Hot Daddy

Hot Daddy
Gagal, eh?



Saat Arini membuka matanya, Suasana di sekitar sudah sangat sepi. Tidak ada lagi para tamu undangan. Semuanya seakan lenyap begitu saja. Lalu pandangan Arini jatuh pada ketiga orang yang sekarang tengah berada di antara hidup dan mati. Mata Arini membelalak kaget saat melihat siapa mereka. Yah, dia sangat mengenal ketiga orang tersebut. "Kakek Wira, Langit, dan Rendi" Gumamnya. Arini mundur ke belakang sambil menutup mulurnya dengan tangannya. Dia masih tidak mempercayai dengan semua ini. "Sekarang kamu tunggu disini, Daddy akan mengurus tikus tikus nakal itu. Berani beraninya mereka mengusik kehidupanku"


Arsen mengecup bibir Arini sebentar sebelum dia melangkahkan kakinya menuju ke hadapan ketiga orang tersebut. Max dan Garda juga baru saja tiba di lokasi tersebut. Mereka berdua tidak berbuat apa apa selain melihat dari kejauhan. "Papa sudah tahu semuanya?" tanya Max sambil menolehkan kepalanya pada Garda. Garda hanya bersedekap dada sambil mengangguk. Dia sudah lama tahu sebenarnya tapi Garda tetap diam. Lagi pula menurutnya Arsen bagus kalau dia menjadi seperti itu. Itu artinya Arsen bisa membahayakan orang lain tapi tidak bisa dibahayakan orang lain.


"Selamat datang di Duniaku" Arsen merentangkan tangannya sambil bertepuk tangan tiga kali. Meskipun saat ini Dia sedang berada di luar ruangan Arsen tidak akan segan segan untuk melakukan kebengisannya. Lagi pula dia sudah menyewa jalan dan perumahan di tempat resepsinya ini. Dan tidak akan ada satu orang pun yang akan melihat hal itu selain anak buahnya sendiri, Arini dan kedua orang yang senantiasa mengawasinya dari jauh itu. "Apa mau mu?" Wira menatap Arsen dengan sengit, sebelah matanya telah hilang ksrena Arsen sempat menembak salah satu bola matanya dan hasilnya adalah tepat sasaran.


"Kamu bertanya apa mauku?" Arsen menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum meremehkan. Kemudian dia menjambak rambut Wira dengan kasar hingga beberapa helai rambut putihnya sedikit rontok gara gara jambakan Arsen. "Arrgghhgg" Langit dan Rendi yang berada di sebelah Wira hanya bisa meneguk ludah melihat kekejaman Arsen. Orang tua saja Arsen jambak rambutnya, apalagi mereka yang hanya butiran debu. "Sssdsaakitttttttt" Wira meringis kedakitan karena arsen tidak hanya menjambak rambutnya tapi juga membenturkan kepalanya pada batu besar yang sudah diambilkan anak buahnya tadi. "Ini adalah hukuman buat otakmu yang sok pintar itu, mau melawanku tapi menggunakan teknik sampah seperti itu" Lagi lsgi Arsen membenturkan kepala Wira pada batu itu.


Lalu mata Arsen berpindah pada kedua bocah tengik itu. Rendi dan Langit terus mundur ke belakang demi menghindari kedatangan Arsen yang siap untuk menerkam mereka. Tapi kekhawatiran mereka hilang saat melihat Arsen tersenyum dengan ramah. "Kalian baik baik saja?" tanya Arsen dengan nada yang dilembut membutkan seperti tidak pernah ada masalah di antara mereka. "Kami...."  belom selesai Langit melanjutkan perkataannya Arsen malah lebih dulu merobek mulutnya. Rendi langsung menutup matanya dan tidak berani membuka matanya. Jeritan Langit sudah menjadi bukti kalau dia sedang disiksa.


Arini terus terpaku di tempatnya, lututnya terasa lemas sekali ketika melihat hal mengerikan seperti ini. Seumur hidup baru kali ini Arini melihat adegan pembunuhan seperti ini biasanya dia hanya menemukannya di dalam drakor yang dia tonton. Arsen bertepuk tangan tiga kali lalu beberapa anak buahnya datang dan berbaris di hadapannya dengan rapi. Mereka juga selalu menundukkan kepalanya sebagai penghormatan kepada Arsen. "Saya tidak ingin berlama lama, hari ini saya sedang bahagia. Dan untuk hadiah dari kebahagiaan ini adalah kematian. Jadi siapa yang bisa memberikan kematia npada saya?"


Mereka semua mengangguk tanpa terkecuali kemudian menyeret Wira, Rendi dan langit secara bersamaan. Entah karena mereka yang teledor atau gimana, mereka semua tidak ada yang menyadari jika salah satu dari mereka memegang pisau. Wira memegang pisau dengan erat, dia sudah gelap mata apapun bisa saja terjadi untuk Arsen. "Arsen" Panggil Wira dengan keras. Arsen membalikkan tubuhnya dan pada saat itulah Wira melempar  pisaunya dan mengenai salah satu lengan Arsen hingga berdarah. Wira tertawa dengan puas meskipun wajahnya sudah hancur. Arsen menatap darahnya yang terus mengalir, rahangnya mengeras menahan amarah. Dia berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan emosinya jika berhadapan dengan mereka. "Untuk kedua bocah itu kalian simpan di ruang tanah, biarkan mereka membusuk disana. Dan pria tua bangka itu, Kalian rebus dia buat kulitnya sampai melepuh dan MATI" ucap Arsen dengan menekan kata mati.


"Baik tuan' jawab mereka semua. Setelah mereka pergi Arini langsung mendekat pada Arsen dan memegang lengannya yang berdarah. "Sstt ini tidak apa apa sayang' Arsen sudah tahu apa yang dikatakan oleh Arini dia pasti sangat mengkhawatirkannya. Arini langsung memeluk Arsen dengan takut. "Jangan tinggalin Arini ya Dad"


"Iya enggak" jawab Arsen


Max dan Garda memakai kaca mata mereka kembali dan bergegas pulang pertunjukan itu sudah selesai dan tidak ada gunanya lagi jika mereka masih tetap disana.