Hot Daddy

Hot Daddy
Mengakhiri



Hari berikutnya, Arsen sudah mulai kembali bekerja seperti biasa, berangkat jam setengah tujuh dan pulang jam lima sore. Arsen baru saja keluar dari ruang meeting. "Dani, Doni sekarang kalian berdua pergilah makan siang terlebih dahulu, saya tahu kalian capek berdiri dan menjaga di luar ruangan saya" Arsen mengambil dompetnya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang bernilai ratusan ribu. Lalu Arsen memberikannya pada mereka. "Ambillah"


Dani dan Doni saling menatap satu sama lain, Arsen sudah sangat banyak membantu mereka, bahkan gaji mereka berdua lebih dari cukup. Jadi mereka merasa sungkan untuk menerima uang dari Arsen. "Tidak usah pak, lagi pula uang yang kemarin bapak kasih masih    tersisa banyak" tolak Dani dengan halus.


"Ambil saja, anggap aja ini bonus kalian hari ini. "


  Arsen tidak pernah salah menilai orang, dulu Dani dan Doni hanyalah seorang pemulung jalanan, Arsen melihatnya ketika mobilnya sedang mogok di jalan dan pada saat itu kedua saudara kembar itu langsung menolongnya. Mereka membantu Arsen membelikan bensin sehingga mobilnya bisa hidup kembali. Dan pada saat itu lah Arsen mengajak mereka untuk bekerja di perusahaannya. Arsen hanya ingin membalas budi untuk mereka dan hasilnya di luar dugaan. Dani dan Doni sangat tekun dalam bekerja. Mereka sangat jujur dan tidak pernah berbohong dalam hal sekecil apapun.


"Ayo ambil lah, kalau kalian tidak bisa menerima uang ini untuk kalian. Setidaknya terima lah untuk ibu kalian. Saya tahu ibu kalian sedang sakit di rumah. Semoga cepat sembuh" Arsen menepuk bahu Dani dan Doni sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangannya.


"Don, ini kasih ke ibu mu" Dani memberikan uangnya pada Doni.


"Heh? Ibu aku ibu kamu juga Dani"


"Kok bisa?"


"Ya bisa, kita kan kembar"


"Iya juga ya" Dani menggaruk kepalanya yang tak gatal. Doni hanya menggelengkan kepalanya, Dani memang  pelupa, bahkan terkadang Dani juga tidak ingat kalau Doni itu adalah saudara kembarnya, meskipun wajahnya sudah sama persis.


"Dan, habis ini kita beli baygon ya"


"Buat apa? Mau bunuh nyamuk? Kan kita udah punya obat nyamuk di rumah." Doni berdecak pelan.


"Bukan buat bunuh nyamuk, tapi buat bunuh kamu" Astaga, Dani hanya bisa mengelus dadanya dengan sabar. Dia merasa terdzolimi oleh saudara kembarnya itu. "Kok jahat sih Don, pantas aja gak laku laku"


"Bodo amat, dasar kembaran setan"


Dani tertawa dengan keras. "Iya, kamu benar aku kembaran setan. Berarti kamu dong setannya?" Doni membulatkan matanya, salah ngomong dirinya. Sudah terlanjur, biarkan saja Dani menertawainya.


"ARSEEENNN YUHUUUUU I,M COMING BABY" Linda masuk ke kantor Arsen sambil berteriak. Banyak karyawan lain yang menatapnya dengan sinis. Mereka sangat tidak menyukai Linda, selain suka seenaknya wanita itu juga sangat kasar. "Kemarin kemarin udah tenang, sekarang lampir kembali lagi'


"Kasihan ya pak Bos ditempelin sama dedemit kayak gitu"


"Udah gitu, Sok sok pamer dada lagi. Enggak yakin itu asli? Paling buah melon yang disumpal dengan bra nya" Wanita yang menggosipkan Linda itu terkikik geli. Tatapannya bertemu dengan Linda. "APA LIAT LIAT, MAU SAYA SURUH ARSEN BUAT PECAT KALIAN?"


