
Setelah sekian lama akhirnya Via, Shila dan Gabriel bisa berkumpul bersama. Mereka sudah janjian untuk bertemu di suatu tempat. Via menyetujuinya saja karena dia yakin Max pasti mengizinkannya pergi. Via sekarang bersiap siap di kamarnya. Max baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi sambil menggosokkan rambutnya yang masih basah. Kemudian dia melihat ke arah Via yang sedang merias dirinya di depan cermin. "Mau kemana?" tanya Max pada Via. Via langsung menolehkan kepalanya ke belakang kemudian menjawabnya. "Aku mau bertemu sama Shila dan Gabriel Mas, sudah lama aku tidak berkumpul bersama mereka. Dan sekarang kita sepakat untuk bertemu di suatu tempat" Max mengernyitkan keningnya untuk sesaat kemudian dia menaruh handuk kecilnya di tempatnya. "Memangnya aku sudah mengizinkanmu? Enggak kan. Lalu kenapa kamu sudah bersiap siap saja" ucap Max lagi
Via menghela nafasnya kemudian dia menyelesaikan sentuhan terakhirnya pada wajahnya. Setelah itu baru lah dia berdiri dan menghampiri suaminya. Via langsung mengalungkan tangannya di leher Max. Dia berusaha merayu Max agar mengizinkannya pergi.Tapi Max juga memasang wajah kebal. "Kamu lagi hamil harusnya istirahat di rumah bukan malah keluyuran" Max mengatakannya dengan nada tegas. "Tapi aku sudah terlanjur janji bersama mereka, ayo lah Mas. Lagian kan gak tiap hari. Cuma kali ini doang kok. Atau gini aja deh biar Mas lebih yakin Mas ikut aja" Max berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Via bersorak dalam hatinya. Memang sebenarnya dia ingin mengajak Max. Dan sekarang keinginannya terwujud. "Kamu sudah minum susu hamil kan?" tanya Max pada Via.
Via menggelengkan kepalanya. "Susunya habis aku belum sempat belanja" jawab Via. "Ya sudah habis ketemu sama teman teman kamu nanti kita belanja sekalian pakaian baru untukmu. Biar bulbul tidak terjepit dengan pakaianmu itu" Via langsung melihat ke perutnya yang semakin hari semakin membesar. Dia sendiri juga sadar kalau bajunya juga tidak terasa nyaman ketika dipakai olehnya. "Jadi boleh belanja Mas?" tanya Via dengan senyuman di wajahnya. Max mengangguk dia mengambil kartunya kemudian memberikan pada istrinya itu. "Nanti kamu pakailah yang ini, kartumu simpan saja." Via langsung mencium pipi Max berkali kali. "Ini baru suami idaman" ucap Via sambil terkekeh geli. Max hanya menggelengkan kepalanya kemudian dia berjongkok di hadapan perut Via. "Bulbul sehat sehat disana jangan nakal kayak bunda" Max mengecup perut Via dengan lembut.
.
.
Rocky terus mengecek jam tangannya. dia tidak mau terlambat memberikan makanan ini untuk Arsen. Rocky tidak jadi menggunakan mobilnya dia memilih untuk meminjam sepeda motor milik salah satu OB di perusahaan Arsen. Rocky terus mengebut sambil menenteng kantong makanannya. Dia sangat cekatan sekali dalam menggunakan sepeda motor. Beberapa menit kemudian Rocky telah tiba di kantor. Dia langsung membuka helmnya dan turun dari motor. Tak lupa juga dia mengembalikan kunci sepeda motornya pada OB yang ia pinjam sepeda motornya tadi. Rocky langsung berlarian menuju ke ruangan Arsen. Banyak orang yang menatapnya dengan aneh. Tapi Rocky tidak mempedulikannya karena yang ia pedulikan hanyalah makanan ini. Dia harus mengantar tepat waktu. "Satu menit lagi" ucap Rocky ketuka melihat jam nya. Rocky langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombolnya. Dia benar benar berharap agar tidak terlambat sedetik pun.
"Jurus mbahmu"
Seandainya Rocky bukan sekretaris yang baik pasti dia akan mendumel seperti itu. "Tadi saya pake sepeda motor pak makanya cepat" jawab Rocky. Arsen mengangguk kemudian melihat wajah Rocky yang penuh keringat. Arsen membuka lacinya kemudian mengambil amplop yang sangat tebal sekali isinya. Arsen mengambil tangan Rocky kemudian memberikannya langsung pada tangannya. "Ini, bayar operasi Adikmu dengan ini. Saya tahu kamu lagi butuh uang untuk biaya operasi adikmu" Arsen sempat mendengar pembicaraan Rocky dengan ibunya di telfon. Dan mereka sedang membicarakan biaya rumah sakit. Rocky memang punya mobil tapi dia tidak bisa menjualnya karena mobil itu bukan miliknya tapi fasilitas dari kantor untuknya selama bekerja disana.
Rocky terlihat Syok dia memandangi uang yang diberikan Arsen dengan tatapan tidak percaya. "Tapi pak ini kebanyakan"
"Kamu cukup terima saja dan lakukan yang terbaik untuk operasi Adikmu. Sisanya bisa kamu buat apa saja. Dan satu lagi kenapa saya menyuruhmu cepat dalam membelikan makanan ini karena saya tahu kamu pasti bisa. Kemampuan kamu melebihi dari karyawan lain. Saya cukup salut sama kamu.", Rocky benar benar terharu dengan kebaikan Arsen. 'Terima kasih pak" ucap Rocky sambil melihat wajah Arsen. Arsej tersenyum lalu mengangguk. "Pergi lah sekarang, Adikmu membutuhkanmu."
"Baik pak sekali lagi terima kasih"