digrepe grepe. Rahang Max mengeras, di hadapannya, wanitanya sedang dilecehkan begitu saja. Tanpa pikir panjang lagi, Max langsung menghabisi mereka semua dengan tangan kosong. Max tidak peduli jika mereka sampai meninggal. Yang penting wanitanya selamat dan baik baik saja.
Via menguraikan pelukannya dengan Max, tangannya menyentuh sudut bibir Max yang sedikit membiru karena pukulan dari preman preman itu. "Maaf, gara gara nolongin aku Om jadi terluka gini" ucap Via dengan nada menyesal. Max melepaskan tangan Via yang masih menyentuh sudut bibirnya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Jangan minta maaf, itu sudah menjadi kewajiban aku. Sekarang kamu ikut saja, kita batalkan saja ke cafe nya. Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat yang pasti kamu suka" Max tidak mengalihkan perhatiannya sddikit pun dari wajah Via, hari ini Via benar henar cantik.
Vi tersenyum lalu mengangguk, dalam hatinya ia meyakinkan dirinya kalau jawaban yang ia pilih sudah benar. "Ayo" Max menarik tangan Via dengan lembut dan membawanya ke mobilnya. Tidak lupa sebelum itu Max berterima kasih pada supir taksi yang telah meminta bantuannya tadi. Entah apa yang terjadi kalau Max tidak cepat datang menolongnya.
.
.
Wira sudah mendapatkan rekaman CCTV nya dari beberapa hari yang lalu namun ia masih belum membukanya karena sibuk dengan urusan kantornya. Dan sekarang, Wira akan membuka dan melihat rekaman CCTV itu. Wira mengambil Laptop nya kemudian memasukkan Flasdisk yang terdapat rekaman CCTV itu.
Mata Wira membelalak kaget saat melihat Charles meminum beberapa obat sekaligus kemudian langsung melompat begitu saja dari jendela ruangan Arsen. Wira menolak untuk percaya tapi melihat hasil rekaman ini sepertinya kejadiannya memang seperti itu. "Jadi Charles memang benar benar bunuh diri?" batin Wira.
Di sisi lain, Seorang pemuda bertopeng terlihat menghubungi seseorang. "Halo pak, saya sudah melakukan tugas yang bapak perintahkan beberapa hari yang lalu. Rekaman CCTV yang asli itu sudah saya hapus dan sudah saya ganti dengan sedikit adegan rekayasa" ucapnya sambil melirik kesana kemari, khawatir ada orang yang mendengarkan percakapannya.
"Bagus, dan sekarang gimana reaksi dia setelah mengetahui semua ini?"
"Pak Wira sepertinya percaya saja pak, saya sudah memastikannya sendiri."
"Baiklah Lex, Sekarang juga saya transfer uang yang saya janjikan kemarin"
"Baik pak"
.
.
Arini mengunci pintu kamarnya dengan rapat, setelah itu ia mengambil berkas yang ia ambil di meja kantor Arsen, Arini sangat penasaran dengan isi berkas tersebut. Arini membuka nya dengan perlahan, di halaman pertama ia hanya menemukan tulisan yang menggunakan bahasa Prancis, begitu pun di halaman kedua. hingga di halaman ketiga Arini melihat sesuatu. Satu lembar foto yang sedikit memburam.
Mata Arini terbelalak kaget ketika melihat foto itu, ia sangat kenal dengan orang yang berada di balik foto itu. ya, dia adalah uncle nya juga. charles. Dalam foto itu Arini melihat Charles yang sudah tidak bernyawa dengan seseorang yang memegang pisau berlumuran darah di samping Charles. Arini menutup mulutnya tak percaya, dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, ini pasti bukan Daddy. Daddy bukan pembunuh. Dia pasti orang lain yang sengaja menyamar menjadi Daddy"
Yah foto yang ia lihat lihat terdapat Arsen. Arini berusaha memeriksanya sekali lagi, barang kali ia salah melihat tapi beberapa kali ia melihatnya foto itu masih sama, dia adalah Arsen. Air mata Arini mengalir dengan derasnya, mengetahui apa yang dilakukan Charles terhadap unclenya. "Kenapa Daddy melakukan ini, Aku benci Daddy. Daddy sudah membunuh orang yang salah"
Arini menutup mulutnya dengan guling agar suara isakannya tidak terdengar, sekarang Arini benar benar takut dengan Arsen. Arsen memiliki sisi lain yang tak pernah ia tahu.
"Sayang, kamu di dalam. Daddy masuk yah" Arsen mengetuk pintu kamar Arini beberapa kali. namun tak ada jawaban dari dalam sana. Sedangkan di dalam sana Arini sedang memeluk dirinya sendiri, Arini tidak akan membukakan pintu untuk Arsen, setidaknya untuk saat ini.
"Arini lagi ngerjain tugas Dad, Tolong jangan ganggu Arini dulu" ucapnya dengan suara yang sedikit serak karena tangisannya.
Arsen merasa ada yang aneh dengan suara Arini, seperti orang yang habis menangis. tapi ia mengabaikannya. Lagi pula Arini tidak mungkin menangis. "Iya, lanjutkan saja. Nanti Daddy kesini lagi' setelah itu Arsen langsung pergi.
Arini kembali menangis lagi, hatinya sangat sakit ketika mengetahui Daddy nya membunuh Uncle nya sendiri. "Daddy benar benar jahat"