Hening beberapa saat kemudian suara tawa memenuhi kantor itu. Baik karyawan laki laki maupun wanita mereka semua menertawakan Linda yang dengan percaya dirinya mengatakan seperti itu. Sedangkan Bos mereka saja sudah menolak. "BU, KALO MAU HALU JANGAN DISINI YA"


"IYA BU, NANTI KALAU JATUH KAN SAKIT"


"Mereka menertawakanku, aku tidak terima sayang" ucap Linda sambil menunjuk semua orang dengan jarinya. "Lalu masalahnya apa? Mulut, mulut mereka. Terserah mereka mau tertawa atau gimana"


"Hihi, tuh kan apa aku bilang. Bos tidak mungkin suka sama si lampir" bisik seseorang di belakang Linda. "Kamu kok gitu sih Sen, harusnya kamu belain aku dong sebagai calon ISTRI kamu" ucap Linda dengan menekankan kata istri pada kalimatnya.


Arsen menghela nafasnya kemudian menatap mata Linda dengan serius.


"Udah drama nya? Udah marah marahnya? Kalau udah silahkan pergi dari sini. Dan satu lagi, aku hanya memintamu untuk menjadi calon istri pura pura ku bukan sungguhan. Jadi jangan berharap lebih." Linda mencebik kesal, seberapa keras pun ia berusaha Arsen tidak akan bisa luluh dengannya.


"Tapi Sen, aku..." Arsen memanggil security dan menyuruhnya untuk mengusir Linda. Arsen tidak akan membuang waktu lagi, semuanya sudah berakhir disini. "Bawa dia keluar, jangan biarkan masuk ke dalam kantor saya lagi"


"Baik tuan" Linda meronta saat tangannya ditarik dengan kasar oleh security itu, "ARSEEENNNN KAMU TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU, AKU CINTA SAMA KAM......U" Arsen mengangkat bahunya acuh tak acuh. Satu urusan sudah selesai, kini tinggal satu hal lagi. Hal yang sangat penting baginya.


Sepulang kuliah, Arini langsung mengambil kunci mobilnya, ia memasukkan tangannya ke dalam tas. Tapi sayangnya ia tidak menemukan kunci mobilnya. Padahal tadi pagi Arini sudah memasukkannya ke dalam tas nya.   "Duh kunci mobilku mana sih?" Arini membongkar seluruh isi tasnya tapi masih belum menemukannya.


"Lo cari ini?" Arini mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara itu. Disana Langit sedang tersenyum padanya sambil menunjukkan kunci mobilnya. Langit berjalan menghampiri Arini. "Nih kunci mobil lo, tadi gue menemukannya di bawah sana" ucap Langit.


"Langit? Kok lo bisa ada disini?" Langit mengangkat sebelas alisnya. "Memangnya kenapa kalau gue disini? Ada yang salah emang?" Arini menggelengkan kepalanya lalu mengambil kunci mobil dari tangan Langit. "Maksud gue lo kan Artis, pasti sibuk. Kenapa bisa keluyuran seperti ini?"


Langit terkekeh pelan sambil mengacak rambut Arini dengan gemas. "Gue lagi gak ada jadwal syuting, paling cuma ada pemotretan sama konser minggu depan" Arini mengangguk. "Lo mau langsung pulang? Makan bareng gue yuk. Gue traktir"


"Boleh, kamu kesini pake mobil sendiri atau gimana?" tanya Arini pada Langit.


"Aku pake mobilku sendiri, kita langsung ke cafe XXX saja. Pake mobil masing masing aja biar lebih praktis, gak mungkin kan lo ninggalin mobil lo disini sementara Lo numpang di mobil gue?"


"Iya sih, ya udah. Kita langsung berangkat aja"


.


.


Arsen menghentikan mobilnya di sebuah Cafe, dia tidak bisa menunggu untuk sampai di rumah, perutnya terus berdemo meminta makanan. Dan disinilah dia, Arsen membuka pintu mobilnya kemudian turun. Arsen melepaskan Jas nya dan hanya memakai Kemejanya. Arsen menaruh jas nya di dalam mobilnya. Setelah semuanya sudah, baru Arsen masuk ke dalam cafe.


Saat Arsen masuk ke dalam Cafe, Arsen mendengar suara tawa dari seseorang yang sangat dikenalnya. Arsen melihat ke segala penjuru arah sampai akhirnya matanya melihat ke arah Arini yang sedang tertawa bersama Laki laki. Rahang Arsen mengeras, tangannya mengepal dengan kuat. Tanpa pikir panjang lagi Arsen menuju ke meja Arini.


"Arini?"


Arini menoleh dan membulatkan matanya saat melihat Arsen yang wajahnya memerah karena menahan amarah. Arini hanya bisa meneguk ludahnya, ia seperti pasangan yang ketahuan selingkuh. "Apa lagi ini ya tuhan?"