Hot Daddy

Hot Daddy
Salah



Dengan peringatan Arsen sebelumnya, hari ini Max akan pergi ke rumah Via untuk menjelaskan semuanya. Max tidak akan berfikir lagi jika dengan begini bisa memperbaiki kembali kehidupannya yang sekarang. Dengan pakaian yang rapi Max keluar dari kamarnya, dia akan menggunakan mobil terbarunya untuk pergi ke rumah Via. Max menuruni anak tangga dengan cepat saking terburu burunya tidak sadar kalau dirinya sempat menjatuhkan sesuatu. Dari dapur Arini sudah melihat semuanya, dia sendiri pun merasa heran kenapa tiba tiba saja Max pergi dengan terburu buru seperti itu. Biasanya Max adalah orang yang paling santai. Tiba tiba Arini dikejutkan dengan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Arini langsung memukul tangan itu dengan sengaja, dia sudah tahu siapa pelakunya. "Kalau mau peluk peluk bilang dulu, aku kaget mas" ucap Arini dengan nada yang sangat menyebalkan.


"Lagian kamu liatin apa sampe termenung gitu?" tanya Arsen. Baru lah setelah Arsen mengatakan itu Arini menyadari kalau Max sudah hilang dari pandangan matanya. "Uncle Max mau kemana? Tumben banget dia buru buru seperti itu? Belakangan ini dia sering aneh gitu deh Mas. Mas tau gak alasannya" Arini menoleh dan menatap wajah Arsen. Sebenarnya Arsen tahu alasannya tapi dia tidak mungkin memberi tahu Arini untuk saat ini. Karena bagaimana pun juga Arini tetap sahabatnya Via, dia pasti akan cenderung memilih Via sebagai sahabatnya.


"Aku juga tidak tahu alasannya, sudah lah kamu jangan pikirkan hal itu lebih baik sekarang kita ke kamar. Kamu harus istirahat." Arini mengangguk, dengan dipapah oleh Arsen, Arini keluar dari dapur. Arsen membantu Arini dalam segala hal terutama untuk berjalan karena Arini sering lemas dan limbung oleh sebab itu dia selalu mendampingi Arini ketika mau berjalan pada sudut tiap rumah. Pada saat Arini dan Arsen mau menaiki tangga, Arini melihat sesuatu di bawah kakinya. Arini berhenti berjalan dan akan menunduk untuk mengambil sesuatu tersebut. "Kenapa Max harus menjatuhkan hal seperti ini disini" gumam Arsen. Dengan sengaja Arsen menginjak kertas itu dengan sepatunya. "Ih Mas kok diinjek sih"


"Ini hanya kertas biasa sayang jangan dihiraukan, ayo kita naik lagi" dengan wajah cemberut Arini melanjutkan naik ke atas. Tapi sebelum itu terjadi, dia tidak sadar kalau Arsen langsung mengambil kertas yang baru saja ia lihat dan memasukkannya ke dalam saku celananya."Aku harap kamu bisa melakukan yang terbaik Max" Arsen tidak akan tinggal diam jika ada orang yang berani mengusik keluarganya, dia tidak akan pandang bulu jika orang itu sudah melakukan sesuatu yang di luar batas. Baik itu perempuan maupun laki laki kalau salah tetap salah. Itu lah prinsip Arsen.


.


.


"Hei kamu kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini" tanya Max berusaha untuk berpikiran positif. Via menggelengkan kepalanya lalu mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk melihat ke arah Max. "Ngapain Mas kesini? Apa mas belum puas melihat aku hancur seperti ini? Apa mas masih ingin menyakiti aku lagi?" DEG apa yang ditakutkan Max dan Arsen benar benar terjadi. Sepertinya Via sudah mengetahui masalah itu. "Apa maksud kamu ngomong seperti itu?" tanya Max.


Via langsung membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto yang juga dimiliki oleh Max. "Maksud mas apa ngelakuin ini? Kalau mas sudah bosen denganku bilang aja. Gak perlu ada selingkuh selingkuhan kek gini." Max mematung di tempat, dia bersumpah dalam hatinya untuk memberikan pelajaran bagi orang itu. "Kamu salah paham sayang, dengerin aku dulu" Max akan memegang tangan Via tapi Via dengan cepat menghindarinya. "Jangan pegang pegang aku lagi Mas, aku bener bener kecewa sama Mas" Via menghapus air matanya kemudian masuk ke dalam rumah dan membanting pintu di hadapan Max sendiri. Max merasa frustasi dia mengacak acak rambutnya. "Engga papa kalau kamu belum percaya saat ini, tapi apa yang kamu pikirkan itu tidak benar. Aku akan membuktikan bahwa apa yang kamu pikirkan itu salah" ucap Max untuk yang terakhir kalinya.