Hot Daddy

Hot Daddy
Kamar Mandi



Arsen menanggalkan pakaiannya di kamar mandi lalu meminta Arini untuk ikut membuka semua pakaian bersamanya. Arsen tersenyum licik ketika Arini berbalik dan mengangkat Kaosnya, dengan jahilnya Arsen memeluknya dari belakang dan meremas bagian dadanya dengan kasar. "Awssshhh" Ringis Arini. Arini melempar kaosnya ke sembarang arah dan memukul tangan Arsen yang sudah nakal padanya. "Nakal banget sih Dad, sakit tahu diginiin" sungutnya.


"Nanti juga nikmat kok, buruan. Daddy tunggu kamu di sini" ucap Arsen, Arsen berbalik dan memasukkan tubuhnya ke dalam bak mandi yang cukup untuk dimasukin dua orang itu. Juniornya masih tegak, sedari tadi ia tidak mau turun dan menunggu untuk dimasukin ke dalam sarangnya. Sedangkan Arini, ia sengaja memperlama dirinya untuk membuka pakaiann agar Arsen merasa tersiksa sendiri, bahkan Arini meliuk liukkan hingga bagian dadanya ikut bergoyang. "Rasain, paati Junior Daddy makin tersiksa melihat ini"


Arsen benar benar gelisah saat Arini menurunkan celana d**amnya dan menggosokkan jarinya di bagian intimnya. Tidak berhenti sampai disitu saja, Arini juga menggigit bibirnya yang membuatnya semakin terlihat seksi dan menggairahkan sekarang. Arsen benar benar merasa kepanasan, sudah cukup. Ia sudah tidak kuat lagi. Arsen keluar dari bak mandi dan langsung membalikkan tubuh Arini. Arsen menggigit leher Arini dengan gemas dan memberinya banyak tanda berwarna merah.


"Kamu semakin nakal, Daddy akan memberimu hukuman" ucap Arsen lalu tangannya segera meremas kedua gundukan itu. Sekarang Arini benar benar dibuai oleh kenikmatan yang tiada tara, mulut Arsen dengan lihainya menjilati lehernya dengan sapuan halus kemudian kedua tangannya juga sibuk meremas dadanya dengan lembut.


Arini juga tidak mau kalah dengan Arsen, tangannya turun dan mencari keberadaan Junior Arsen, setelah menemukannya ia menggenggamnya dan meremasnya, Arini menaik turunkan jarinya pada kejantanan Arsen. Mereka berdua sama sama memberi kenikmatan, meskipun lebih dominan Arsen.


Setelah puas meremas dada Arini, Arsen langsung mendorong Arini ke wastafel. "Pegangan sayang" ucapnya pada Arini. Arini mengangguk dengan cepat tanpa pikir panjang lagi tangannya menumpu pada wastafel itu, kemudian setelah itu Arsen mengangkat paha Arini hingga batas pinggangnya. Arsen memegang kejantanannya dan mencari lubang Arini untuk dimasukinya.


Tak butuh waktu lama, kini Kejantanan Arsen sudah menancap dengan sempurna pada  bagian intim Arini itu. "Aaaahhhh Gerakkk Dadd" desah Arini saat benda panjang itu mulai menyatu dengannya. "Oke" Arsen langsung menghentakkan pinggulnya dan terus memaju mundurkan agar kejantanannya bisa keluar masuk pada lubang kenikmatan itu.  Ia sampai memejamkan matanya ketika kejantanannya terasa dijepit oleh milik Arini.


"Ahhhh Emmpssss Dad, lebih cepat lagi" ucap Arini, sumpah demi apapun juga kejantanan Arsen benar benar enak. Selain besar dan panjang ia juga bisa memuaskan Arini. Arini benar benar menyukai ketika liangnya dimasuki oleh milik Arsen. "Lihat cermin sayang, lihatlah betapa gagahnya junior Daddy masuk ke dalam milikmu." ucap Arsen sambil terus memasukkan kejantanannya pada milik Arini.


Benar saja, tak sampai lima menit tubuh Arini bergetar dengan kuat, lalu cairannya pun menetes bersamaan dengan Arsen yang langsung mencabut kejantanannya. Tubuh Arini langsung ambruk di pelukan Arsen, pelepasan kali ini benar benar hebat. Arsen tak memberinya waktu untuk membuatnya berhenti mendesah.


Arsen mendudukkan Arini di pinggir bak mandi kemudian ia berjongkok dan menghadapkan wajahnya tepat di lubang yang ia masuki tadi. Arsen menyeruput semua cairan itu sampai bersih, rasanya benar benar gurih apalagi ditambah dengan cairan kental miliknya sendiri.


Arini meremas rambut Arsen dengan kuat, ia merasa sangat geli ketika bagian intimnya dijilat dan dihisap oleh Arsen. Ia sangat menyukai sensasinya. Arsen mengangkat wajahnya lalu menangkup wajah Arini dengan tangan besarnya. "Lanjut Ronde kedua sayang?" tanyanya. "No, Arini capek. Mau tidur aja" ucapnya sambil melepas tangan Arsen dari wajahnya. Arsen menatapnya dengan kecewa padahal ia sudah menyiapkan beberapa posisi baru untuk ini. Cepat atau lambat Arsen harus membuat Arini menjadi miliknya. Yah, Arsen siap untuk menikahi Arini.


Tapi masalahnya adalah bagaimana cara Arsen mengatakan masalah itu kepada kedua orang tuanya yang juga menjadi nenek kakek dari Arini. Entah bagaimana reaksi mereka nanti saat cucu yang mereka rawat selama ini akan menjadi menantunya. Memikirkannya saja membuatnya pusing.


Max menunggu Via di mobilnya, sudah beberapa menit sejak ia sampai disitu tapi Via masih belum keluar juga. Saat Max akan turun dari mobil, Via sudah keluar dengan gaun berwarna biru cerah selutut, rambutnya dibuat sedikit bergelombang sehingga aura kecantikannya membuat Max terpesona. Max tidak pernah melihat Via berpakaian seperti ini, karena biasanya Via hanya menggunakan celana panjang dan kaos ketika bersamanya. Via berjalan menghampiri Max dan melemparkan senyum termanisnya.


"Aku udah siap, Yuk Mas" ucapnya sambil menatap wajah Max. Max tersenyum lalu mengangguk, ia membukakan pintu mobil untuk Via sehingga Via bisa langaung duduk di dalamnya. "Terima kasih Mas" ucap Via. "Iya sayang" setelah memastikan Via sudah mengenakan sabuk pengaman baru Max masuk ke dalam mobilnya. "Kita mau kemana Mas?" tanya Via dengan penasaran, karena Max juga tidak mengatakan kemana mereka akan pergi malam ini.


"Nanti kamu pasti tahu kok, yang penting tempat itu spesial buat kamu malam ini" Ucap Max sambil menoleh ke arahnya. Via tersentuh mendengar perkataan Max, padahal ia saja belum jatuh cinta pada pria itu tapi Max benar benar memperlakukannya dengan istimewa. Semoga saja Via bisa secepatnya membalas perasaan Max.