Hot Daddy

Hot Daddy
Di Kampus



Arini, Via, dan Gabriel sedang dihukum di luar lapangan, ketiganya membuat keributan selagi dosen menjelaskan. Alhasil disini lah mereka, berdiri di tengah tengah lapangan yang pada saat itu lapangannya di pakai kakak kakak tingkatnya bermain basket, termasuk rendi. Sedari tadi tatapan Rendi terus mengarah padanya. "Ssstt Rin, Lo diliatin Kak Rendi tuh" ucap Gabriel sambil menyenggol tangan kanan Arini.


Arini mengarahkan matanya pada Rendi, yang membuat Rendi tersenyum. Rendi mengedipkan sebelah matanya ketika tatapannya bertemu dengan Arini. Arini bergidik ngeri melihatnya, ia merasa horor dengan sikap Rendi yang seperti ini. Entah kenapa firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Udah, jangan dilihatin. Kalau Om Arsen tahu bisa bisa mata Rendi dicolok nanti" ucap Via. Arini mengangguk dan kembali mengabaikan Rendi. Mereka bertiga berdiri di tengah tengah lapangan dengan karton yang bertuliskan, saya janji tidak akan mengulangi perbuatan saya, memangnya siapa lagi Dosen yang berani menghukum mereka selain pak Antoro. Tapi sepertinya ada yang kurang, karena Shila masih duduk dengan anteng di dalam kelas.


Shila hanya diam saja ketika teman temannya berbuat keributan, maka dari itu ia tidak mendapat hukuman dari pak Antoro. Sebenarnya pak Antoro hanya mengusir mereka dari kelas saja, Namun karena Arini tidak sengaja mengumpatinya lagi baru pak Antoro membumbui mereka dengan hukuman, sudah sangat persis seperti di waktu sma dulu. Huh, dasar Shila tidak setia kawan. Arini mengelap keringatnya yang sudah mulai bercucuran, matahari semakin terik sementara hukuman mereka sudah berlangsung selama dua puluh menit.


"Rin Lo Kenapa?" tanya Via ketika melihat Arini yang sepertinya sangat lemas sekali. Gabriel yang sedari tadi menatap ke  depan oangsung menolehkan kepalanya dan memperhatikan Arini. "Gue gak apa apa" ucap Arini sambil memegang kepalanya. Tapi beberapa menit kemudian, Gabriel dan Via menjerit bersamaan ketika Arini sudah tidak sadarkan diri.


"Rin, Arini sadarr Rin" Via menepuk nepuk pipi Arini dengan pelan, dalam kondisi seperti ini dia bingung harus melakukan apa karena Via tidak pernah melihat orang pingsan kecuali di dunia sinetron. "Lo jagain Arini sebentar, gue mau nyari pertolongan dulu' ucap Gabriel pada Via. Via mengangguk. "Cepetan Gab"


Gabriel langsung berlari ke tengah tengah lapangan, menerobos salah satu kakak tingkatnya yang sedang berusaha memasukkan bola basket ke dalam Ring. Gabriel mencari cari keberadaan seseorang, setelah menemukannya ia dengan cepat menghampiri Orang itu. "Kak....Kak Rendiiiii....."


Rendi yang saat itu sedang meminum Air di botolnya langsung menghabiskannya dengan cepat dan melempar botolnya ke sembarang tempat sambil menghampiri Gabriel yang masih ngos ngosan karena berlari tadi. "Iya, ada apa? Eh tunggu kamu bukannya temannya Arini kan?" tanya Rendi.


Rendi terpaku di tempatnya ketika melihat tubuh Arini yang sudah melayang karena digendong oleh seseorang, Rendi memicingkan matanya karena belum pernah melihat orang itu. Kalau Arsen ia sudah tahu, tapi sepertinya itu bukan Arsen karena perawakannya yang sedikit lebih muda dengan pakaian kantornya. Gabriel yang tadi menyusul Rendi sekarang berada di samping Rendi. "Siapa dia?' tanya Rendi sambil menatap lurus ke depan.


"Om Max, Adiknya Om Arsen yang otomatis juga Uncle nya Arini, maaf ya kak. Saya gak tahu kalau Arini sudah ada yang nolongin dan terima kasih karena sudah mau peduli sama Arini. Saya permisi dulu kak" pamit Gabriel sambil melemparkan senyuman tipisnya pada Rendi. Rendi memasukkan tangannya ke dalam sakunya dengan keadaan mengepal. Sepertinya ia harus menjalankan rencananya dengan cepat, rencana untuk memiliki Arini hanya untuk dirinya sendiri.


Di sebuah ruangan kesehatan, Max, Via, Gabriel menunggui Arini yang masih belum sadar dari pingsannya.


kebetulan saja Max tadi datang ke kampus untuk memberikan buku tugas Via yang tertinggal di mobilnya. Dan pada saat itulah Max melihat Via yang memangku kepala Arini di pahanya karena pingsan. Tanpa pikir panjang lagi Max segera mengangkat tubuh Arini dan membawanya ke ruang kesehatan dalam kampus itu.


"Sebenarnya Arini kenapa? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?" tanya Max pada kekasihnya yang saat ini duduk di sampingnya. Via mengangkat kepalanya dan menatap wajah Max. "Dihukum sama Dosen gara gara buat keributan, dan Aku sendiri juga lupa kalau Arini punya Anemia. Seandainya aku tidak lupa Arini pasti tidak akan seperti ini sekarang" sesal Via.


"Ssstt tidak apa apa, ini bukan salah kamu kok"  Max merangkul tubuh Via dan membawanya ke pelukannya, sedangkan Gabriel ia hanya berdecak kesal melihat keuwuan sahabatnya bersama kekasihnya. Gabriel memalingkan wajahnya dan memilih menatap Arini saja. Beberapa lama kemudian Arini mulai mengerjapkan matanya dan membuka matanya dengan perlahan, ia melihat ke sekelilingnya yang terasa sangat asing baginya. Lalu matanya tertuju pada tiga orang yang sedang tertidur di sofa, dengan Max yang memeluk Via dan Gabriel yang tidur dengan suara dengkuran dan iler nya yang menghiasi bibirnya.


Arini menerbitkan senyumnya, ternyata selama ini ia mempunyai banyak orang yang benar benar peduli dan sayang padanya. "Semoga Kamu bisa mencintai Uncle Max Vi, Gue selalu berdoa agar kalian terus bersama" batinnya.