
Arsen kembali dengan membawa satu buku yang sangat tebal. Bahkan Aiden dan Rei tidak tahu buku apa yang Arsen bawa itu. Arsen kembali duduk di tempatnya kemudian menaruh buku itu di depan Gevan. Lirikan matanya seolah olah menyuruh Gevan untuk membukanya. "Apa ini om?" tanya Gevan dengan bingung. Buku yang bergambar singa itu kini ada di tangan Gevan. Gevan membolak balikkannya karena penasaran. "Buka buku itu dan baca lah" Ucap Arsen dengan nada tegasnya. Gevan melirik ke arah Aiden dan Rei secara bergantian tapi salah satu dari mereka tidak memberinya respon. Alhasil dia membukanya sendiri. Lembaran pertama hanya kertas kosong dan tidak ada satu tulisan pun. Hal itu berlanjut sampai lembaran ke sembilan. Tapi pada saat Gevan melihat lembaran yang kesepuluh alangkah kagetnya dia ketika melihat biodata Arsen. Disitu juga terdapat banyak foto foto Arsen semasa ia masih menjadi mafia. Tangan Gevan bergetar saking terkejutnya, ekspresinya pun juga sudah mulai berubah. Aiden menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman licik. Dari awal dia sudah yakin kalau mental Gevan tidak sekuat itu. Sikap songongnya itu kini telah hilang di matanya.
"Biasa aja kali matanya, sampe mau keluar tuh" ledek Rei pada Gevan.
Arsen menyilangkan tangannya di depan dadanya sambil memperhatikan respon Gevan yang sangat terlihat menarik di matanya. Itu mengingatkan pada dirinya di masa lalu. "Kalau kamu berani mendekati Alea berarti kamu juga harus berani berhadapan dengan saya" Gevan mengangkat wajahnya dan menatap Arsen dalam beberapa detik kemudian membuka lembaran selanjutnya. Gevan langsung menutup mulutnya ketika melihat banyak foto anggota badan yang terpisah dari badannya, mulai dari kepala, tangan, paha, usus dan yang lainnya. Tidak sampai lembar terakhir dia langsung menutup bukunya begitu saja. Arsen dan Rei tertawa melihat wajah Gevan yang langsung memucat. "Dimana sifat tengil lo kemaren, baru liat gitu aja langsung pucat"
"Jadi ternyata kamu putranya Ken Alvaro, rekan bisnis saya"
Gevan mengangguk dengan sedikit ragu, membuat Aiden tersenyum senang. "Sekarang pilihan kamu ada dua mau mendekati Alea lagi tapi dengan resiko tes mental atau kamu mau jauhi Alea dengan suka rela? Pilihannya berhak kamu tentuin sekarang"
Rei langsung menoleh kepada Aiden dan mengacungkan jempolnya. Hari ini Aiden lebih banyak berbicara daripada biasanya. Tentu saja ini karena Alea, adik kesayangannya itu. "Sebenarnya gue masih pengen deketin Alea, tapi melihat keluarga ini sepertinya bukan keluarga normal. Kakek neneknya mantan kanibal, ayahnya mantan Mafia lalu Alea juga punya dua singa di sisinya. Gini amat ya jadi gue. mau mundur tapi sayang mau maju tapi ah gak tau lah pusing gue" itu hanya suara hati Gevan, tidak ada orang yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri.
.
.
Tanpa sengaja mata Alea bertatapan Aiden yang juga melihat ke arahnya. Disitu Alea merasa ada sesuatu yang terjadi disana karena Aiden tersenyum penuh arti padanya. Alea sangat mengenali senyum itu. "Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sejak tadi?"
.
.
Rocky melepas kaosnya dan hanya menggunakan boxer saja. Dia tidur terlentang di kasur sambil bermain ponsel. Kemudian Rocky membuka galerinya dan melihat lihat foto Alea. Rocky memang suka mengambil foto Alea diam diam, terakhir kali dia mendapatkan foto ketika Alea sedang menggunakan seragam sma nya.
"Bisa bisanya aku menyukai bocah seperti dia" ucap Rocky sambil tertawa. Meskipun umur Rocky yang sudah lumayan tua tapi dia masih terlihat sangat muda. Itu karena Rocky rajin melakukan gym untuk menjaga kebugaran badannya. Dia berhasil membentuk perut Six pack dalam waktu sebulan. Rocky mengambil gulingnya kemudian diletakkannya di atasnya. Dia membayangkan guling itu adalah Alea. "Seandainya Alea benar ada disini pasti lebih menyenangkan lagi" ucap Rocky.